SeputarMalang.Com – Sebuah gedung sekolah yang berdiri megah belum tentu menjadi tanda keberhasilan pendidikan. Begitu pula, banyaknya siswa yang diterima tidak otomatis menunjukkan bahwa kualitas pendidikan telah meningkat. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya terletak pada sejauh mana sekolah mampu membuka kesempatan belajar, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
Pandangan tersebut relevan untuk melihat kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi Jatim 4 di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam edaran pada 31 Juli 2026, sekolah ini telah melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan jumlah sekitar 323 siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Kehadirannya menjadi harapan baru, khususnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang selama ini menghadapi keterbatasan dalam mengakses pendidikan yang layak.
Bagi saya, Sekolah Rakyat bukan sekadar program penyediaan pendidikan gratis. Program ini merupakan bentuk investasi sosial pemerintah untuk memperluas kesempatan, mengurangi kesenjangan pendidikan, dan memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi. Anak-anak yang memperoleh akses pendidikan hari ini memiliki peluang lebih besar untuk membangun kehidupan yang lebih baik pada masa mendatang.
Namun, jika dilihat dari perspektif ekonomi manajerial, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak cukup diukur dari pembangunan gedung atau jumlah siswa yang diterima. Ada persoalan yang jauh lebih penting, yaitu bagaimana pemerintah dan pengelola sekolah mengalokasikan sumber daya yang terbatas agar menghasilkan manfaat sebesar-besarnya.
Mengelola Anggaran, Menjaga Kualitas

Penyelenggaraan Sekolah Rakyat membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit. Anggaran tidak hanya digunakan untuk pembangunan gedung, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan asrama, makanan, perlengkapan belajar, listrik, air, tenaga pendidik, serta operasional sekolah sehari-hari. Seluruh kebutuhan tersebut harus direncanakan secara cermat agar tidak terjadi pemborosan.
Dalam ekonomi manajerial, efisiensi bukan berarti mengurangi anggaran secara sembarangan. Efisiensi berarti memastikan setiap sumber daya digunakan sesuai kebutuhan dan memberikan hasil yang optimal. Karena itu, pemerintah perlu memiliki perencanaan anggaran jangka panjang, pengawasan yang transparan, serta evaluasi terhadap penggunaan fasilitas dan kualitas pelayanan pendidikan.
Jangan sampai pembangunan sekolah dilakukan dengan investasi besar, tetapi kualitas pembelajaran justru menurun karena persoalan biaya operasional. Fasilitas yang lengkap juga tidak akan banyak berarti apabila tidak didukung oleh guru yang kompeten, tenaga pendukung yang memadai, dan sistem pengelolaan sekolah yang profesional.
Artinya, investasi pendidikan harus menempatkan kualitas manusia sebagai prioritas utama, bukan sekadar pembangunan infrastruktur.
Sekolah Rakyat dan Peluang Ekonomi Masyarakat
Ada satu hal yang menurut saya juga perlu mendapatkan perhatian: manfaat ekonomi Sekolah Rakyat seharusnya tidak berhenti pada para siswa. Kehadiran sekolah di Desa Srigonco semestinya dapat membuka peluang bagi masyarakat sekitar untuk ikut berkembang.
Kegiatan operasional sekolah membutuhkan berbagai barang dan jasa, mulai dari bahan makanan, kebutuhan sehari-hari, transportasi, hingga layanan pendukung lainnya. Kebutuhan tersebut berpotensi menjadi ruang ekonomi bagi pelaku usaha kecil dan masyarakat lokal.
Pemerintah dan pengelola sekolah dapat membangun kerja sama dengan UMKM, petani, pedagang, serta penyedia jasa di sekitar Desa Srigonco. Masyarakat juga berpeluang terlibat sebagai tenaga kerja sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan. Tentu, pelibatan tersebut harus tetap memperhatikan standar kualitas, harga yang wajar, dan ketentuan pengadaan yang berlaku.
Langkah ini penting agar Sekolah Rakyat tidak menjadi institusi yang berdiri sendiri di tengah masyarakat, melainkan tumbuh bersama lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, perputaran ekonomi lokal dapat meningkat dan manfaat program pemerintah dirasakan lebih luas.
Mengukur Keberhasilan dari Dampak Nyata
Meski demikian, pendidikan gratis tidak serta-merta menghilangkan kemiskinan. Siswa tetap membutuhkan pendampingan, pembinaan karakter, pengembangan keterampilan, dan pembelajaran yang sesuai dengan perubahan zaman. Mereka perlu dipersiapkan bukan hanya untuk menyelesaikan pendidikan formal, tetapi juga untuk menghadapi dunia kerja, membangun usaha, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Karena itu, evaluasi Sekolah Rakyat perlu dilakukan secara berkala. Pemerintah harus melihat perkembangan kemampuan siswa, kualitas tenaga pendidik, efektivitas penggunaan fasilitas, keberlanjutan pembiayaan, hingga manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat sekitar. Ukuran keberhasilan tidak semestinya hanya berorientasi pada besarnya anggaran yang terserap, tetapi pada perubahan nyata yang dihasilkan.
Pada akhirnya, saya memandang Sekolah Rakyat Terintegrasi Jatim 4 di Desa Srigonco sebagai peluang investasi pendidikan yang strategis bagi masa depan Kabupaten Malang. Namun, investasi tersebut hanya akan memberikan hasil optimal apabila dikelola secara efektif, efisien, transparan, dan berkelanjutan.
Keberhasilan Sekolah Rakyat bukanlah ketika bangunannya berdiri megah atau jumlah siswanya terus bertambah. Keberhasilan sejati hadir ketika anak-anak memperoleh pendidikan berkualitas, memiliki keterampilan untuk memperbaiki masa depan mereka, dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka. Lebih dari itu, masyarakat sekitar juga ikut merasakan manfaat ekonominya.
Sebab, sekolah yang baik bukan hanya tempat anak-anak membangun masa depan, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk tumbuh dan maju bersama.
****
Lisa Nurmala – Mahasiswa Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unira Malang










