SeputarMalang.Com – Apa jadinya jika pohon tanpa akar? Pasti roboh! Kenapa akar sangat penting untuk diperhatikan? Pohon yang tumbuh, apapun pohonnya, jika akarnya menjadi busuk, maka bisa dipastikan pohon tersebut bakal mati. Sekuat dan setinggi apapun sebuah pohon, jika akarnya sudah busuk dan melapuk, cepat atau lambat pohon tersebut pasti mati lalu roboh. Demikian juga dalam berbagai hal di kehidupan ini. Termasuk dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Masyarakat yang akarnya menjadi rusak, busuk dan lapuk, pasti cepat atau lambat bakal roboh dan hancur lebur. Juga ketika sebuah bangsa dan negara, yang akarnya menjadi rusak, busuk dan lapuk, pasti cepat atau lambat bakal roboh dan hancur lebur.

Dengan mengetahui makna dan filosofi AKAR, sekarang cobalah lihat sekeliling kehidupan kita. Tidak perlu terlalu jauh atau terlalu tinggi. Coba tengok akar-akar di dalam keluarga diri kita masing-masing. Akar-akar yang berupa nilai-nilai keluhuran dan kemuliaan hidup, termasuk Adab dan Adat Istiadat, apakah semakin rusak dan melapuk? Atau masih kuat menancap dan tumbuh subur? Bisa kita pastikan, di dalam keluarga yang akar-akarnya kuat, pastilah mampu tumbuh sehat dan subur. Meskipun situasi dan kondisi di luar keluarga sedang tidak baik-baik saja. Demikian juga sebaliknya, ketika di dalam keluarga yang akar-akarnya sudah rusak, membusuk dan lapuk, pastilah hanya menunggu keluarga tersebut roboh dan hancur berantakan.
Akar adalah Hukum Alam. Sebuah keniscayaan. Siapapun dan apapun yang tidak mempunyai akar-akar yang kuat, pastilah mudah dirobohkan dan dihancur leburkan. Program kerja apapun, jika tidak mempunyai akar-akar yang kuat, pasti roboh dan hancur lebur. Itu Hukum Alam. Bukan sulapan. Dan Hukum Alam tidak akan pernah bisa dimanipulasi oleh siapapun. Bisa dibuktikan, siapapun yang mencoba memanipulasi Hukum Alam, pasti akan mendapatkan kehancuran. Pasti ada waktunya untuk dihukum dengan seadil-adilnya. Tanpa toleransi. Tanpa remisi. Juga tanpa amnesti maupun abolisi. Dibayar Tunai oleh Hukum Alam.
Dengan selalu mengingat Hukum Alam tentang AKAR, maka sebenarnya kita sedang belajar untuk selalu membumi. Setinggi apapun kita terbang, pasti turun atau jatuhnya ke bumi juga. Berlomba-lomba naik ke puncak dan cita-cita setinggi apapun, pasti turun dan jatuhnya juga ke bumi. Kembali ke Akar. Orang-orang yang lupa daratan/ lupa diri, ketika dirinya sedang naik atau berada di puncak, pasti akan diadili oleh Hukum Alam. Cepat atau lambat, itu hanyalah soal waktu. Hukum Alam adalah Sebuah Kepastian. Dan kepastiannya, tidak ada ruang sedikitpun untuk tawar menawar. Selalu diadili dan dibayar tunai oleh Hukum Alam.
Pada kehidupan bermasyarakat, yang dibangun dari akar-akar kehidupan keluarga yang harmonis, berbudi luhur dan beradab, pastilah menjadi ruang kehidupan bersama yang membahagiakan dan memuliakan. Demikian juga dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, yang dibangun dari kehidupan bermasyarakat yang berbudaya, beradab dan berbudi luhur, pastilah menjadi bangsa dan negara yang kuat menghadapi tantangan apapun. Baik tantangan dari dalam negeri, maupun tantangan dari luar negeri. Sekarang, coba tengok bagaimana bangsa dan negara kita? Bagaimana kehidupan bermasyarakat yang ada di sekeliling kita? Lalu, bagaimana dengan kehidupan keluarga kita sendiri? Apakah ada akar-akarnya yang semakin rusak, membusuk dan lapuk? Atau, justru akar-akar yang ada di dalam diri kita sendiri yang semakin rusak, membusuk dan lapuk?
Lantas, bagaimana jika seorang pemimpin, baik pemimpin keluarga, pemimpin masyarakat, pemimpin organisasi hingga pemimpin bangsa dan negara, yang ternyata di dalamnya dirinya akar-akarnya sudah semakin rusak, membusuk dan lapuk? Apa dampaknya terhadap kelestarian lingkungan alam? Apa bahayanya bagi kehidupan kita semuanya?
Semakin banyak para pemimpin, mulai dari level terendah sampai level tertinggi, yang membicarakan Pohon, Buah, Bunga, Daun, Cabang, Ranting dan lain-lain sebagainya, yang tampak dari luarnya saja. Tapi semakin lupa membahas perihal akar-akarnya yang tidak tampak dari luar. Sehingga, semakin banyak yang akar-akarnya membusuk, rusak dan melapuk. Semakin banyak yang kehilangan akar-akarnya, dan hidupnya fatamorgana di awang-awang belaka. Tanpa menyadari, bahwa justru semua fatamorgana dan awang-awang yang dibicarakannya, semua buah, bunga, daun, cabang, ranting dan lain sebagainya, adalah sebuah kesia-sian pada akhirnya. Karena semuanya tidak punya akar-akarnya. Hingga pada akhirnya, Hukum Alam akan mengadili dengan seadil-adilnya. Tanpa kompromi. Tanpa permisi. Tanpa basa-basi. Kelak, pasti dibayar lunas oleh Hukum Alam.
Sekarang, bagaimana dengan akar-akar yang ada di dalam diri kita masing-masing? Masihkah kita mempunyai akar? Sudah rusakkah akar di dalam diri kita masing-masing? Semakin membusukkah? Atau justru diri kita sebenarnya sudah roboh dan tumbang. Sudah kalah dari kehidupan. Sehingga, sudah hanya tinggal menunggu Tuhan Yang Maha Kuasa memanggil, “sekarang, saatnya kamu pulang! “







