Telah banyak buku sejarah yang bisa mengajarkan kepada kita semuanya untuk membaca perilaku mulia dari orang-orang hebat yang telah menjadi pemimpin besar. Yang namanya dicatat dalam sejarah peradaban umat manusia dengan tinta emas. Perilaku mulia yang selalu ada dalam diri para pemimpin besar tersebut adalah: Kemanusiaan. Mereka, orang-orang hebat yang telah menjadi pemimpin besar, selalu mengutamakan kemanusian. Bahkan, ketika memberikan penghormatan kepada para musuh-musuhnya pun, mereka selalu mengutamakan Kemanusiaan. Salah satu contohnya yang paling banyak ditemui adalah mereka tidak segan-segan memberikan penghormatan turut berduka cita ketika orang-orang terdekatnya, atau bahkan para musuh-musuh besarnya sekalipun, meninggal dunia. Ucapan berbelasungkawa atau turut berduka cita, adalah cerminan paling sederhana bagaimana jiwa sejati dari seorang pemimpin sesungguhnya.

Ucapan belasungkawa, mungkin terlihat sangat sederhana. Tapi bukanlah hal sepele. Bahkan, bisa kita jadikan satu parameter kuat tentang bagaimana seseorang menghargai kehidupan dan membangun kesadaran atas kematian. Menjadi bukti kesadaran sejati bahwa semua yang hidup, pasti mati. Orang-orang yang hatinya kotor oleh ambisi dan nafsu, seringkali mengabaikan arti sejati dari adanya ucapan belasungkawa. Orang-orang yang jiwanya keruh karerna kebencian dan permusuhan, seringkali mudah mengabaikan kemanusian. Baginya, mungkin ucapan belasungkawa adalah cerminan kepuasan ego pribadi semata-mata. Bukan pada kesadaran untuk selalu menjunjung tinggi kemanusiaan. Pemimpin seperti itu, yang hatinya kotor oleh ambisi dan nafsu, serta jiwanya keruh oleh kebencian dan permusuhan, apakah layak kita jadikan sebagai pemimpin sebuah Negara?
Terus terang, pengetahuan saya hanya sedikit perihal konflik perang di Timur Tengah saat ini. Perang antara AS dan Israel melawan Iran, saat ini banyak informasi dan berita yang membanjiri media sosial. Mulai dari yang deep fake buatan AI, hingga informasi dan berita yang valid, membanjiri media sosial tanpa filter sama sekali. Yang paling mengguncang adalah meninggalnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Sayyed Ali Khamenei. Setelah berita tersebut terkonfirmasi dan disiarkan secara resmi, kita bisa menyaksikan beberapa kepala negara di dunia segera mengucapkan belasungkawa dan turut berduka cita. Bagiamana dengan Presiden Indonesia? Hingga hari ini belum ada ucapan resmi belasungkawa dan turut berduka cita dari Presiden Indonesia. Apakah hal ini disengaja karena suatu alasan tertentu? Rasanya, tidak mungkin kalau tidak disengaja. Naif sekali kalau kita mengatakan karena ada berbagai alasan yang melatar belakanginya.
Namun, apapun alasannya kenapa Presiden Indonesia belum secara resmi mengucapkan belasungkawa dan turut berduka cita, kita menjadi semakin paham bagaimana watak dan orientasi kepemimpinan dari Presiden Indonesia. Tidak perlu pikiran yang cerdas, untuk bisa mencerna realita tersebut. Juga tidak perlu analisa yang bertele-tele untuk memaknai fenomena tersebut. Semuanya menjadi jelas dan gamblang. Bahkan dalam pikiran yang paling sederhana pun, kita bisa memahami apa arti kemanusian bagi Presiden Indonesia dalam merespon meninggalnya Ayatollah Sayyed Ali Khamenei. Bukankah kemanusian harus berada di atas kepentingan semua konflik apapun yang terjadi di dunia ini? Karena kita adalah manusia? Apa jadinya kalau manusia sudah melupakan kemanusiaannya?
Seorang pemimpin yang tidak mampu menghargai dan menghormati pemimpin lainnya, meskipun sedang berselisih paham ataupun berkonflik, sesungguhnya tidak layak menjadi seorang pemimpin. Lebih baik disebut sebagai seorang penguasa. Karena sangat jelas, bahwa seorang Pemimpin sangat berbeda dengan seorang Penguasa. Salah satu parameter sederhana yang bisa membedakan antara Pemimpin dan Penguasa, adalah bagaimana dia menjunjung tinggi kemanusiaan. Bagi seorang Pemimpin, Kemanusiaan harus selalu diutamakan. Memanusiakan manusia. Sedangkan bagi seorang Penguasa, persetan dengan kemanusiaan. Bagi seorang Penguasa, ego dirinya lebih tinggi daripada kemanusiaan.
Indonesia dan Iran, meskipun bukan sekutu atau aliansi, keduanya mempunyai banyak kesamaan. Dan jalinan hubungan yang ada seperti seorang sahabat. Bukan menjadi musuh. Indensia dan Irang, termasuk dalam keanggotaan organisasi internasional seperti OKI, D8, G77 dan BRICS. Jadi sangat jelas, hubungannya positif dan tidak saling menegasikan. Bahkan, tidak ada satu alasan apapun bagi Indonesia untuk bermusuhan dengan Iran. Anehnya, ketika pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Sayyed Ali Khamenei meninggal dunia, Presiden Indonesia sampai sekarang belum secara resmi mengucapkan belasungkawa dan turut berduka cita. Ada apa? Kenapa hal tersebut terjadi? Tekanan apa yang didapatkan oleh Presiden Indonesia, sehingga tidak mengucapkan belasungkawa dan turut berduka cita? Hal tersebut, pasti memancing penggalian dan pendalaman lebih lanjut. Terlihat sangat sederhana, tapi dampaknya ke depan bisa menjadi sangat fatal bagi masa depan NKRI.
Hidup manusia hanya 60 tahun di bawah kolong langit. Kalaupun bisa mencapai usia hidup sampai 80 tahun lebih, itu hanyalah waktu penebusan dosa semata-mata. Sehingga, akhir hayat setiap manusia bisa menjadi husnul khatimah. Berakhir dengan baik sebagai manusia yang sebaik-baiknya manusia. Manusia yang memanusiakan manusia. Manusia yang tidak kehilangan rasa kemanusiaannya. Meskipun segala bentuk konflik, politik, kebencian, agama, kemarahan, kekecewaan, bahkan hingga perang sekalipun, semoga kita semuanya tidak pernah kehilangan Rasa Kemanusiaan. Karena kita memang adalah manusia. Mau jadi apa kalau manusia sudah kehilangan kemanusiaannya?
Bahkan, Nabi Muhammad SAW sekalipun, selalu berusaha memaafkan, menghormati dan memanusiakan musuh-musuhnya yang paling kejam sekalipun. Orang yang hendak membunuh Nabi Muhammad SAW ketika tidur, tetap dihormati dan dijunjung tinggi kemanusiaannya. Kasih sayang, keadilan dan kemanusiaan, ini merupakan bagian dari sifat utama Rahmatan lil ‘Alamin. Itulah kenapa kita bisa secara sederhana mengukur kualitas diri seseorang dari bagaimana caranya memanusiakan manusia lainnya. Bukan mengukurnya dengan jabatan, kekuasan, kekayaan, kekuatan dan seberapa banyak jumlah pendukungnya atau pembencinya.
Sesederhana itu. Hanya sekedar ucapan belasungkawa. Namun, esensinya adalah kesadaran tentang Kemanusiaan. Ya, sesederhana itu esensi dari Kemanusiaan. Namun, hal yang sesederhana itu, seringkali mudah ditutupi oleh nafsu, ego, kebencian, ambisi, keserakahan, pikiran yang picik dan hati yang keruh oleh duniawi.
Wahyu Eko Setiawan/ Sam WES
Komunitas Sinau Embongan








