Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
No Result
View All Result
Home MCC

MCC Bukan Beban APBD, Tapi Mesin Masa Depan Kota Kreatif Dunia

Kesalahan Cara Pandang: Dari Cost Center ke Creative Engine

Kontributor by Kontributor
13 April 2026
A A
0
Vicky Arief Herinadharma - Praktisi Ekonomi Kreatif | Ketua Harian ICCN

Vicky Arief Herinadharma - Praktisi Ekonomi Kreatif | Ketua Harian ICCN

0
SHARES
192
VIEWS
Bagi di WhatsappBagi di Facebook

SeputarMalang.Com – Di tengah wacana yang berkembang mengenai pengelolaan Malang Creative Center (MCC), terdapat satu kecenderungan yang perlu kita kritisi bersama: cara pandang yang menempatkan MCC semata sebagai beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Pendekatan ini, jika tidak diluruskan, berisiko menempatkan MCC hanya sebagai “aset yang harus menghasilkan”, bukan sebagai infrastruktur strategis masa depan kota kreatif.

Padahal, dalam konteks global—terutama dalam ekosistem UNESCO Creative Cities Network—creative hub seperti MCC tidak pernah didesain sebagai cost center, melainkan sebagai value generator : penghasil nilai ekonomi, sosial, budaya, dan bahkan diplomasi.

Vicky Arief Herinadharma - Praktisi Ekonomi Kreatif | Ketua Harian ICCN
Vicky Arief Herinadharma – Praktisi Ekonomi Kreatif | Ketua Harian ICCN

Kesalahan Cara Pandang: Dari Cost Center ke Creative Engine

Jika MCC hanya diukur dari kontribusi langsung terhadap PAD (Pendapatan Asli Daerah), maka kita sedang menggunakan logika industri konvensional untuk membaca ekosistem kreatif yang sejatinya non-linear.

Ekonomi kreatif tidak bekerja seperti pasar tradisional. Ia bekerja melalui: penciptaan ide; produksi karya; distribusi konten; monetisasi berbasis IP (Intellectual Property).

Artinya, output MCC bukan hanya “uang masuk ke kas daerah”, tetapi: lahirnya startup kreatif; tumbuhnya pelaku industri baru; terciptanya karya dan IP lokal; serta meningkatnya daya saing kota di tingkat nasional dan global.

Dengan kata lain: MCC adalah investasi jangka panjang, bukan beban jangka pendek.

BLUD: Solusi atau Sekadar Perubahan Status?

Dorongan untuk menjadikan MCC sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) adalah langkah yang secara administratif tepat. BLUD memberikan fleksibilitas pengelolaan, efisiensi operasional, dan ruang inovasi.

Namun, ada satu catatan penting: BLUD bukan solusi, jika tidak disertai desain model bisnis yang jelas.

Tanpa business model yang kuat, MCC berpotensi terjebak menjadi: sekadar penyedia sewa ruang; event organizer pemerintah; atau bahkan tetap bergantung pada APBD, hanya dengan label baru.

Ini tentu bukan transformasi, melainkan hanya perubahan nomenklatur.

MCC Harus Didesain sebagai Platform, Bukan Gedung. Sehingga ke depan, MCC perlu dilihat sebagai: Creative Economy Operating System.

Sebuah platform yang mengintegrasikan: talenta (creator, artist, developer); produksi (studio, media art, konten); distribusi (festival, digital platform, market); monetisasi (IP, lisensi, kolaborasi industri)

Dalam kerangka ini, MCC tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi: simpul ekosistem (node); penghubung hexahelix (pemerintah, komunitas, bisnis, akademisi, media, aggregator); dan mesin orkestrasi ekonomi kreatif kota.

Belajar dari Kota Kreatif Dunia

Kota-kota dalam jaringan UNESCO Creative Cities Network tidak pernah menjadikan creative hub sebagai sumber PAD langsung.

Sebaliknya, mereka: membangun ekosistem; memperkuat talent pipeline; mendorong kolaborasi industri; dan memonetisasi melalui IP, investasi, dan pasar global.

Dampaknya baru terasa dalam: peningkatan ekonomi kota; pertumbuhan lapangan kerja; serta reputasi global.

Arah Kebijakan yang Dibutuhkan, jika MCC benar-benar ingin diarahkan menjadi BLUD, maka legislatif dan eksekutif perlu memastikan tiga hal utama:

Pertama, Desain Model Bisnis yang Jelas: Revenue stream berbasis ekosistem (bukan hanya sewa ruang); Inkubasi & akselerasi startup kreatif, UMKM dan pegiat ekonomi kreatif; Kolaborasi industri & sponsorship; Monetisasi IP dan konten

Kedua, Governance Kolaboratif (Hexahelix) sehingga MCC tidak boleh dikelola secara top-down. Komunitas dan pelaku industri harus menjadi: co-creator, bukan sekadar pengguna

Ketiga, Indikator Kinerja yang Tepat. Jangan hanya mengukur: Jumlah event atau pendapatan langsung. Tetapi ukurnya: jumlah talenta yang tumbuh; jumlah usaha kreatif yang lahir; nilai transaksi ekonomi kreatif; dan dan dampak terhadap branding kota

Titik Penting MCC

Hari ini, adalah momentum untuk menentukan arah, kita berada pada titik penting. Apakah MCC akan: menjadi sekadar unit layanan dengan tekanan untuk “menghasilkan uang”?

Atau menjadi mesin penggerak ekonomi kreatif Kota Malang di tingkat global?

Pilihan ini tidak ditentukan oleh status BLUD semata, tetapi oleh cara kita memandang dan merancangnya.

Karena pada akhirnya,  kota kreatif tidak dibangun dari gedung—tetapi dari visi, ekosistem, dan keberanian untuk berpikir melampaui logika birokrasi.

* Vicky Arief Herinadharma – Praktisi Ekonomi Kreatif | Ketua Harian ICCN

Tags: MCCngopiniOpiniOpini SeputarMalang
SendShareShare
Kontributor

Kontributor

Related Posts

Dok. SMC Pro
Jatim

Malang Raya Megapolitan: Dari Fragmentasi Menuju Integrasi Kawasan

by Kontributor
4 Agustus 2026
14
Gagasan Malang Raya Megapolitan, dari Ego Wilayah Menuju Tata Kelola Kolaboratif
Opini

Gagasan Malang Raya Megapolitan, dari Ego Wilayah Menuju Tata Kelola Kolaboratif

by Abdillah
23 Juli 2026
28
Dok. Tim SeputarMalang
Opini

Final Antiklimaks – One Way Traffic

by Kontributor
20 Juli 2026
39
Leadership
Opini

Hijrah sebagai Perjalanan Spiritualitas dan Perubahan Sosial

by Abdillah
16 Juni 2026
92
Puasa sebagai Aktivasi Nyawiji
Opini

Spiritualitas Jawa, Idul Kurban, dan Tradisi Sufistik

by Abdillah
26 Mei 2026
55

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Dok. SMC Pro

Bakorwil Malang Dukung Program Pembebasan Pajak Kendaraan

7 Agustus 2026
3
Dok. SMC Pro

Bakorwil Malang Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor, MJC Disiapkan Jadi Ekosistem Pengembangan Talenta Digital Jawa Timur

7 Agustus 2026
4
Dok. SMC Pro

Malang Raya Megapolitan: Dari Fragmentasi Menuju Integrasi Kawasan

4 Agustus 2026
14
Suasana Sore Hari di Tong Tong Night Market

Tong Tong Night Market 2026 Hadirkan Harmoni Budaya, Kuliner dan Ekraf

31 Juli 2026
14
Penguatan Kompetensi ASN Menjadi Fondasi Percepatan Malang Raya Megapolitan dan Koridor Selatan Jawa Timur

Penguatan Kompetensi ASN Menjadi Fondasi Percepatan Malang Raya Megapolitan dan Koridor Selatan Jawa Timur

23 Juli 2026
5

Browse by Category

  • Agenda Even
  • Agenda Kampus
  • Agenda Sekolah
  • ASBF Malang Raya
  • Balaikota
  • Batu
  • Berita Kampus
  • Berita Sekolah
  • Bisnis
  • Blok
  • Blok Premium A
  • Blok Slider
  • Ekonomi
  • Hotel dan Resto
  • Jatim
  • Kab Malang
  • Kawan PMI
  • Kota Malang
  • Lifestyle
  • MCC
  • Nahdlatul Ulama
  • Nasional
  • Objek Wisata
  • Opini
  • Organisasi & Komunitas
  • Pekerja Migran Indonesia
  • Pelayanan Publik
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendopo
  • Perbankan
  • Pilihan Redaksi
  • Properti
  • Seni Budaya
  • Seputar Halokes
  • Seputar Inklusi
  • Seputar Kampus
  • Sosial
  • Sosok
  • Sports
  • Travel
  • Uncategorized
  • Wisata
  • World
Seputar Malang

Situs Informasi dan Berita Seputar Malang Raya

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema

No Result
View All Result
  • Home
  • Kota Malang
  • Kab Malang
  • Pendidikan
  • Opini
  • Tentang

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema