SeputarMalang.Com – Si Juhan adalah nama Maskot Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Nama Si Juhan adalah akronim dari Si Jurnalis Handal. Yang diwujudkan dengan Ikon Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) berpakaian tradisional masyarakat Baduy. Dengan membawa Pena, Buku Catatan dan Tas Koja. Mengenakan ikat kepala (Lomar/ Udeng) khas Baduy sebagai simbol penghormatan kepada akar tradisional, nilai-nilai keluhuran dan integritas moralitas yang dijunjung setinggi-tingginya (kepala).
Pemilihan Ikon Badak Jawa ini tentu sangat menarik untuk kita renungkan bersama. Badak Jawa adalah hewan endemik yang sangat dilindungi. Sangat langka keberadaannya. Bahkan hampir punah. Populasi aslinya di Ujung Kulon sangat langka. Berbagai upaya pelestarian dan perkembang biakannya, terus dilakukan. Itulah kenapa Badak Jawa menjadi simbol dari ketangguhan dan ketahanan survival kehidupan. Si Juhan ini hampir sama dengan Badak Jawa. Sama-sama langka. Sama-sama hampir punah. Termasuk sama-sama tangguh. Dan sama-sama mempunyai ketahanan survival kehidupan yang tinggi.

Si Juhan (Si Jurnalis Handal) saat ini sudah sangat langka? Kenapa? Pasti kita semuanya dengan mudah menemukan jawabannya. Bahkan orang-orang yang berprofesi di luar jurnalistik pun, pasti dengan mudah menemukan jawabannya. Saya jadi teringat seorang kawan yang berprofesi sebagai Pengacara di Kota Malang, yang pernah mengatakan, “Jurnalis Handal hampir punah karena selalu kalah dengan Parsel Lebaran.” Memang agak satir realitanya. Benarkah demikian? Ah, kita sama-sama tahulah. Tidak perlu dituliskan dengan sejelas-jelasnya.
Seorang Jurnalis Handal, sudah pasti mempunyai daya nalar yang kritis, obyektif dan profesional. Termasuk mempunyai kemampuan untuk menerima kritikan dari siapapun. Serta berani melakukan otokritik yang keras terhadap dirinya sendiri. Jadi, tidak akan berpikir reaksioner. Juga tidak bertindak gegabah. Hingga berani menguji pemikiran dan kesimpulannya sendiri. Serta selalu berani berpihak kepada kebenaran, dan membela siapapun yang tertindas. Agar benar-benar mampu menjadi seorang Jurnalis Handal (Si Juhan). Idealisme, hati nurani dan jiwanya tidak akan pernah diperjual belikan demi “Parsel Lebaran”.
Lebih dalam lagi menghayati, Si Juhan ini mengenakan pakaian adat masyarakat Baduy. Lengkap dengan seluruh “Pusaka” keluhurannya. Yaitu Lomar/ Udeng (Ikat Kepala) dan Tas Koja. Sebuah Pusaka yang berwujud Ikat Kepala (Lomar/ Udeng), bagi seluruh suku-suku yang ada di penjuru Nusantara, bahkan seluruh wilayah Asia Raya, merupakan simbol keluhuran dan kemuliaan yang dijunjung setinggi-tingginya. Yang diletakkan di atas kepala. Ikat Kepala tersebut simbol penyertaan nilai-nilai keluhuran dan kemuliaan hidup, yang selalu diwariskan dari generasi ke generasi sepanjang jaman. Pada saat tertentu, Ikat Kepala bagi suku-suku di seluruh Asia Raya, merupakan pakaian wajib untuk menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa dan Mendoakan seluruh arwah para tetua serta leluhur yang terdahulu.
Si Juhan yang mengenakan Ikat Kepala/ Lomar Baduy, sesungguhnya menjadi perwujudan perilaku sehari-sehari yang wajib bagi seorang Jurnalis Handal. Bahwa setiap perilaku, perkataan, pemikiran dan perbuatannya sehari-hari, wajib menjungjung tinggi nilai-nilai keluhuran dan kemuliaan hidup. Wajib menyembah dan tunduk kepada Hukum Tuhan Yang Maha Kuasa. Sehingga, Si Juhan tidak boleh berperilaku yang menyimpang dari ajaran-ajaran keluhuran dan nilai-nilai kemuliaan hidup. Tidak boleh melanggar Hukum Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka, setiap Si Juhan ini mulai tergoda oleh Tantangan Parsel Lebaran, dia harus segera sadar bahwa dirinya sedang mengenakan Ikat Kepala (Lomar/ Udeng), yang juga menjadi simbol pengendalian pola pikir. Siapapun yang berhasil mengendalikan pola pikirnya, maka sesungguhnya dia akan selalu menjauhi ketersesatan dalam bertindak dan berperilaku.
Pakaian tradisional masyarakat Baduy yang dikenakan oleh Si Juhan, adalah simbol kesederhanaan. Sikap hidup yang bersahaja. Bukan hanya sekedar kepura-puraan menjadi biasa, hanya untuk pencitraan atau menutupi niat jahat. Si Juhan memang harus apa adanya. Tidak berlebihan, tetapi juga tidak merendahkan diri sendiri. Pakaian ini tidak mempunyai banyak kantong/ saku. Tetapi dilengkapi dengan Tas Koja. Yang merupakan simbol wadah untuk menampung kebutuhan secukupnya. Tidak membawa apapun berlebihan. Termasuk tidak menumpuk-numpuk berbagai hal yang tidak dibutuhkan. Membawa segala sesuatu sesuatu kebutuhan secukupnya. Termasuk tidak perlu menumpuk-numpuk harta benda apapun. Juga tidak perlu menumpuk-numpuk Parsel Lebaran. Kalaupun butuh, terima saja Parsel Lebaran secukupnya kebutuhan. Tidak perlu berlebihan.
Yang paling utama, tentu Si Juhan WAJIB membawa Pena dan Buku Catatan. Ini adalah senjata utama bagi Si Juhan. Pena bisa lebih tajam dari Pedang. Bahkan, hasil tulisan dari sebuah Pena, bisa lebih berbahaya daripada Peluru. Karena sebuah tulisan yang terlahir dari Pena Si Juhan, bisa menembus jutaan kepala manusia yang membaca tulisannya. Sebuah Buku yang dibawa oleh Si Juhan, bisa menjadi Perisai Sakti bagi Si Juhan. Juga bisa menjadi Gudang Amunisi berupa coretan-coretan tulisan yang berisi Ide, Gagasan, Pemikiran, Data, Analisa dan lain-lainnya. Bahkan dengan Pena dan Buku, yang sudah berisi karya tulis dari Si Juhan, bisa membuat namanya abadi sepanjang jaman. Verba Volent, Scripta Manent.
Hari Pers Nasional (HPN) 2026 ini memang harus kita rayakan semeriah-meriahnya. Apalagi Tema Utamanya adalah Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat. Maka, dengan merayakannya bersama semeriah-meriahnya, semoga bisa benar-benar menjadi doa bersama, agar terwujud Pers yang benar-benar Sehat, Ekonomi yang benar-benar Berdaulat dan Bangsa Indonesia yang benar-benar Kuat. Termasuk kuat dari Godaan Parsel Lebaran yang berlebih-lebihan diterimanya.
Bersatulah Si Juhan!
Panjang Umur Si Juhan!
Hidup Mulia atau Mati Syahid.
Yakin Usaha Sampai.
Selamat Merayakan Hari Pers Nasional 2026 bersama Si Juhan







