SeputarMalang.Com – Seorang lelaki setengah baya berjaket Go-Jek, duduk sendirian termenung. Menikmati segelas air putih di sebuah warung kopi. Memandangi HP dengan mata cekung kemerahan. Akibat lelah. Atau mungkin sedang menahan air mata. Kulihat jam hampir tengah malam. Kudekati, lalu kusapa. Sambil memesan segelas kopi, aku tawarkan juga segelas kopi kepadanya. Dekat dengannya, aku bisa merasakan hawa panas tubuhnya karena lapar. Aku tawarkan sebungkus nasi, yang juga dijual di warung kopi itu. Tatapannya menusuk batinku. Sambil mengucapkan terima kasih, dia langsung menyambar nasi bungkus yang aku tawarkan. Setelah melahapnya, kami berbicara. Dia bercerita sedang memeluk derita takdir hidupnya. Dia dituduh anak perempuannya sebagai pembohong karena sudah berjanji akan membelikan anaknya HP.
Sudah dua minggu, tak kunjung jua bisa mengumpulkan uang untuk membelikan anaknya HP. Sudah seminggu dia tidak pulang karena takut dimarahi anak perempuannya. Istrinya lari meninggalkan dirinya bersama lelaki lain. Dan lelaki itu adalah kakak kandungnya sendiri.
Pada akhirnya, dia memeluk takdirnya dengan penuh cinta kasih.
***
Seorang perempuan lanjut usia, duduk termenung menghadap sayuran dagangannya. Rutinitasnya mulai tengah malam tadi, hingga hari menjelang terik. Matahari mulai mengintip pasar kumuh itu, saat kudekati dirinya. Sudut trotoar di tikungan jalan pasar kumuh itu, hampir-hampir menjadi tempat tinggalnya. Sudah hampir tiga minggu ini aku mengamatinya. Entahlah, seperti ada sesuatu yang ganjil, gaib dan misterius pada diri perempuan tua tersebut. Keriput wajahnya tampak jelas. Putih rambutnya penuh. Disembunyikan dalam ikatan kerudung kain kumal seadanya.
Setelah berbasa-basi sejenak, akhirnya tumpahlah segala penderitaan hidup yang ditanggungnya seumur hidup. Dia membunuh suaminya yang dipergokinya sedang bersetubuh dengan adiknya sendiri. Akhirnya, dia menghabiskan 37 tahun hidupnya di dalam penjara perempuan.
Saat dalam masa tahanan, dia tidak sempat melihat anaknya lelaki satu-satunya yang saat itu masih berumur 6 tahun tumbuh menjadi dewasa. Anak lelakinya itu tidak mau mengunjungi dirinya di penjara. Hingga 15 tahun sejak pertama kali masuk penjara, dirinya mendapatkan kabar bahwa anak lelakinya itu mati dalam keadaan mabuk karena dibunuh oleh pacarnya yang ternyata adalah seorang pelacur.
Pada akhirnya, dia memeluk takdirnya dengan penuh cinta kasih.
***

Namanya Lukman. Teman kuliahku. Aku sering menyebutnya Lucky Man (Lelaki Beruntung). Karena dirinya memang seperti selalu mendapatkan keberuntungan. Hidupnya lurus. Rajin beribadah. Dermawan. Setia kawan. Suka membantu dan menolong orang yang membutuhkan. Hingga dia berkeluarga. Istrinya cantik. Darinya, Lucky Man punya tiga orang anak. Dua perempuan dan satu laki-laki. Istrinya pegawai negeri. Karirnya bagus. Hingga bisa menjadi kepala dinas. Meskipun sudah sangat jarang bertemu, tapi masih beberapa kali berkirim kabar. Lucky Man seorang pengusaha propertI. Sering berkabar dirinya sedang trip keluar negeri bersama keluarga. Juga umroh beberapa kali bersama keluarga. Aku ikut bahagia. Respek atas keberhasilan dan kesuksesannya.
Dua hari yang lalu, dia menelponku. Mengajak bertemu di sebuh café di Kota Malang. Padahal, rumahnya saat ini ada di Semarang. Aku iyakan saja ajakannya. Akhirnya, kita berdua bertemudi café tersebut. Saat pertama kali bertemua, aku kaget. Daya hidupnya redup. Semangatnya hampir padam. Setelah ngobrol sejenak, akhirnya dia curhat menumpahkan penderitaan hidupnya. Betapa berantakannya hidupnya hanya dalam tempo tidak ada satu bulan.
Dimulai dari istrinya yang tertangkap sedang pesta narkoba di sebuah hotel bersama seorang perwira polisi. Hingga istrinya dikaitkan dengan jaringan mafia narkoba nasional yang sedang diburu. Menyusul kemudian nestapa dukacita karena salah satu anak perempuannya meninggal dunia akibat kecelakaan kendaraan bermotor saat dibonceng oleh adik lelakinya. Hal itu terjadi berselang hanya dua hari setelah istrinya tertangkap sedang pesta narkoba di sebuh hotel bersama seorang perwira polisi.
Kami mengobrol hingga waktu menjelang Subuh. Pada akhirnya, dia memeluk takdirnya dengan penuh cinta kasih.
***
Namanya Astutik. Teman dari temanku. Seorang guru honorer di Sekolah Dasar. Pagi hari sampai menjelang siang, dia mengajar siswa kelas 4 dan 6 SD. Menjelang sore hari, dia berjualan ayam potong di depan sudut sebuah gang perkampungan dekat jalan raya. Bersama suaminya, dia tinggal di kontrakan sebuah rumah petak di dalam gang sempit perkampungan. Astutik dan suaminya adalah orang yang baik hati. Mereka berdua cocok, suka humor, menyennagkan dan ramah. Banyak orang yang menyukai mereka berdua. Ringan tangan dan peduli lingkungan. Sepertinya, mereka berdua juga taat beribadah.
Sore itu, seperti biasanya. Astutik dan suaminya menggelar dagangannya ayam potong. Mendadak sebuah mobil Fortuner warna hitam melaju kencang langsung menabrak tempatnya berdagang. Astutik dan suaminya menjadi korban. Keduanya terluka sangat parah. Astutik yang sedang 8 bulan mengandung anaknya, tubuhnya bermandikan darah dan tak sadarkan diri. Suaminya mengerang kesakitan, lukanya sangat parah. Hingga kakinya putus terpotong di atas lututnya. Keduanya bernafas memburu oksigen. Darah mengalir deras dan berceceran dari keduanya.
Hingga pertolongan ambulance datang. Mereka berdua dibawa ke rumah sakit terdekat.
Astutik kehilangan anaknya yang sedang dalam kandungan. Harus dioperasi bedah. Kedua lengan tangannya harus diamputasi. Suaminya kehilangan kaki kanannya. Kaki kirinya patah dan dioperasi. Begitu juga bahu kanannya patah dan harus dioperasi. Sedangkan sopir mobil Fortuner yang menabrak mereka berdua, ternyata adalah seorang perempuan “Ani-Ani” dari pejabat Kejaksaan Negeri. Kasusnya berbelit-belit, hingga akhirnya menguap tak tentu rimbanya.
Pada akhirnya, Astutik dan suaminya memeluk takdirnya dengan penuh cinta kasih.
***
Semoga semua makhluk berbahagia dan penuh cinta kasih, meskipun sedang memeluk atau dipeluk oleh penderitaan hidup yang paling kejam dan bengis sekalipun.
Padepokan Jagad Gumelar || 13 Oktober 2026 / 01.01 WIB










