Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
No Result
View All Result
Home Opini

Spiritualitas Jawa, Idul Kurban, dan Tradisi Sufistik

Abdillah by Abdillah
26 Mei 2026
A A
0
Puasa sebagai Aktivasi Nyawiji
0
SHARES
57
VIEWS
Bagi di WhatsappBagi di Facebook

SeputarMalang.Com – Penyembelihan hewan menjadi ritual yang senantiasa hadir dalam merayakan Idul Adha. Ini tidak lepas dari penamaan ‘Id al-Adha, secara harfiah berarti “Hari Raya Penyembelihan Hewan Kurban”.

Penamaan lainnya, ‘Id al-Fida’, “Hari Raya Penebusan/Pengorbanan”, merujuk pada kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Karenanya populer juga dengan sebutan Idul Kurban.

Dari kisah tersebut, ada momentum spiritual untuk membaca kembali hubungan manusia dengan Allah, sesama, dan dirinya sendiri. Sehingga Idul Kurban tidak berhenti pada dimensi syariat, tetapi juga menyentuh wilayah batin.

Ihwal wilayah batin yang dimaksud adalah tentang laku pengorbanan, pengendalian diri, serta upaya mengendalikan hawa nafsu demi mencapai kemuliaan jiwa.

Dalam spiritualitas Jawa dikenal konsep “lelaku” atau perjalanan batin. Manusia dipandang tidak cukup hanya menjalankan ritual lahiriah, tetapi juga harus menempuh jalan penyucian batin. Karenanya, Idul Kurban dalam perspektif spiritualitas Jawa bukan semata menyembelih hewan, melainkan juga “menyembelih” sifat tamak, angkara, kesombongan, dan egoisme yang bersemayam dalam diri manusia.

Sungguh menarik, jalan spiritual jawa sesungguhnya telah diwariskan secara sangat cerdas oleh para Wali Songo. Alm. Agus Sunyoto dalam buku Atlas Wali Songo menjelaskan bahwa para wali menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya dan spiritualitas yang halus, tanpa merusak tradisi masyarakat Nusantara (Jawa). Mereka “tidak mengusik agama dan kepercayaan mereka, tapi memperkuatnya dengan cara yang islami.”

Di titik inilah, Idul Kurban menemukan relevansinya dengan ajaran tasawuf yang diwariskan para ulama Nusantara. Yang banyak terinsersi kitab Al-Hikam, mahakarya di bidang tasawuf karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari.

Kitab tersebut tidak hanya dibaca sebagai teks keagamaan, tetapi juga menjadi panduan pembentukan jiwa sufi yang mengajarkan keikhlasan, tawakal, dan kesadaran bahwa manusia sejatinya hanyalah hamba.

Tradisi Sufistik

Legasi tradisi Nusantara, Idul Kurban berasimilasi dan berkembang menjadi ruang sosial dan spiritual sekaligus. Ada tradisi berbagi, grebeg. kenduri, hingga gotong royong yang memperlihatkan bahwa kurban bukan hanya hubungan vertikal kepada Allah, tetapi juga implementasi solidaritas horizontal kepada sesama manusia. Nilai inilah yang sebenarnya menjadi inti ajaran tasawuf, tradisi sufistik. Senatiasa mendekat kepada Allah dengan memuliakan manusia dan makhluk lainnya.

Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa amal bukan terletak pada banyaknya tindakan, tetapi pada kualitas kehadiran hati kepada Allah.

Sungguh, subtantsi pesan profetik ini sangat kontekstual dengan Idul Kurban. Sebab di tengah modernitas dan era gadget, kurban sering kali terjebak dalam simbol sosial dan pencitraan semata. Nilai spiritualnya perlahan memudar oleh budaya seremonial dan konsumsi audio-visual media sosial.

Padahal, dalam tradisi sufistik, kurban justru mengajarkan “penghilangan diri.” Semakin seseorang dekat kepada Allah, semakin kecil egonya. Spiritualitas Jawa mengenalnya dengan istilah andhap asor, rendah hati, tidak menonjolkan diri. Dalam konteks ini, Idul Kurban bukan panggung untuk menunjukkan kemampuan memberi, tetapi ruang sunyi untuk melatih keikhlasan dan empati sosial.

Kitab Al-Hikam mengajarkan bahwa tanda hati yang hidup adalah tumbuhnya kasih sayang dan hilangnya keangkuhan. Maka seseorang yang rajin beribadah tetapi masih merendahkan orang lain, sejatinya belum selesai dengan perjalanan spiritualnya.

Dus, dalam konteks Idul Kurban sejatinya pengorbanan terbesar justru sering kali bukan harta, melainkan ego diri sendiri.

Hidup di zaman ketika manusia mudah merasa paling benar, paling saleh, dan paling suci. Media sosial memperlihatkan bagaimana agama sering dipakai untuk kompetisi moral dan penghakiman publik. Di tengah situasi seperti ini, tradisi sufistik menawarkan jalan teduh.

Yaitu,  menepi sejenak untuk mengolah batin, dan belajar memahami hidup dengan penuh kebijaksanaan.

Idul Kurban akhirnya mengajarkan satu hal penting. Manusia yang besar bukanlah manusia yang banyak memiliki, tetapi manusia yang mampu melepaskan. Kisah Nabi Ibrahim menjadi teladan karena mampu mengorbankan apa yang paling dicintainya demi ketaatan kepada Allah. Dalam bahasa spiritual Jawa, itulah bentuk “menang tanpa ngasorake”, menang melawan diri sendiri tanpa merendahkan orang lain.

Karena itu, Idul Kurban semestinya tidak hanya dirayakan di masjid dan lapangan, tetapi juga di dalam batin manusia. Sebab hewan kurban hanya disembelih sekali dalam setahun, sementara hawa nafsu harus terus dikendalikan sepanjang hidup.

Sebagai penutup, refleksi Idul Kurban dalam spiritualitas Jawa mengajarkan bahwa lelaku perjalanan menuju Tuhan bukan hanya soal ritual lahiriah, tetapi juga perjuangan menaklukkan ego dan membersihkan hati.

Jalan inilah yang diwariskan para wali dan para sufi sebagai tradisi sufistik yang menghadirkan agama sebagai sumber kasih sayang, keteduhan, dan kebijaksanaan hidup. Dalam tradisi tasawuf, pengorbanan sejati bukan hanya memberi apa yang dimiliki, tetapi melepaskan keterikatan diri dari kesombongan dan hawa nafsu.

Imam Abu Hasan Asy-Syadzili pernah berpesan, “Janganlah langkahmu tertunda karena dosa-dosamu, sebab bisa jadi satu penyesalan yang tulus lebih dekat kepada Allah daripada banyak amal yang membuatmu sombong.”

Dan Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa Idul Kurban sejatinya bukan tentang siapa yang paling banyak berkurban, melainkan siapa yang paling ikhlas membersihkan batinnya di hadapan Allah. Akhirnya, Wallahu a’lam bish-shawab.

Tags: Idul AdhangopiniOpiniOpini MalangSpiritualitasSufistik
SendShareShare
Abdillah

Abdillah

Tinggal di Lereng Gunung Kawi Malang, penikmat kopi pahit. Aktivitas sehari-hari sebagai Dosen Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang. Motto Hidup: Urip kudu urup!

Related Posts

Dok. SMCPro
Opini

Menyoal Bisnis Militer dan Supremasi Sipil

by Abdillah
5 Oktober 2026
118
Dok. SMC Pro
Jatim

Malang Raya Megapolitan: Dari Fragmentasi Menuju Integrasi Kawasan

by Kontributor
4 Agustus 2026
57
Gagasan Malang Raya Megapolitan, dari Ego Wilayah Menuju Tata Kelola Kolaboratif
Opini

Gagasan Malang Raya Megapolitan, dari Ego Wilayah Menuju Tata Kelola Kolaboratif

by Abdillah
23 Juli 2026
61
Dok. Tim SeputarMalang
Opini

Final Antiklimaks – One Way Traffic

by Kontributor
20 Juli 2026
68
Leadership
Opini

Hijrah sebagai Perjalanan Spiritualitas dan Perubahan Sosial

by Abdillah
16 Juni 2026
155

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Dok. SMCPro

Menyoal Bisnis Militer dan Supremasi Sipil

5 Oktober 2026
118
Dok. Bagana Banser Kab. Malang, Jawa Timur

Krisis Air Bersih, BAGANA Banser Kabupaten Malang Bantu Warga Desa Sidodadi

3 Oktober 2026
23
Dok. SMC Pro

IPHI Kota Malang Punya 27 Profesor, Apa Gebrakan Pengurus Barunya?

24 September 2026
151
Seremonial Penutupan KKN-T 2026, Asta Pesona Desanesia

Penutupan KKN-T 2026 Unira Malang Hadirkan Festival Film Dokumenter Desa

2 September 2026
54
Dok. SMC Pro

Bakorwil Malang Dorong Aksi Konvergensi untuk Perangi Stunting dari Hulu

1 September 2026
131

Browse by Category

  • Agenda Even
  • Agenda Kampus
  • Agenda Sekolah
  • ASBF Malang Raya
  • Balaikota
  • Batu
  • Berita Kampus
  • Berita Sekolah
  • Bisnis
  • Blok
  • Blok Premium A
  • Blok Slider
  • Ekonomi
  • Hotel dan Resto
  • Jatim
  • Kab Malang
  • Kawan PMI
  • Kota Malang
  • Lifestyle
  • MCC
  • Nahdlatul Ulama
  • Nasional
  • Objek Wisata
  • Opini
  • Organisasi & Komunitas
  • Pekerja Migran Indonesia
  • Pelayanan Publik
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendopo
  • Perbankan
  • Pilihan Redaksi
  • Properti
  • Seni Budaya
  • Seputar Halokes
  • Seputar Inklusi
  • Seputar Kampus
  • Sosial
  • Sosok
  • Sports
  • Travel
  • Uncategorized
  • Wisata
  • World
Seputar Malang

Situs Informasi dan Berita Seputar Malang Raya

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema

No Result
View All Result
  • Home
  • Kota Malang
  • Kab Malang
  • Pendidikan
  • Opini
  • Tentang

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema