SeputarMalang.Com – Pernahkah kita bertanya mengapa seseorang mampu belajar berjam-jam, sementara orang lain baru membuka buku selama sepuluh menit pun sudah merasa bosan? Sering kali kita menganggap perbedaan itu terletak pada kecerdasan, semangat, atau tingkat kemalasan. Salah satu hal yang kerap luput dari perhatian adalah kemampuan seseorang untuk bertindak tanpa harus menunggu munculnya keinginan. Itulah makna ungkapan “dipaksa, terbiasa, lalu terasa luar biasa”: tindakan datang lebih dulu, perasaan menyusul.
Banyak dari kita memperlakukan motivasi sebagai syarat utama untuk memulai sesuatu. Seseorang harus bersemangat terlebih dahulu sebelum belajar, harus memiliki suasana hati yang baik sebelum mengerjakan tugas, dan harus merasa siap sebelum mengambil tindakan. Akibatnya, ketika motivasi tidak muncul, aktivitas pun tertunda. Tanpa disadari, kebiasaan menunggu kesiapan justru menjadi salah satu penghambat terbesar dalam proses pengembangan diri.
Ada ironi di balik kebiasaan itu: semakin seseorang bergantung pada motivasi, semakin mudah aktivitasnya dikendalikan oleh perubahan suasana hati. Hari ini seseorang bisa memiliki semangat tinggi, tetapi esok hari semangat itu mungkin menghilang. Motivasi ternyata lebih mirip tamu yang datang terlambat, sebab ia sering baru muncul setelah kita mulai bekerja. Jika seluruh aktivitas bergantung pada perasaan, bagaimana mungkin seseorang dapat mempertahankan konsistensi?
Disiplin Tidak Menunggu Rasa Suka
Ada anggapan bahwa seseorang yang berhasil pasti menikmati setiap proses yang dijalaninya. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Banyak aktivitas penting justru dimulai dari sesuatu yang tidak menyenangkan. Membaca buku ketika tubuh lelah, mengerjakan tugas ketika ingin beristirahat, atau mengulang materi ketika teman-teman sedang menikmati waktu luang bukanlah kegiatan yang selalu menyenangkan.
Peran disiplin ada pada titik ini. Disiplin bukan kemampuan untuk selalu bersemangat, melainkan kemampuan untuk tetap menjalankan sesuatu meskipun keinginan sedang tidak mendukung.
Menariknya, kebiasaan tidak terbentuk hanya karena seseorang mengulang aktivitas berkali-kali; waktu dan tempat ikut bekerja. Misalnya, mahasiswa yang setiap malam sehabis Isya duduk di meja yang sama dengan buku terbuka lama-lama mendapati bahwa meja dan jam itu sendiri yang menyuruhnya mulai. Ia tidak lagi harus mengandalkan keputusan sadar untuk melakukan hal yang sama.
Karena itu, keterpaksaan pada tahap awal tidak selalu buruk. Keterpaksaan dapat menjadi pintu masuk menuju keteraturan, selama tidak berubah menjadi tekanan berlebihan yang justru menimbulkan kejenuhan. Tidak semua rasa enggan juga berarti malas: hilangnya motivasi yang berkepanjangan kadang menjadi tanda bahwa tubuh dan pikiran sedang kelelahan.
Ketika Sesuatu yang Berat Berubah Menjadi Otomatis

Pada awalnya, membuka buku mungkin membutuhkan pertimbangan panjang. Ada keinginan untuk bermain, menonton, atau sekadar menunda pekerjaan. Setelah aktivitas tersebut mulai memiliki pola yang teratur, proses memulainya terasa semakin ringan.
Berapa lama waktunya? Dalam satu studi, Phillippa Lally dan rekan-rekannya di University College London meminta 96 orang memilih satu perilaku sederhana, seperti minum air putih atau berlari singkat, lalu mengulangnya setiap hari pada waktu yang sama selama 12 minggu. Studi yang dimuat dalam European Journal of Social Psychology (2010) itu mendapati, pada peserta yang datanya bisa dimodelkan, bahwa perilaku terasa otomatis setelah sekitar 66 hari (median), dengan rentang perkiraan 18 sampai 254 hari. Angka ini bukan patokan pasti, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kebiasaan jarang terbentuk dalam tiga minggu. Karena perilaku yang diteliti tergolong sederhana, kebiasaan belajar yang lebih rumit bisa memakan waktu lebih lama. Siapa pun yang berhenti di minggu ketiga baru menempuh sekitar sepertiga dari median itu.
Keberhasilan seseorang ternyata tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar tenaga yang dikeluarkan setiap hari, tetapi juga oleh seberapa jauh ia mampu mengurangi hambatan untuk memulai.
Sebagai gambaran, mahasiswa yang sebelum tidur menaruh buku, catatan, dan pulpen di meja belajar akan lebih mudah memulai keesokan paginya dibandingkan dengan mahasiswa yang harus mencari catatannya lebih dulu di antara tumpukan baju. Perbedaannya tampak sederhana, tetapi menunjukkan bahwa lingkungan dan kebiasaan kecil dapat memengaruhi perilaku seseorang.
Disiplin ternyata bukan semata-mata persoalan melawan kemalasan. Disiplin juga berkaitan dengan bagaimana seseorang membangun kondisi yang membuat tindakan positif lebih mudah dilakukan.
Paksaan Itu Punya Tanggal Kedaluwarsa
Ada satu hal yang perlu diluruskan dari ungkapan tadi. Tujuan akhirnya bukan menjadikan manusia terus-menerus memaksakan dirinya, melainkan membangun pola kehidupan yang tidak lagi membutuhkan perjuangan besar untuk memulai setiap aktivitas.
Seseorang yang telah terbiasa belajar bukan berarti tidak pernah merasa malas. Ia hanya tidak selalu menjadikan rasa malas sebagai penentu tindakannya. Perbedaan antara orang yang menunggu motivasi dan orang yang telah membangun sistem kebiasaan terletak di situ.
Jika motivasi baru datang setelah kita mulai, mengapa kita masih menunggunya di depan pintu?
*****
Kholilur Rohman – Mahasiswa Fakultas Ilmu Keislaman (FIK), Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang
Aries Musnandar – Dosen Media Pembelajaran FIK dan Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang, menaruh perhatian pada ilmu pendidikan, pembelajaran, dan pengembangan karakter










