Malang, SeputarMalang.com – Para relawan pendamping pekerja migran yang pernah tergabung dalam Komunitas Relawan Pekerja Migran Indonesia (Kawan PMI) Malang Raya menghadiri Diskusi Riset tentang Keluarga Migran Indonesia dan Program Pemberdayaan pada Sabtu (14/02/2026) di Universitas Brawijaya. Riset ini dikepalai oleh Shen Xin, dosen dan peneliti dari Institute of Political Science and National Governance, Central China Normal University, Wuhan, China.
Dalam undangannya kepada relawan pekerja migran, Shen Xin mengatakan bahwa sesi ini bertujuan untuk memfasilitasi diskusi mendalam mengenai pengalaman, tantangan, dan perspektif pekerja migran Indonesia beserta keluarganya, dengan fokus khusus pada program pemberdayaan berbasis komunitas di Indonesia.

Yin Kaijun yang mendampingi Shen Xin memimpin diskusi dengan memberikan pertanyaan kepada masing-masing relawan yang hadir. Pria yang sudah fasih berbahasa Indonesia ini mendalami peran masing-masing relawan dalam kaitannya dengan pelindungan dan pemberdayaan pekerja migran di Malang Raya.
Abu Hanifah sebagai mantan Ketua Kawan PMI Malang Raya menyampaikan bahwa pemberdayaan purna PMI dan keluarga PMI dalam bidang ekonomi saat ini mayoritas masih mengandalkan pribadi masing-masing pelaku.
“Tergantung dari orangnya masing-masing. Beberapa ada yang membuka usaha atau aktivitas ekonomi. Kalau PMI masih di luar negeri, biasanya dikelola keluarga. Dananya dikirim. Namun memang ada yang berhasil dan ada yang tidak. Biasanya yang tidak berhasil usahanya, akan kembali lagi ke luar negeri,” ujarnya. “Kalau dari pemerintah saat ini bantuan pemberdayaan yang dikhususkan untuk pekerja migran masih sangat terbatas. Padahal pekerja migran Indonesia ini memberikan kontribusi yang sangat besar untuk devisa,” sambungnya lagi.

Sucipto yang merupakan mantan pengurus Kawan PMI Jawa Timur menambahkan bahwa permasalahan pekerja migran itu sangat rumit dan kompleks. Mulai saat persiapan, keberangkatan, hingga kembali ke tanah air.
Sucipto menjelaskan, “Hingga saat ini permasalahan pekerja migran atau buruh migran Indonesia masih sangat banyak. Khususnya bagi pekerja nonformal. Masalah itu ada saat di dalam negeri hingga luar negeri. Kawan PMI sebagai komunitas bentukan pemerintah hanya bisa membantu pekerja migran untuk masalah di dalam negeri. Itu pun dalam kapasitas yang terbatas, di mana maksimal hanya bisa melaporkan jika terjadi kasus. Karena itu kami juga bergerak dalam naungan organisasi LSM agar lebih bebas membantu kawan-kawan pekerja migran kita.”
“Kami sering mendapatkan informasi permasalahan yang melanda pekerja migran ini dari grup-grup WhatsApp, media sosial, dan laporan teman-teman PMI yang ada di luar negeri. Dalam penanganan kasus yang menimpa PMI kita, kami juga sering bekerja sama dengan organisasi relawan lainnya,” ungkap pria yang juga merupakan pengurus organisasi Pertakina ini.
Selain Abu Hanifah dan Sucipto, relawan yang hadir dalam diskusi kali ini adalah Budi Susilo, Agus Wibowo, dan Ninon Marlina. Diskusi berlangsung hangat sembari menikmati produk olahan kopi yang dibawa tim relawan sebagai salah satu contoh produk hasil pendampingan pemberdayaan UMKM pekerja migran.
Relasi antara pihak peneliti Central China Normal University dan relawan pekerja migran ini tidak bisa dilepaskan dari peran Ayu Kusumastuti, dosen Sosiologi Universitas Brawijaya yang ikut mendampingi tim peneliti selama berada di Kota Malang. Ayu menjadi penghubung bagi tim peneliti dan relawan, dan juga menyediakan lokasi diskusi di gedung A, lantai 3, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen Sosiologi, Universitas Brawijaya.
Meski Kawan PMI di seluruh Indonesia sudah tidak dilanjutkan masa tugasnya, namun banyak dari relawan bekas Kawan PMI yang masih membantu permasalahan yang dialami oleh pekerja migran Indonesia. Hal ini didasarkan atas kepedulian terhadap sesama meski harus dilaksanakan dengan kemampuan seadanya dan dana swadaya. Relawan berharap pemerintah dapat terus meningkatkan kepedulian terhadap permasalahan yang dihadapi pekerja migran Indonesia dan juga menambah program-program pemberdayaan ekonomi bagi purna dan keluarga PMI.










