Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
No Result
View All Result
Home Opini

Keris pada Persimpangan Pusaka dan Investasi

Abdillah by Abdillah
19 April 2026
A A
0
Abdillah U. Djawahir, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Raden Rahmat, Malang

Abdillah U. Djawahir, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Raden Rahmat, Malang

0
SHARES
13
VIEWS
Bagi di WhatsappBagi di Facebook

SeputarMalang.Com – Hari Keris Nasional diperingati setiap tanggal 19 April, tahun ini adalah peringatan yang kedua. Legasi peringatan bertepatan dengan momentum historis berdirinya Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI), salah satu lembaga pelestarian keris.

Sebagai informasi, penetapan hari keris nasional berdasarkan Keputusan yang diumumkan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, dalam acara Brawijayan Tosan Aji Fest 2025 di Universitas Brawijaya, Malang,

Sejatinya, peringatan keris tidak berhenti sebagai seremoni budaya semata. Dus, menjadi ruang dan waktu untuk memikirkan ulang posisi keris dalam kehidupan masyarakat modern. Apakah keris dimaknai sebagai pusaka semata, atau bisa bergeser menjadi komoditas investasi?

Clifford Geertz (1976) menganggap bahwa artefak budaya sebagai bagian dari sistem makna yang menghubungkan manusia sebagai makhluk sosial dengan struktur kepercayaan dan nilai masyarakatnya, pun demikian keris. Walhasil, keris bukan sekadar benda logam tempa lipat. Keris adalah simbol kosmologis, spiritualitas, sekaligus identitas sosial.

Keris pada dasarnya adalah pusaka, benda yang tidak hanya memiliki nilai material, tetapi juga nilai simbolik dan spiritual. Bahkan dalam tradisi Jawa, keris diyakini memiliki “isi” atau tuah (kekuatan batin) yang berkaitan dengan pemiliknya.

Abdillah U. Djawahir, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Raden Rahmat, Malang
Abdillah U. Djawahir, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Raden Rahmat, Malang

Dengan perspektif lain, Pusaka merupakan mahakarya leluhur yang menghubungkan masa kini dengan kisah dan nilai luhur masa lampau. Karenanya, keris sebagai pusaka menjaga untuk selalu ingat dan sadar atas nilai mulia kehidupan.

Ihwal memaknai “isi”, yang dimaksud bukanlah sebuah klenik. Namun adanya sirkulasi energi positif dan doa yang dilangitkan oleh Empu dalam proses pembabaran (pembuatan)-nya. Energi positif dan doa terabadikan dan seyogyanya diwariskan dari generasi ke generasi.

Dan patutlah bersyukur, keris sudah mendunia kelasnya. Karena masyarakat global pun mengakuinya, seiring dengan diakuinya keris sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity (Mahakarya Warisan Budaya Lisan dan Takbenda Manusia) oleh UNESCO pada 25 November 2005.

Transformasi Makna Keris, dari Pusaka ke Aset Budaya

Kembali ke pertanyaan sebagai refleksi Hari Keris Nasional, apakah keris dimaknai sebagai pusaka semata, atau bisa bergeser menjadi komoditas investasi?

Sejujurnya, peringatan ini diperlukan sebagai ajang nostalgia seremonial, juga menjadi ruang refleksi kritis.

Harapannya keris akan tetap terjaga lestari sebagai pusaka, sekaligus relevan sebagai bagian dari ekonomi budaya. Sehingga jawaban taktis atas pertanyaan reflektif tersebut, bukan memilih salah satu, tetapi menjaga keseimbangan diantara keduanya.

Keseimbangan tersebut mengarusutamakan keris menjadi media investasi, tetapi perlu ditekankan bukan sekadar investasi. Komodifikasi ini dengan tetap harus menghormati keris sebagai warisan leluhur. Sebagai benda pusaka bisa hadir di ‘pasar’, tetapi tidak kehilangan maknanya sebagai simbol identitas.

Pada akhirnya, keris mengajarkan satu hal penting: bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar hilang. Dan di tengah dunia serba digital yang terus bergerak cepat, justru membutuhkan pemahaman bahwa keris bukan hanya untuk dipegang dan dilihat (secara fisik), tetapi untuk dipahami.

Membaca Ulang Keris di Era Digital, Nostalgia dan Komodifikasi

Di era digital, transformasi makna keris semakin kompleks. Media sosial, forum kolektor, hingga platform jual-beli online menjadi ruang baru bagi distribusi pengetahuan dan nilai keris.

Lister et al. (2009) menyebut bahwa media digital sebagai arena di mana budaya tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga diproduksi ulang (mitrani). Dalam konteks ini, keris tidak lagi eksklusif milik keraton atau kolektor elite, tetapi menjadi bagian dari diskursus publik yang lebih luas.

Perlu pemahaman dasar bahwa relasi antara manusia dan keris bukan relasi kepemilikan semata, melainkan relasi kultural yang sarat makna. Inilah mantra keseimbangan antara nostalgia dan komodifikasi. Antara menjaga kesakralan benda pustaka dan aset ekonomi.

Dalam berbagai praktik kontemporer, keris (mulai) diposisikan sebagai aset bernilai ekonomi. Kolektor tidak hanya mencari keris karena tuah atau nilai historisnya, tetapi juga karena potensi kenaikan harga.

SSB Malang Batu Wajib Merapat! Liga Grassroots 2026 Berhadiah Beasiswa STY Football Academy SSB Malang Batu Wajib Merapat! Liga Grassroots 2026 Berhadiah Beasiswa STY Football Academy SSB Malang Batu Wajib Merapat! Liga Grassroots 2026 Berhadiah Beasiswa STY Football Academy
ADVERTISEMENT

Keris dengan pamor langka, tangguh tua, sandhangan istimewa atau karya empu ternama dapat dihargai tinggi dan terus meningkat nilainya. Fenomena ini mencerminkan apa yang disebut Pierre Bourdieu (1986) sebagai cultural capital. Kondisi ketika nilai budaya dikonversi menjadi nilai ekonomi.

Di satu sisi, ini adalah perkembangan yang menarik. Keris tidak lagi terpinggirkan sebagai benda kuno, tetapi justru menemukan relevansi baru dalam ekonomi kreatif dan pasar koleksi. Ia menjadi bagian dari ekosistem budaya yang hidup, bergerak, dan beradaptasi dengan zaman.

Ketika keris direduksi menjadi komoditas, ada risiko bahwa dimensi ini memudar. Nilai sejarah digantikan oleh nilai pasar, dan makna simbolik tergeser oleh logika investasi. Di sinilah nostalgia memainkan peran penting sebagai penyeimbang.

Untuk memperkuat keseimbangan tersebut, diingatkan oleh Svetlana Boym (2001) bahwa nostalgia terbagi menjadi dua: restoratif dan reflektif. Dalam konteks keris, nostalgia restoratif terlihat pada upaya menghidupkan kembali tradisi lama secara utuh, semisal dalam ritual perawatan atau pemaknaan spiritual.

Sementara nostalgia reflektif hadir dalam bentuk apresiasi estetika dan sejarah, terutama di kalangan generasi muda yang mengenal keris melalui media digital.

Kedua bentuk nostalgia ini menunjukkan bahwa keris tidak hanya hidup di masa lalu, tetapi juga terus dinegosiasikan di masa kini.

Menariknya, praktik komoditas investasi keris justru dapat dibaca sebagai bentuk invented tradition (Hobsbawm, 1983). Yakni upaya merekonstruksi tradisi untuk menjawab kebutuhan zaman. Dalam hal ini, keris tidak hanya diwariskan, tetapi juga “diciptakan ulang” sebagai bagian dari ekonomi budaya modern.

Lebih lanjut, prosesnya tetap menghormati nilai-nilai yang melekat, dan investasi tidak boleh bertentangan dengan pelestarian.

Terpenting selalu ingat fatsum dalam dunia investasi, high risk-high return. Akhirnya, terucap Wilujeng Mengeti Dinten Keris Nagari 2026!

Tags: Hari Keris NasionalInvestasi KerisngopiniOpiniOpini SeputarMalang
SendShareShare
Abdillah

Abdillah

Tinggal di Lereng Gunung Kawi Malang, penikmat kopi pahit. Aktivitas sehari-hari sebagai Dosen Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang. Motto Hidup: Urip kudu urup!

Related Posts

Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist
Opini

Malang Kota Musproh

by Wahyu Eko Setiawan
13 April 2026
49
Vicky Arief Herinadharma - Praktisi Ekonomi Kreatif | Ketua Harian ICCN
MCC

MCC Bukan Beban APBD, Tapi Mesin Masa Depan Kota Kreatif Dunia

by Kontributor
13 April 2026
135
Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist
Opini

14 Tahun SMC dan Jaringan Ghost Writer

by Wahyu Eko Setiawan
6 Maret 2026
27
Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist
Opini

Mbrujul Kota Malang

by Wahyu Eko Setiawan
4 Maret 2026
20
Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist
Opini

K E M A N U S I A A N

by Wahyu Eko Setiawan
4 Maret 2026
18

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Abdillah U. Djawahir, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Raden Rahmat, Malang

Keris pada Persimpangan Pusaka dan Investasi

19 April 2026
13
Insan Abdirohman, selaku Direktur Pengembangan Budaya Digital Kementrian Kebudayaan RI

Bersama Bakorwil III Malang, Direktur Pengembangan Budaya Digital Kemnbud RI Akan Merayakan Hari Keris Nasional 2026

13 April 2026
73
Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist

Malang Kota Musproh

13 April 2026
49
Vicky Arief Herinadharma - Praktisi Ekonomi Kreatif | Ketua Harian ICCN

MCC Bukan Beban APBD, Tapi Mesin Masa Depan Kota Kreatif Dunia

13 April 2026
135
RUMPIA Puskesmas Rampal Celaket

RUMPIA Puskesmas Rampal Celaket, Inovasi Layanan Kesehatan Cepat dan Humanis di Kota Malang

11 April 2026
20

Browse by Category

  • Agenda Even
  • Agenda Kampus
  • Agenda Sekolah
  • ASBF Malang Raya
  • Balaikota
  • Batu
  • Berita Kampus
  • Berita Sekolah
  • Bisnis
  • Blok
  • Blok Premium A
  • Blok Slider
  • Ekonomi
  • Hotel dan Resto
  • Jatim
  • Kab Malang
  • Kawan PMI
  • Kota Malang
  • Lifestyle
  • MCC
  • Nahdlatul Ulama
  • Nasional
  • Objek Wisata
  • Opini
  • Organisasi & Komunitas
  • Pekerja Migran Indonesia
  • Pelayanan Publik
  • Pendidikan
  • Pendopo
  • Perbankan
  • Pilihan Redaksi
  • Properti
  • Seni Budaya
  • Seputar Halokes
  • Seputar Inklusi
  • Seputar Kampus
  • Sosial
  • Sosok
  • Sports
  • Travel
  • Uncategorized
  • Wisata
  • World
Seputar Malang

Situs Informasi dan Berita Seputar Malang Raya

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema

No Result
View All Result
  • Home
  • Kota Malang
  • Kab Malang
  • Pendidikan
  • Opini
  • Tentang

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema