SeputarMalang.Com – Krisis energi dunia kerap dipahami sebagai persoalan pasokan minyak, gas, listrik, dan penguasaan teknologi. Padahal, di baliknya terdapat persoalan lebih mendasar: untuk apa ilmu pengetahuan dikembangkan, bagaimana kekuasaan digunakan, dan siapa yang menikmati sumber daya alam?
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memperlihatkan eratnya hubungan antara energi, keamanan, dan kepentingan nasional. Gangguan produksi maupun distribusi energi dapat memengaruhi harga kebutuhan pokok, industri, dan kehidupan masyarakat lintas negara. Energi dengan demikian bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan instrumen strategis dalam hubungan internasional.
Namun, kemajuan ilmu dan teknologi tidak selalu sejalan dengan kebijaksanaan. Sumber daya yang semestinya menopang kesejahteraan dapat berubah menjadi objek perebutan, sementara dampak sosial dan ekologisnya ditanggung oleh masyarakat luas. Krisis energi karena itu juga merupakan persoalan etika peradaban.
Pengalaman historis Nusantara dan Persia, meskipun memiliki latar budaya berbeda, menawarkan pelajaran penting untuk merefleksikan persoalan tersebut.
Nusantara: Kesahajaan dan Etika Kekuasaan
Nusantara mewariskan nilai-nilai kehidupan seperti gotong royong, kepedulian sosial, kebiasaan berbagi, dan penghormatan terhadap alam. Pesantren, masyarakat desa, serta komunitas adat menunjukkan bahwa peradaban tidak hanya dibangun melalui kemegahan kekuasaan dan kecanggihan teknologi, tetapi juga melalui solidaritas dan kemampuan menjaga kehidupan bersama.

Nilai kesahajaan tersebut relevan ketika dunia menghadapi tekanan ekologis dan ketidakpastian energi. Alam menyediakan sumber daya bagi manusia, tetapi pemanfaatannya harus memperhatikan daya dukung lingkungan serta hak generasi mendatang. Kemajuan seharusnya memperluas kesejahteraan, bukan membenarkan konsumsi tanpa batas.
Dalam konteks ini, kekuasaan juga harus dijalankan dengan etika. Kepatuhan terhadap aturan memang penting, tetapi belum cukup tanpa keteladanan dan empati kepada masyarakat. Dalam perspektif Islam, amanah bukan sekadar kewenangan mengelola sumber daya, melainkan tanggung jawab moral. Semakin besar kekuasaan, semakin besar pula tuntutan untuk mengendalikan diri dan mendahulukan kepentingan bersama.
Dengan demikian, kearifan Nusantara bukan sekadar warisan budaya, melainkan landasan etis untuk menilai bagaimana masyarakat dan pemegang kekuasaan memperlakukan sesama serta lingkungan.
Persia: Tradisi Ilmu dan Kemandirian Teknologi
Jika Nusantara memberikan pelajaran tentang solidaritas dan kesahajaan, sejarah Persia memperlihatkan kekuatan tradisi intelektual. Selama berabad-abad, para pemikir dan ilmuwan dalam peradaban Persia-Islam berkontribusi terhadap perkembangan filsafat, kedokteran, matematika, astronomi, dan metafisika.
Warisan tersebut mengingatkan bahwa kemajuan membutuhkan lingkungan yang menghargai ilmu, tradisi berpikir, lembaga pendidikan, serta penelitian yang berkesinambungan. Pengetahuan tidak tumbuh dalam ruang kosong, melainkan memerlukan dukungan sosial dan politik.
Pengalaman Iran modern memberikan perspektif tambahan mengenai pentingnya kemandirian teknologi di tengah tekanan eksternal dan pembatasan internasional. Pengembangan kemampuan ilmiah dan teknologi domestik, termasuk sektor energi, memperlihatkan bahwa penguasaan pengetahuan merupakan bagian penting dari kemandirian strategis.
Tentu, pengalaman Iran perlu dipahami secara proporsional dengan mempertimbangkan kompleksitas hubungan internasional, keamanan kawasan, dan kontroversi program nuklirnya. Kemandirian teknologi tidak dapat dilepaskan dari tujuan penggunaan serta konsekuensi geopolitiknya.
Bagi Indonesia, pelajarannya jelas: ketergantungan berlebihan pada teknologi luar dapat menjadi kelemahan ketika rantai pasok terganggu atau hubungan internasional memburuk. Karena itu, riset, pendidikan sains, inovasi, dan kapasitas industri perlu diperkuat. Kemandirian bukan berarti menutup diri, melainkan membangun kemampuan agar kerja sama internasional berlangsung lebih setara.
Pendidikan sebagai Jembatan Ilmu dan Etika
Pengalaman Nusantara dan Persia mempertemukan kita pada satu persoalan penting, yakni pendidikan. Kemajuan tidak cukup dibangun melalui penguasaan sumber daya dan kemampuan teknis. Peradaban membutuhkan manusia yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan pertimbangan moral.
Dalam khazanah Islam, konsep qana’ah mengajarkan pengendalian keinginan dan tidak menjadikan kepemilikan materi sebagai ukuran utama keberhasilan hidup. Nilai ini bukan berarti menolak inovasi atau peningkatan kesejahteraan, melainkan mengingatkan agar kemajuan tetap memperhatikan keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan.
Dalam kebijakan energi, pertanyaannya bukan hanya berapa banyak energi diproduksi, tetapi juga siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung dampak lingkungannya. Ketersediaan energi harus disertai keterjangkauan, pemerataan, dan keberlanjutan.
Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis untuk membangun kesadaran tersebut. Pendidikan energi tidak cukup mengajarkan eksplorasi sumber daya dan pengembangan teknologi. Mahasiswa juga perlu memahami dimensi sosial, ekonomi, politik, dan ekologis dari setiap keputusan teknologi. Insinyur, ekonom, dan pemimpin publik harus memiliki kompetensi sekaligus tanggung jawab moral.
Warisan pemikiran Hamzah Fansuri dan Raja Ali Haji dari Nusantara, serta Saadi Shirazi dan Mulla Sadra dari Persia, memperlihatkan kekayaan tradisi intelektual yang dapat memperkaya dialog tentang manusia, pengetahuan, dan kehidupan. Pemikiran mereka menjadi sumber refleksi untuk membangun orientasi ilmu yang lebih manusiawi.
Nusantara mengajarkan kesahajaan dan solidaritas sosial, sedangkan Persia memberikan inspirasi tentang tradisi intelektual dan pentingnya kemandirian ilmu pengetahuan. Keduanya mengingatkan bahwa pengetahuan dan sumber daya harus digunakan untuk memperbaiki kehidupan manusia.
Di tengah badai geopolitik global, krisis energi bukan semata ujian kemampuan teknologi, melainkan juga ujian kematangan peradaban. Teknologi diperlukan untuk memperkuat ketahanan energi dan ilmu pengetahuan untuk membangun kemandirian. Namun, keduanya harus diarahkan oleh etika agar tidak berubah menjadi instrumen eksploitasi dan perebutan kepentingan.
Ilmu membutuhkan etika, kemandirian membutuhkan tanggung jawab, dan kekuasaan membutuhkan empati. Peradaban yang matang bukan hanya mampu menguasai energi, teknologi, dan sumber daya, tetapi juga menggunakannya secara adil, bijaksana, dan berkelanjutan demi kemaslahatan manusia.
*****
Imron Rosyadi Hamid – Rektor Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang dan pemerhati Hubungan Internasional yang aktif membahas serta menulis isu-isu global di berbagai media massa.
Aries Musnandar – Dosen Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang dan pemerhati ilmu pendidikan dan pembangunan karakter bangsa serta SDM dengan pengalaman kerja 20 tahun di Dunia Usaha dan Industri (DUDI) pada level manajerial termasuk perusahaan multinasional.
Mehdi Soltanzadeh – Peneliti sejarah dan kebudayaan Iran yang merupakan Senior Lecturer di Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya, Malaysia










