Mbrujul adalah kerja petani untuk ngluku sawah atau membajak sawah. Biasanya dengan menggunakan alat Luku atau Bajak, yang ditarik oleh kerbau atau sapi. Ada juga yang menggunakan banteng, atau bahkan menggunakan mesin traktor bajak sawah. Seorang kawan pengagum Abu Nawas secara humoris pernah mengatakan bahwa saat ini di Kota Malang yang ada hanyalah Kerbau dan Banteng. Semua sapinya sudah menjadi sapi perahan, yang dilindungi oleh para penguasanya. Meskipun ada mesin traktor bajak sawah, tetapi entah kenapa tidak ada yang mau menggunakannya untuk Mbrujul Sawah (Kota Malang). Belum mau menjadi Smart City pada kenyataannya. Jadi, Smart City ternyata hanyalah slogan pepesan kosong belaka.
Kota Malang ibarat sawah, yang saat ini sebenarnya sudah harus mulai di-brujul. Tanahnya sudah penuh gulma, ilalang dan rusak parah. Tandus dan bero. Juga sudah jenuh karena terlalu banyak diguyur pupuk kimia dan zat beracun. Tercemar. Gersang di musim kemarau, mlotrok becek di musim hujan. Bahkan bisa banjir bandang seketika. Lantas, siapa yang mau bekerja untuk mengolah dan mem-brujul-nya? Siapa yang harus berjuang dan berkorban untuk kembali membuatnya menjadi subur dan loh jinawi? Ah, Kerbau dan Banteng masih asyik di kandangnya sendiri. Sementara Burung Garuda masih bingung mencerna situasi dan kondisi. Sedangkan Gajah, masih duduk menikmati suasana entah apa. Bagaimana dengan yang lainnya? Rupanya, masih sibuk dengan urusan internal problematika rumah tangga masing-masing.

Jika secara filosofis kita memandang Kota Malang sebagai Sawah, lalu dengan pandangan spiritual kita memahami bahwa Mbrujul adalah Laku Spiritual untuk melakukan Dharma Bhakti, maka kita bisa memetik beberapa hikmah perihal Mbrujul Kota Malang. Yang pertama, Mbrujul Kota Malang berarti harus meluruskan Niat untuk mempersiapkan pembangunan masa depan. Bukankah segala sesuatu wajib dimulai dari niat? Maka, dengan meluruskan Niat, kita juga harus juga mempersiapkan bibit apa yang akan ditanam di Sawah (Kota Malang). Apakah bibit yang akan berbuah kebaikan dan manfaat sebesar-besarnya untuk masyarakat seluas-luasnya? Ataukah bibit yang berbuah untuk kepentingan diri sendiri dan mendatangkan petaka bagi masyarakat luas? Langkah pertama ini sangat penting untuk direnungkan sedalam-dalamnya.
Kedua, Mbrujul Kota Malang juga berarti kita sedang menggali berbagai potensi yang sudah ada saat ini, maupun yang akan datang kemudian hari di masa depan (proyeksi). Untuk bisa menggali potensi yang paling bermanfaat, tentu sangat dibutuhkan kedalaman berpikir, ketelitian dan pandangan yang benar-benar jernih. Jeli dan adil seadil-adilnya. Jujur dan obyektif. Bebas dari kepentingan individu maupun kelompok tertentu. Prioritasnya wajib mengutamakan kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Kota Malang. Jelas berpihak pada kepentingan dan hajat hidup seluruh warga Kota Malang.
Ketiga, Mbrujul Sawah (Kota Malang) tentu sangat membutuhkan kesetiaan pada setiap prosesnya. Tidak ada jalan pintas. Semuanya sangat membutuhkan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Di dalamnya sangat dibutuhkan ketekunan, keteguhan dan kesabaran. Bersungguh-sungguh dalam setiap ikhtiar yang dikerjakan. Serta tulus ikhlas dalam setiap doa yang dipanjatkan. Mbrujul Sawah (Kota Malang) sangat membutuhkan konsistensi, komitmen dan dedikasi yang tinggi. Sudah tidak bisa lagi dilakukan secara sembrono dan serampangan. Tidak boleh ada lagi saling tindas dan saling trabas. Maka, setiap upaya untuk menerabas, menindas dan membangun jalan pintas, bisa dimaknai sebagai upaya ketidaksetiaan pada proses Mbrujul Sawah. Oleh karena itu, wajib dihukum dengan seberat-beratnya. Agar tidak lagi menjadi perusak dan penghancur masa depan Sawah (Kota Malang).
Keempat, Mbrujul Sawah juga harus disertai upaya Membaca Pertanda. Terutama dalam rangka harmonisasi dengan alam semesta. Sawah (Kota Malang) ini menjadi satu bagian kecil dari keseluruhan alam semesta. Maka, harus tetap dijaga harmonisasinya. Karena tidak akan pernah lepas dari Hukum Alam Semesta. Hukum Tabur Tuai. Dan hukum-hukum keluhuran alam semesta lainnya. Karena manusia dan Sawah, beserta semua isinya, niscaya menjadi satu kesatuan dengan keseluruhan alam semesta. Tidak akan mewujud tanpa hukum sebab akibat. Oleh karena itu, dalam Laku Kerja Mbrujul Sawah, juga harus disertai dengan upaya belajar membaca Pertanda Alam Semesta. Membaca musim, angin, iklim, cuaca, pergantian siklus hidup, ritme kehidupan, dan lain-lainnya. Semuanya itu semakin membuktikan bahwa Mbrujul Sawah bukan hanya sekedar aktivitas olah fisik semata-semata. Tetapi juga merupakan Laku Spiritual, yang bisa menjadi aktivitas olah batin dan olah jiwa. Menajamkan Nurani, Menyuburkan Empati.
Kelima, Mbrujul Sawah (Kota Malang) ketika diawali dengan meluruskan Niat, juga harus dibarengi dengan keyakinan bahwa akan tiba masanya untuk Panen. Dengan Niat Lurus serta keyakinan akan tiba masa Panen, maka seluruh energi dan semangat yang digunakan akan tercurah dengan sebaik-baiknya. Selalu memilih untuk menanam Bibit Unggul yang berbuah kebaikan dan manfaat bagi masyarakat seluas-luasnya. Menjaga kesetiaan pada setiap proses dengan ketulusan, ketekunan dan kesabaran. Serta senantiasa menjaga sikap, perilaku, perkataan dan tindakan apa pun, demi untuk menjaga Hasil Panen yang sebaik-baiknya bagi semuanya. Hingga pada akhirnya, ketika Hasil Panen telah tiba, menerimanya dengan penuh rasa syukur dan tawakal. Bahkan, meskipun ketika ternyata Hasil Panen tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tetap dipenuhi Rasa Syukur dan Tawakal.
Jadi, kapan kita bisa mulai Mbrujul Sawah (Kota Malang)?
Menunggu apa? Menanti siapa?
Wahyu Eko Setiawan/ Sam WES
Pegiat Sekolah Budaya Tunggulwulung








