SeputarMalang.Com – Bayangkan sebuah kelas berisi tiga puluh dua murid. Di bangku depan ada anak yang sudah paham. Di bangku tengah ada anak yang baru paham setelah melihat contoh. Di sudut belakang ada anak yang sebenarnya mengerti, tetapi diam karena takut salah. Soalnya sama, gurunya sama, hasilnya berbeda-beda. Dan di buku nilai, mereka hanya tampil sebagai angka.
Angka itu menipu dengan tiga cara. Dua siswa bernilai sama bisa punya masalah yang berbeda. Siswa yang menjawab benar bisa jadi hanya menghafal. Dan satu target yang sama untuk semua membuat anak yang cepat berhenti berkembang, sementara anak yang butuh waktu lebih lama tampak lemah.
Dua siswa sama-sama mendapat nilai 50 dalam ulangan matematika. Siswa pertama sebenarnya memahami materi, tetapi sering keliru menghitung karena terburu-buru. Siswa kedua belum memahami konsep dasar yang digunakan dalam soal. Nilainya sama, tetapi penyebab kesulitannya berbeda.
Ambil soal pecahan. Siswa pertama sudah paham cara menyamakan penyebut, tetapi salah dalam perhitungan. Siswa kedua belum memahami mengapa penyebut harus disamakan sebelum pecahan dijumlahkan. Jika keduanya diberi latihan tambahan yang sama, salah satunya sedang diobati untuk penyakit yang tidak ia punya. Bahkan, akar masalahnya bisa jadi ada di materi sebelumnya yang belum tuntas dipelajari.
Nilai hanya memotret hasil, bukan prosesnya. Akibatnya, ketika guru menggunakan nilai ulangan sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan kemampuan siswa, guru berisiko memberikan bantuan yang tidak sesuai dengan kebutuhan sebenarnya.
Ketika Siswa Terlihat Memahami, Padahal Baru Menghafal
Siswa bisa menjawab pertanyaan guru dengan benar, tetapi belum tentu mampu menggunakannya dalam situasi yang berbeda.
Misalnya, dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam, seorang siswa diminta mempraktikkan wudu di depan kelas. Ia melewatkan bagian siku saat membasuh tangan, padahal ketika ditanya urutan wudu, ia menjawab dengan benar. Barulah setelah guru bertanya bagian mana yang harus dibasuh, ia menyadari kesalahannya. Ia hafal urutannya, tetapi belum memahami penerapannya. Jawaban lisan dan tes tertulis sering tidak menangkap hal ini; di atas kertas, ia tercatat paham.
Ada jarak antara mengingat dan memahami. Anak bisa menjawab dengan benar tanpa tahu mengapa jawabannya benar.

Anak yang selalu bernilai tinggi jarang dikhawatirkan. Justru di situ masalahnya: tak ada yang bertanya apa lagi yang bisa ia pelajari.
Karena sudah dianggap pintar, tugas yang ia terima selalu setingkat. Ia jarang diminta menulis argumentasi atau menganalisis persoalan, sehingga kemampuannya berhenti di tempat. Akibatnya, anak berprestasi belajar hal yang keliru: bahwa belajar berarti menyelesaikan tugas dengan benar, bukan menghadapi yang sulit.
Di sisi lain, ada siswa yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas. Ketika semua siswa diberi waktu dan target yang sama, ia mungkin belum sempat menunjukkan pemahamannya secara utuh. Akibatnya, siswa yang cepat dianggap lebih pintar, sedangkan siswa yang lebih lama terlihat kurang mampu.
Yang diukur di sini hanya kecepatan. Siswa yang cepat belum tentu paham mendalam, dan siswa yang butuh waktu lebih lama belum tentu lemah. Satu kelas diberi target yang sama, lalu hasilnya dibaca sebagai kemampuan.
Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan Guru?
Nilai, jawaban benar, dan kecepatan mengerjakan ternyata belum cukup untuk menggambarkan proses belajar seorang anak. Kabar baiknya, memahami perbedaan itu tidak harus menunggu perubahan besar. Tiga langkah sederhana bisa dimulai dari kelas sendiri.
Pertama, asesmen diagnostik. Ini merupakan tes singkat di awal materi yang digunakan untuk mencari tahu penyebab kesulitan siswa, dan konsep ini sudah dikenal dalam Kurikulum Merdeka. Misalnya sebelum materi pecahan, guru memberi tiga sampai lima soal pendek tentang penyebut. Dari jawaban itu terlihat siapa yang konsepnya belum kuat dan siapa yang hanya kurang teliti, sehingga bantuan yang diberikan tepat sasaran.
Kedua, tanyakan “mengapa” setelah jawaban benar. Siswa yang hafal urutan wudu bisa diminta menjelaskan alasannya atau langsung mempraktikkannya. Dari situ guru tahu siapa yang benar-benar paham.
Ketiga, tugas berjenjang. Satu materi bisa disajikan dalam beberapa tingkat: latihan penguatan, soal penerapan, dan tantangan seperti menulis argumen atau menganalisis kasus. Soal pecahan yang sama, misalnya, bisa punya versi menghitung, versi menjelaskan alasan, dan versi membuat soal sendiri. Siswa yang butuh waktu lebih lama tidak dikejar target yang sama, dan siswa yang cepat tidak berhenti berkembang.
Di ulangan berikutnya, catat jenis kesalahan siswa, bukan hanya nilainya. Tiga puluh dua anak itu bukan tiga puluh dua angka.
*****
Asih Rohmadani – Mahasiswa Fakultas Ilmu Keislaman, Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang.
Aries Musnandar – Dosen Media Pembelajaran FIK dan Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang, menaruh perhatian pada ilmu pendidikan, pembelajaran, dan pengembangan karakter.










