SeputarMalang.Com – Hari Keris Nasional diperingati setiap tanggal 19 April, tahun ini adalah peringatan yang kedua. Legasi peringatan bertepatan dengan momentum historis berdirinya Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI), salah satu lembaga pelestarian keris.
Sebagai informasi, penetapan hari keris nasional berdasarkan Keputusan yang diumumkan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, dalam acara Brawijayan Tosan Aji Fest 2025 di Universitas Brawijaya, Malang,
Sejatinya, peringatan keris tidak berhenti sebagai seremoni budaya semata. Dus, menjadi ruang dan waktu untuk memikirkan ulang posisi keris dalam kehidupan masyarakat modern. Apakah keris dimaknai sebagai pusaka semata, atau bisa bergeser menjadi komoditas investasi?
Clifford Geertz (1976) menganggap bahwa artefak budaya sebagai bagian dari sistem makna yang menghubungkan manusia sebagai makhluk sosial dengan struktur kepercayaan dan nilai masyarakatnya, pun demikian keris. Walhasil, keris bukan sekadar benda logam tempa lipat. Keris adalah simbol kosmologis, spiritualitas, sekaligus identitas sosial.
Keris pada dasarnya adalah pusaka, benda yang tidak hanya memiliki nilai material, tetapi juga nilai simbolik dan spiritual. Bahkan dalam tradisi Jawa, keris diyakini memiliki “isi” atau tuah (kekuatan batin) yang berkaitan dengan pemiliknya.

Dengan perspektif lain, Pusaka merupakan mahakarya leluhur yang menghubungkan masa kini dengan kisah dan nilai luhur masa lampau. Karenanya, keris sebagai pusaka menjaga untuk selalu ingat dan sadar atas nilai mulia kehidupan.
Ihwal memaknai “isi”, yang dimaksud bukanlah sebuah klenik. Namun adanya sirkulasi energi positif dan doa yang dilangitkan oleh Empu dalam proses pembabaran (pembuatan)-nya. Energi positif dan doa terabadikan dan seyogyanya diwariskan dari generasi ke generasi.
Dan patutlah bersyukur, keris sudah mendunia kelasnya. Karena masyarakat global pun mengakuinya, seiring dengan diakuinya keris sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity (Mahakarya Warisan Budaya Lisan dan Takbenda Manusia) oleh UNESCO pada 25 November 2005.
Transformasi Makna Keris, dari Pusaka ke Aset Budaya
Kembali ke pertanyaan sebagai refleksi Hari Keris Nasional, apakah keris dimaknai sebagai pusaka semata, atau bisa bergeser menjadi komoditas investasi?
Sejujurnya, peringatan ini diperlukan sebagai ajang nostalgia seremonial, juga menjadi ruang refleksi kritis.
Harapannya keris akan tetap terjaga lestari sebagai pusaka, sekaligus relevan sebagai bagian dari ekonomi budaya. Sehingga jawaban taktis atas pertanyaan reflektif tersebut, bukan memilih salah satu, tetapi menjaga keseimbangan diantara keduanya.
Keseimbangan tersebut mengarusutamakan keris menjadi media investasi, tetapi perlu ditekankan bukan sekadar investasi. Komodifikasi ini dengan tetap harus menghormati keris sebagai warisan leluhur. Sebagai benda pusaka bisa hadir di ‘pasar’, tetapi tidak kehilangan maknanya sebagai simbol identitas.
Pada akhirnya, keris mengajarkan satu hal penting: bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar hilang. Dan di tengah dunia serba digital yang terus bergerak cepat, justru membutuhkan pemahaman bahwa keris bukan hanya untuk dipegang dan dilihat (secara fisik), tetapi untuk dipahami.
Membaca Ulang Keris di Era Digital, Nostalgia dan Komodifikasi
Di era digital, transformasi makna keris semakin kompleks. Media sosial, forum kolektor, hingga platform jual-beli online menjadi ruang baru bagi distribusi pengetahuan dan nilai keris.
Lister et al. (2009) menyebut bahwa media digital sebagai arena di mana budaya tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga diproduksi ulang (mitrani). Dalam konteks ini, keris tidak lagi eksklusif milik keraton atau kolektor elite, tetapi menjadi bagian dari diskursus publik yang lebih luas.
Perlu pemahaman dasar bahwa relasi antara manusia dan keris bukan relasi kepemilikan semata, melainkan relasi kultural yang sarat makna. Inilah mantra keseimbangan antara nostalgia dan komodifikasi. Antara menjaga kesakralan benda pustaka dan aset ekonomi.
Dalam berbagai praktik kontemporer, keris (mulai) diposisikan sebagai aset bernilai ekonomi. Kolektor tidak hanya mencari keris karena tuah atau nilai historisnya, tetapi juga karena potensi kenaikan harga.
Keris dengan pamor langka, tangguh tua, sandhangan istimewa atau karya empu ternama dapat dihargai tinggi dan terus meningkat nilainya. Fenomena ini mencerminkan apa yang disebut Pierre Bourdieu (1986) sebagai cultural capital. Kondisi ketika nilai budaya dikonversi menjadi nilai ekonomi.
Di satu sisi, ini adalah perkembangan yang menarik. Keris tidak lagi terpinggirkan sebagai benda kuno, tetapi justru menemukan relevansi baru dalam ekonomi kreatif dan pasar koleksi. Ia menjadi bagian dari ekosistem budaya yang hidup, bergerak, dan beradaptasi dengan zaman.
Ketika keris direduksi menjadi komoditas, ada risiko bahwa dimensi ini memudar. Nilai sejarah digantikan oleh nilai pasar, dan makna simbolik tergeser oleh logika investasi. Di sinilah nostalgia memainkan peran penting sebagai penyeimbang.
Untuk memperkuat keseimbangan tersebut, diingatkan oleh Svetlana Boym (2001) bahwa nostalgia terbagi menjadi dua: restoratif dan reflektif. Dalam konteks keris, nostalgia restoratif terlihat pada upaya menghidupkan kembali tradisi lama secara utuh, semisal dalam ritual perawatan atau pemaknaan spiritual.
Sementara nostalgia reflektif hadir dalam bentuk apresiasi estetika dan sejarah, terutama di kalangan generasi muda yang mengenal keris melalui media digital.
Kedua bentuk nostalgia ini menunjukkan bahwa keris tidak hanya hidup di masa lalu, tetapi juga terus dinegosiasikan di masa kini.
Menariknya, praktik komoditas investasi keris justru dapat dibaca sebagai bentuk invented tradition (Hobsbawm, 1983). Yakni upaya merekonstruksi tradisi untuk menjawab kebutuhan zaman. Dalam hal ini, keris tidak hanya diwariskan, tetapi juga “diciptakan ulang” sebagai bagian dari ekonomi budaya modern.
Lebih lanjut, prosesnya tetap menghormati nilai-nilai yang melekat, dan investasi tidak boleh bertentangan dengan pelestarian.
Terpenting selalu ingat fatsum dalam dunia investasi, high risk-high return. Akhirnya, terucap Wilujeng Mengeti Dinten Keris Nagari 2026!







