Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Les Tambahan Di Luar Sekolah, Pelengkap atau Kebutuhan?

oleh: Wicya Meta Bhawana dan Aries Musnandar

Kontributor by Kontributor
3 November 2026
A A
0
image from: en.kkc.or.jp

image from: en.kkc.or.jp

0
SHARES
32
VIEWS
Bagi di WhatsappBagi di Facebook

SeputarMalang.Com – Menjelang sore, gerbang sekolah belum benar-benar sepi. Beberapa siswa langsung berlarian ke motor jemputan, bukan untuk pulang, tetapi untuk berpindah ke ruang belajar lain seperti bimbingan belajar, les matematika, les bahasa Inggris, atau kelas privat di rumah guru. Bagi banyak keluarga, hari belajar anak tidak berakhir ketika bel berbunyi. Pemandangan ini terlalu biasa hingga kita jarang memikirkannya. Padahal ada satu pertanyaan yang layak diajukan: apakah les tambahan sungguh pelengkap atau diam-diam telah menjadi kebutuhan yang wajib dipenuhi?

Makin Dekat dengan Keseharian Pelajar

Beberapa tahun belakangan ini, les tambahan sepertinya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para pelajar. Pilihan semakin beragam, mulai dari bimbingan belajar mata pelajaran, persiapan menghadapi ujian masuk perguruan tinggi, sampai kelas online yang bisa diikuti di kamar tidur. Teknologi membuat belajar lebih mudah diakses, sekaligus membuat banyak orang menawarkan layanannya. Menariknya, les tidak lagi hanya dicari oleh siswa yang tertinggal, tetapi banyak siswa berprestasi ikut mendaftar. Ada yang ingin menjaga peringkatnya, ada juga yang tidak ingin berbeda dengan teman-temannya. Di titik ini, les tidak selalu muncul karena kebutuhan untuk belajar, melainkan karena rasa takut tertinggal oleh orang lain.

Mengapa Orang Tua Memilih Les

Di balik keputusan mengirimkan anaknya ke les bimbel, biasanya ada tujuan baik. Orang tua berharap nilai anaknya meningkat dan les dianggap sebagai cara yang paling langsung untuk mencapai tujuan tersebut. Bagi orang tua yang sibuk bekerja, les juga membuat mereka tenang, karena ada orang lain yang mengawasi anak belajar saat mereka belum bisa pulang. Persaingan masuk sekolah atau universitas favorit menambah dorongan untuk bersiap lebih awal. Obrolan di grup wali murid atau antartetangga sering kali membuat orang tua merasa cemas: apakah anak kita tidak ketinggalan? Tentu saja ada anak-anak yang membutuhkan penjelasan dengan cara berbeda agar materi bisa dicerna dengan lebih mudah. Semua alasan itu bisa dimengerti, hanya saja kita perlu jujur dalam membedakan. Apakah les ini memenuhi kebutuhan anak atau hanya sekadar memenuhi keinginan orang dewasa?

Ketika Biaya Ikut Menentukan Kesempatan

Les tidak gratis. Ada biaya bulanan, ongkos perjalanan, serta buku dan modul tambahan. Bagi keluarga yang penghasilannya tidak banyak, angka-angka itu bisa terasa sulit, dan sering kali pengeluaran untuk hal lain harus ditinggalkan agar anak tetap bisa ikut. Persoalannya bukan sekadar soal dompet. Ketika les menjadi “standar tak tertulis”, jarak antaranak pelan-pelan melebar. Sebagian anak mendapatkan bantuan tambahan, sedangkan yang lain hanya mengandalkan materi pelajaran di sekolah. Lebih menyakitkan lagi jika anak yang tidak bisa mengikuti les dianggap kurang berusaha, padahal yang membedakan mereka hanyalah akses. Pendidikan yang adil seharusnya tidak bergantung pada seberapa besar kemampuan keluarga untuk membayar.

Belajar Mandiri: Tidak Berarti Belajar Sendirian

Berita baiknya, hasil belajar yang bagus tidak selalu harus dibeli. Kemampuan belajar sendiri bisa diasah, dan biasanya bertahan lebih lama. Mulailah dengan hal-hal yang mudah, seperti membuat jadwal yang realistis. Belajar selama tiga puluh menit setiap hari lebih baik daripada begadang semalam sebelum ujian. Lalu kenali gaya belajar sendiri, karena ada anak yang lebih cepat memahami melalui tulisan, ada yang lebih cocok belajar dengan diagram, diskusi, atau langsung praktik. Coba sampaikan kembali materi tersebut kepada teman atau keluarga. Kalau kita bisa menjelaskan sesuatu dengan bahasa sendiri, berarti kita benar-benar mengerti. Saat mengerjakan soal, jangan takut salah, karena kesalahan itu justru menunjukkan hal-hal yang perlu diperbaiki. Perpustakaan, video edukasi, dan platform belajar terbuka dapat menjadi teman belajar yang andal. Dan yang tak kalah penting, beranilah bertanya. Mengajukan pertanyaan bukanlah tanda bahwa seseorang lemah, melainkan bagian dari proses belajar. Belajar mandiri bukan berarti belajar sendirian. Ibarat berkendara, anak memegang kemudi, sementara orang dewasa duduk di sebelahnya sebagai penumpang.

image from: en.kkc.or.jp
image from: en.kkc.or.jp

Jika banyak siswa merasa harus les agar bisa mengikuti pelajaran, mungkin ada hal-hal di dalam kelas yang perlu diperbaiki. Di sinilah sekolah dan orang tua harus berjalan bersama. Sekolah bisa berkomunikasi secara terbuka mengenai perkembangan anak, memberikan bantuan kepada siswa yang membutuhkan, dan menjelaskan hasil belajar dengan kata-kata yang mudah dipahami. Orang tua, sebaliknya, bisa menyampaikan kendala yang dihadapi anak, menjaga hubungan baik dengan guru, serta menghadirkan suasana belajar yang nyaman di rumah. Dengan cara itu, keputusan untuk mengikutkan anak les tidak lagi dibuat karena rasa takut, melainkan hasil dari pembicaraan bersama.

Les tambahan bukan sesuatu yang buruk. Bagi sebagian anak, les bisa menjadi cara untuk memahami pelajaran yang terasa sulit. Namun, ketika belajar menjadi sesuatu yang dianggap wajib oleh semua orang, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah anak kita benar-benar sedang belajar, atau sekadar sibuk? Sebab pada akhirnya, belajar tidak dinilai dari lamanya waktu di kelas, melainkan dari berkembangnya semangat penasaran, kemampuan mandiri, dan rasa percaya diri. Les bisa menjadi tambahan, selama tidak menggantikan yang lebih penting seperti sekolah yang baik, orang tua yang ikut mendampingi, serta ruang yang diberikan kepada anak untuk berkembang sesuai dengan cara mereka sendiri. Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi “apakah anak perlu les?”, melainkan “apa sebenarnya yang dibutuhkan anak kita agar bisa belajar dengan baik?”

*****

Wicya Meta Bhawana (Mahasiswa Fakultas Ilmu Keislaman (FIK), Universitas Islam Raden Rahmat Malang)

Aries Musnandar (Dosen Media Pembelajaran FIK dan Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat yang menaruh perhatian pada ilmu pendidikan, pembelajaran dan pengembangan karakter)

Tags: Les TambahanngopiniOpiniOpini Malang
SendShareShare
Kontributor

Kontributor

Related Posts

Dok. SMCPro
Opini

Menyoal Bisnis Militer dan Supremasi Sipil

by Abdillah
5 Oktober 2026
127
dok. KKNT-Genap 2025 Unira Malang
Uncategorized

Socialpreneur Celebration, Puncak Karsa Penutupan KKN-T 2025 Unira Malang Berdampak Berkelanjutan

by Kontributor
3 September 2025
12
70 Siswa SMK Ar-Roudloh Kibarkan Bendera Merah Putih di HUT RI ke-80 Gedangan
Berita Sekolah

Wujudkan Generasi Disiplin, Yonarhanud 2 Kostrad Bekali Paskibra SMK Ar Roudhoh Bela Negara

by Kontributor
2 September 2025
33

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

image from: en.kkc.or.jp

Les Tambahan Di Luar Sekolah, Pelengkap atau Kebutuhan?

3 November 2026
32
Tantangan

Ketika Kuliah Dianggap Berbeda: Antara Pilihan Melanjutkan Pendidikan dan Kebiasaan Masyarakat

2 November 2026
30
Refleksi Perilaku Manusia

Disiplin Siswa di Sekolah: Kesadaran Diri atau Sekadar Takut Hukuman?

31 Oktober 2026
39
Dok. SMC Pro

Jembatan Sifat Kenabian dalam Menata Realitas Zahir

29 Oktober 2026
27
Ka-Ki: Samsul Arifin, S.Pd.I. (Guru PAI SDN Tenggilisrejo, Gondangwetan, Pasuruan dan Mahasiswa MPAI Pascasarjana UNIRA Malang), Dr. Aries Musnandar (Dosen MPAI Pascasarjana UNIRA Malang)

Pel di Atas Tanaman: Ketika Niat Bersih Justru Merusak Keindahan

27 Oktober 2026
61

Browse by Category

  • Agenda Even
  • Agenda Kampus
  • Agenda Sekolah
  • ASBF Malang Raya
  • Balaikota
  • Batu
  • Berita Kampus
  • Berita Sekolah
  • Bisnis
  • Blok
  • Blok Premium A
  • Blok Slider
  • Ekonomi
  • Hotel dan Resto
  • Jatim
  • Kab Malang
  • Kawan PMI
  • Kota Malang
  • Lifestyle
  • MCC
  • Nahdlatul Ulama
  • Nasional
  • Objek Wisata
  • Opini
  • Organisasi & Komunitas
  • Pekerja Migran Indonesia
  • Pelayanan Publik
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendopo
  • Perbankan
  • Pilihan Redaksi
  • Properti
  • Seni Budaya
  • Seputar Halokes
  • Seputar Inklusi
  • Seputar Kampus
  • Sosial
  • Sosok
  • Sports
  • Travel
  • Uncategorized
  • Wisata
  • World
Seputar Malang

Situs Informasi dan Berita Seputar Malang Raya

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema

No Result
View All Result
  • Home
  • Kota Malang
  • Kab Malang
  • Pendidikan
  • Opini
  • Tentang

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema