Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
No Result
View All Result
Home Opini

Membaca Tantangan Literasi Generasi Alpha

oleh: Lailatul Husna dan Aries Musnandar

Kontributor by Kontributor
4 November 2026
A A
0
Menggali Manfaat dan Risiko Digitalisasi

Menggali Manfaat dan Risiko Digitalisasi

0
SHARES
9
VIEWS
Bagi di WhatsappBagi di Facebook

SeputarMalang.Com – Seorang anak berusia lima tahun ke atas sudah dapat membuka aplikasi, mencari video kesukaannya, dan melewati iklan hanya dengan beberapa gesekan jari. Ia sangat lincah, nyaris tanpa ragu. Kefasihan itu sering dianggap tanda kecerdasan zaman, apalagi Generasi Alpha adalah generasi pertama yang sepenuhnya tumbuh bersama layar sentuh.

Namun, ada kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Ketika disodori satu halaman buku cerita, gerakan anak yang tadinya cekatan mendadak melambat. Matanya mengembara dan perhatiannya cepat berpindah. Data pun menunjukkan hal serupa: skor membaca siswa Indonesia dalam PISA 2022 hanya 359, jauh di bawah rata-rata negara OECD yang mencapai 476 (OECD, 2023).

Keadaan tersebut mendatangkan beberapa pertanyaan mendasar: “Mengapa anak yang sangat lincah ketika di layar justru menjadi gagap di halaman? Apakah gawai atau gadget penyebabnya? Atau ada hal lain yang lolos dari perhatian kita? Pertanyaan ini sangat penting untuk direnungkan. Sebab, persoalan tersebut bukan semata-mata terletak pada gawai, melainkan juga pada bagaimana kebiasaan dibentuk, dibaca, dibiasakan, dan dicontohkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Otak Membaca Tidak Lahir Begitu Saja

Salah satu hal yang jarang disadari adalah bahwa membaca bukan kemampuan alami. Beberapa ahli menjelaskan bahwasanya otak membaca itu dibentuk melalui latihan yang sangat panjang, bukan dalam jangka waktu yang pendek ataupun diwariskan sejak lahir. Seorang anak bisa berbicara tanpa diajari, akan tetapi ia tidak akan bisa membaca tanpa adanya pembiasaan. Membaca mendalam itu sangat menuntut kesabaran, kemampuan menahan distraksi, dan ketekunan mengikuti alur pembelajaran yang berlapis-lapis. Semua itu seperti halnya sebuah otot yang memerlukan sebuah latihan untuk menguat.

Di sinilah masalah tersebut muncul dan bermula, Jika latihan itu tidak pernah diberikan, seorang anak tidak serta-merta kehilangan kecerdasannya, tetapi ia hanya belum terbiasa. Kegagapan di halaman pun bukan berarti tanda anak kurang pintar, melainkan tanda otot membacanya belum terlatih.

Ketika Layar Melatih Kebiasaan Yang Berbeda

Lingkungan digital dapat melatih hal yang berlawanan dengan membaca mendalam. Anak bisa terbiasa memindai sesuatu dengan cepat, melompat dari satu konten ke konten lainnya, dan bahkan bermain game seperti Roblox hingga lupa waktu. Dalam ritme semacam itu, buku yang bergerak lambat akan terasa sangat membosankan.

Penelitian memperkuat kekhawatiran ini. Delgado et al. (2018), melalui meta-analisis terhadap puluhan penelitian, menemukan bahwa pemahaman bacaan pada teks cetak cenderung lebih baik daripada teks digital. Selisih ini terutama tampak pada bacaan informasional dan ketika pembaca dibatasi waktu. Temuan tersebut tidak berarti teknologi harus dijauhi. Hanya saja yang perlu dicermati adalah jenis bacaan dan tujuannya. Untuk bacaan yang menuntut pemahaman mendalam, buku cetak masih menawarkan ruang konsentrasi yang sulit disaingi oleh layar yang penuh notifikasi.

Anak Meniru Apa Yang Mereka Lihat

Menyalahkan anak atau gawai semata adalah suatu cara pandang yang terlalu sempit. Dikarenakan, anak belajar dari lingkungan dan dari apa yang mereka lihat, di rumah yang mana orang dewasanya jarang membuka dan membaca buku dan sering menatap ponsel, maka buku akan sangat sulit tampil sebagai sesuatu yang sangat berharga. Gawai juga kerap sekali dijadikan pengasuh pengganti untuk ketenangan sesaat dan hal itulah yang dapat mempengaruhi otak membaca anak, dikarenakan semua bermula dari kebiasaan. Tanpa disadari pula, kebiasaan tersebut menggeser waktu yang seharusnya diisi dengan cerita, obrolan, dan membaca bersama.

Sekolah pun menghadapi tantangannya sendiri, mulai dari keterbatasan bahan bacaan yang menarik hingga kurikulum yang kadang lebih menekankan hafalan daripada pemahaman. Selama membaca dipandang sebagai tugas, bukan kebutuhan, anak akan mencari kesenangan di tempat lain, dan layar selalu siap menyambut mereka.

 Menjembatani Layar Dan Halaman

Menggali Manfaat dan Risiko Digitalisasi
Menggali Manfaat dan Risiko Digitalisasi

Setelah mengetahui sebab mengapa anak bisa “Lincah di Layar dan Gagap di Halaman”, kini menggali solusi atas hal tersebut. Hal pertama yang dilakukan itu dimulai  dari keluarga karena anak meniru kedua orang tua dan anggota keluarga lainnya. Oleh sebab itu, perubahan pertama harus dimulai dari orang tua. Orang tua dapat memulai dari hal sederhana seperti: membacakan dongeng secara rutin sebelum tidur, menyediakan buku untuk dibaca di sudut ruangan atau tempat yang mudah dijangkau, dan menunjukkan kebiasaan yang baik lewat keteladanan sosial atau membaca, serta pembatasan waktu layar yang konsisten juga memberi ruang bagi konsentrasi untuk tumbuh.

Setelah orang tua menerapkan kebiasaan di atas, kini peran guru di sekolah: guru dapat merancang kegiatan yang menjembatani dunia digital dan dunia cetak. Topik yang digemari anak bisa menjadi pintu masuk ke buku, dan teknologi dapat digunakan untuk memperkaya pengalaman membaca, bukan menggantikannya.

Pada akhirnya, kita tidak menjauhkan Gen Alpha dari teknologi, sebab teknologi adalah dunia yang akan mereka huni dan akan terus berkembang. Maka dari itu, peran kita adalah menjembatani antara layar dan halaman supaya mereka bisa memanfaatkan waktu untuk belajar, tanggap di halaman dan lincah di layar pada waktu yang tepat. Sehingga mereka tumbuh sebagai pembaca yang mampu menimbang gagasan secara kritis, di mana kebiasaan itu harus dibangun sejak dini, satu halaman demi satu halaman.

*****

Lailatul Husna (Mahasiswa Fakultas Ilmu Keislaman, Universitas Islam Raden Rahmat)

Dr. Aries Musnandar (Dosen Media Pembelajaran FIK dan Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat Malang, yang menaruh perhatian pada ilmu pendidikan, pembelajaran, dan pengembangan karakter)

Tags: ngopiniOpiniOpini MahasiswaOpini MalangUnira Malang
SendShareShare
Kontributor

Kontributor

Related Posts

Kepemimpinan dan Wewenang
Opini

Peran Organisasi Kampus dalam Membentuk Jiwa Kepemimpinan dan Tanggung Jawab Mahasiswa

by Kontributor
4 November 2026
6
Tantangan
Opini

Ketika Kuliah Dianggap Berbeda: Antara Pilihan Melanjutkan Pendidikan dan Kebiasaan Masyarakat

by Kontributor
2 November 2026
33
Refleksi Perilaku Manusia
Opini

Disiplin Siswa di Sekolah: Kesadaran Diri atau Sekadar Takut Hukuman?

by Kontributor
31 Oktober 2026
42
Dok. SMC Pro
Opini

Jembatan Sifat Kenabian dalam Menata Realitas Zahir

by Kontributor
29 Oktober 2026
28
Ka-Ki: Samsul Arifin, S.Pd.I. (Guru PAI SDN Tenggilisrejo, Gondangwetan, Pasuruan dan Mahasiswa MPAI Pascasarjana UNIRA Malang), Dr. Aries Musnandar (Dosen MPAI Pascasarjana UNIRA Malang)
Opini

Pel di Atas Tanaman: Ketika Niat Bersih Justru Merusak Keindahan

by Kontributor
27 Oktober 2026
62

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Menggali Manfaat dan Risiko Digitalisasi

Membaca Tantangan Literasi Generasi Alpha

4 November 2026
9
Kepemimpinan dan Wewenang

Peran Organisasi Kampus dalam Membentuk Jiwa Kepemimpinan dan Tanggung Jawab Mahasiswa

4 November 2026
6
image from: en.kkc.or.jp

Les Tambahan Di Luar Sekolah, Pelengkap atau Kebutuhan?

3 November 2026
40
UPT Puskesmas Poncokusumo, Kabupaten Malang

Dugaan Korupsi Pengadaan 7 Ambulans dan Mangkraknya Puskesmas Poncokusumo Jadi Sorotan

3 November 2026
16
Tantangan

Ketika Kuliah Dianggap Berbeda: Antara Pilihan Melanjutkan Pendidikan dan Kebiasaan Masyarakat

2 November 2026
33

Browse by Category

  • Agenda Even
  • Agenda Kampus
  • Agenda Sekolah
  • ASBF Malang Raya
  • Balaikota
  • Batu
  • Berita Kampus
  • Berita Sekolah
  • Bisnis
  • Blok
  • Blok Premium A
  • Blok Slider
  • Ekonomi
  • Hotel dan Resto
  • Jatim
  • Kab Malang
  • Kawan PMI
  • Kota Malang
  • Lifestyle
  • MCC
  • Nahdlatul Ulama
  • Nasional
  • Objek Wisata
  • Opini
  • Organisasi & Komunitas
  • Pekerja Migran Indonesia
  • Pelayanan Publik
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendopo
  • Perbankan
  • Pilihan Redaksi
  • Properti
  • Seni Budaya
  • Seputar Halokes
  • Seputar Inklusi
  • Seputar Kampus
  • Sosial
  • Sosok
  • Sports
  • Travel
  • Uncategorized
  • Wisata
  • World
Seputar Malang

Situs Informasi dan Berita Seputar Malang Raya

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema

No Result
View All Result
  • Home
  • Kota Malang
  • Kab Malang
  • Pendidikan
  • Opini
  • Tentang

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema