Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
No Result
View All Result
Home Opini

Refleksi dari Ruang Kelas: Nilai Sama dengan Masalah yang Berbeda

oleh: Asih Rohmadani dan Aries Musnandar

Kontributor by Kontributor
7 November 2026
A A
0
Marketplace Guru

Marketplace Guru

0
SHARES
35
VIEWS
Bagi di WhatsappBagi di Facebook

SeputarMalang.Com – Bayangkan sebuah kelas berisi tiga puluh dua murid. Di bangku depan ada anak yang sudah paham. Di bangku tengah ada anak yang baru paham setelah melihat contoh. Di sudut belakang ada anak yang sebenarnya mengerti, tetapi diam karena takut salah. Soalnya sama, gurunya sama, hasilnya berbeda-beda. Dan di buku nilai, mereka hanya tampil sebagai angka.

Angka itu menipu dengan tiga cara. Dua siswa bernilai sama bisa punya masalah yang berbeda. Siswa yang menjawab benar bisa jadi hanya menghafal. Dan satu target yang sama untuk semua membuat anak yang cepat berhenti berkembang, sementara anak yang butuh waktu lebih lama tampak lemah.

Dua siswa sama-sama mendapat nilai 50 dalam ulangan matematika. Siswa pertama sebenarnya memahami materi, tetapi sering keliru menghitung karena terburu-buru. Siswa kedua belum memahami konsep dasar yang digunakan dalam soal. Nilainya sama, tetapi penyebab kesulitannya berbeda.

Ambil soal pecahan. Siswa pertama sudah paham cara menyamakan penyebut, tetapi salah dalam perhitungan. Siswa kedua belum memahami mengapa penyebut harus disamakan sebelum pecahan dijumlahkan. Jika keduanya diberi latihan tambahan yang sama, salah satunya sedang diobati untuk penyakit yang tidak ia punya. Bahkan, akar masalahnya bisa jadi ada di materi sebelumnya yang belum tuntas dipelajari.

Nilai hanya memotret hasil, bukan prosesnya. Akibatnya, ketika guru menggunakan nilai ulangan sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan kemampuan siswa, guru berisiko memberikan bantuan yang tidak sesuai dengan kebutuhan sebenarnya.

Ketika Siswa Terlihat Memahami, Padahal Baru Menghafal

Siswa bisa menjawab pertanyaan guru dengan benar, tetapi belum tentu mampu menggunakannya dalam situasi yang berbeda.

Misalnya, dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam, seorang siswa diminta mempraktikkan wudu di depan kelas. Ia melewatkan bagian siku saat membasuh tangan, padahal ketika ditanya urutan wudu, ia menjawab dengan benar. Barulah setelah guru bertanya bagian mana yang harus dibasuh, ia menyadari kesalahannya. Ia hafal urutannya, tetapi belum memahami penerapannya. Jawaban lisan dan tes tertulis sering tidak menangkap hal ini; di atas kertas, ia tercatat paham.

Ada jarak antara mengingat dan memahami. Anak bisa menjawab dengan benar tanpa tahu mengapa jawabannya benar.

Marketplace Guru
Marketplace Guru

Anak yang selalu bernilai tinggi jarang dikhawatirkan. Justru di situ masalahnya: tak ada yang bertanya apa lagi yang bisa ia pelajari.

Karena sudah dianggap pintar, tugas yang ia terima selalu setingkat. Ia jarang diminta menulis argumentasi atau menganalisis persoalan, sehingga kemampuannya berhenti di tempat. Akibatnya, anak berprestasi belajar hal yang keliru: bahwa belajar berarti menyelesaikan tugas dengan benar, bukan menghadapi yang sulit.

Di sisi lain, ada siswa yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas. Ketika semua siswa diberi waktu dan target yang sama, ia mungkin belum sempat menunjukkan pemahamannya secara utuh. Akibatnya, siswa yang cepat dianggap lebih pintar, sedangkan siswa yang lebih lama terlihat kurang mampu.

Yang diukur di sini hanya kecepatan. Siswa yang cepat belum tentu paham mendalam, dan siswa yang butuh waktu lebih lama belum tentu lemah. Satu kelas diberi target yang sama, lalu hasilnya dibaca sebagai kemampuan.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan Guru?

Nilai, jawaban benar, dan kecepatan mengerjakan ternyata belum cukup untuk menggambarkan proses belajar seorang anak. Kabar baiknya, memahami perbedaan itu tidak harus menunggu perubahan besar. Tiga langkah sederhana bisa dimulai dari kelas sendiri.

Pertama, asesmen diagnostik. Ini merupakan tes singkat di awal materi yang digunakan untuk mencari tahu penyebab kesulitan siswa, dan konsep ini sudah dikenal dalam Kurikulum Merdeka. Misalnya sebelum materi pecahan, guru memberi tiga sampai lima soal pendek tentang penyebut. Dari jawaban itu terlihat siapa yang konsepnya belum kuat dan siapa yang hanya kurang teliti, sehingga bantuan yang diberikan tepat sasaran.

Kedua, tanyakan “mengapa” setelah jawaban benar. Siswa yang hafal urutan wudu bisa diminta menjelaskan alasannya atau langsung mempraktikkannya. Dari situ guru tahu siapa yang benar-benar paham.

Ketiga, tugas berjenjang. Satu materi bisa disajikan dalam beberapa tingkat: latihan penguatan, soal penerapan, dan tantangan seperti menulis argumen atau menganalisis kasus. Soal pecahan yang sama, misalnya, bisa punya versi menghitung, versi menjelaskan alasan, dan versi membuat soal sendiri. Siswa yang butuh waktu lebih lama tidak dikejar target yang sama, dan siswa yang cepat tidak berhenti berkembang.

Di ulangan berikutnya, catat jenis kesalahan siswa, bukan hanya nilainya. Tiga puluh dua anak itu bukan tiga puluh dua angka.

*****

Asih Rohmadani – Mahasiswa Fakultas Ilmu Keislaman, Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang.

Aries Musnandar –  Dosen Media Pembelajaran FIK dan Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang, menaruh perhatian pada ilmu pendidikan, pembelajaran, dan pengembangan karakter.

Tags: Mimbar MahasiswangopiniOpiniOpini MalangUnira Malang
SendShareShare
Kontributor

Kontributor

Related Posts

kegiatan ekstra kurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR)
Opini

Sekolah Rakyat Srigonco, Investasi Pendidikan dan Penggerak Ekonomi Daerah

by Kontributor
7 November 2026
41
Mencari Harmoni dalam Kekacauan
Opini

Saat Motivasi Menjadi Perangkap: Mengapa Disiplin Harus Berada di Depan Keinginan?

by Kontributor
7 November 2026
31
Meritokrasi dalam Demokrasi
Opini

Demonstrasi atau Sandiwara? Fenomena Mahasiswa Palsu di Balik Aksi Unjuk Rasa

by Kontributor
6 November 2026
22
Menggali Manfaat dan Risiko Digitalisasi
Opini

Membaca Tantangan Literasi Generasi Alpha

by Kontributor
4 November 2026
51
Kepemimpinan dan Wewenang
Opini

Peran Organisasi Kampus dalam Membentuk Jiwa Kepemimpinan dan Tanggung Jawab Mahasiswa

by Kontributor
4 November 2026
60

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Marketplace Guru

Refleksi dari Ruang Kelas: Nilai Sama dengan Masalah yang Berbeda

7 November 2026
35
kegiatan ekstra kurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR)

Sekolah Rakyat Srigonco, Investasi Pendidikan dan Penggerak Ekonomi Daerah

7 November 2026
41
Mencari Harmoni dalam Kekacauan

Saat Motivasi Menjadi Perangkap: Mengapa Disiplin Harus Berada di Depan Keinginan?

7 November 2026
31
Meritokrasi dalam Demokrasi

Demonstrasi atau Sandiwara? Fenomena Mahasiswa Palsu di Balik Aksi Unjuk Rasa

6 November 2026
22
Unira Malang Turut Inisiasi Gerakan Desa Maju dan Mandiri Kemendes

Unira Malang dan UNIQSAAS Malaysia Perkuat Jaringan Ilmu Islam Serantau

4 November 2026
59

Browse by Category

  • Agenda Even
  • Agenda Kampus
  • Agenda Sekolah
  • ASBF Malang Raya
  • Balaikota
  • Batu
  • Berita Kampus
  • Berita Sekolah
  • Bisnis
  • Blok
  • Blok Premium A
  • Blok Slider
  • Ekonomi
  • Hotel dan Resto
  • Jatim
  • Kab Malang
  • Kawan PMI
  • Kota Malang
  • Lifestyle
  • MCC
  • Nahdlatul Ulama
  • Nasional
  • Objek Wisata
  • Opini
  • Organisasi & Komunitas
  • Pekerja Migran Indonesia
  • Pelayanan Publik
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendopo
  • Perbankan
  • Pilihan Redaksi
  • Properti
  • Seni Budaya
  • Seputar Halokes
  • Seputar Inklusi
  • Seputar Kampus
  • Sosial
  • Sosok
  • Sports
  • Travel
  • Uncategorized
  • Wisata
  • World
Seputar Malang

Situs Informasi dan Berita Seputar Malang Raya

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema

No Result
View All Result
  • Home
  • Kota Malang
  • Kab Malang
  • Pendidikan
  • Opini
  • Tentang

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema