SeputarMalang.Com – Di era yang semakin menonjolkan prinsip-prinsip No Viral No Justice, masyarakat (public) semakin mudah tergiring opininya dengan media massa. Bahkan akun media sosial seorang tokoh yang sudah dipandang sebagai seorang influencer, seringkali lebih mudah dipercaya sebagai satu-satunya sumber utama informasi atau pemberitaan. Prinsip Trial by The Press, sudah bergeser jauh. Yang dulunya hanya digerakkan oleh kalangan press/ media massa berpengaruh, saat ini bisa digerakkan oleh perorangan/ individu melalui akun media sosialnya. Lantas, apa dampaknya dengan manajemen reputasi Perguruan Tinggi?

Banyak data-data yang bisa kita temukan terkait semakin rendahnya minat baca yang mendalam dari generasi muda saat ini. Sebaliknya, budaya membaca secara “scanning” semakin tumbuh subur. Seiring dengan bertumbuhnya budaya menikmati kilasan-kilasan informasi yang disajikan secara membanjir di berbagai platform media sosial. Maka, tidak heran jika saat ini generasi muda kita kesulitan untuk membaca, memahami, mencerna dan menggunakan nalar secara kritis serta sehat. Jika generasi mudanya kesulitan membaca, memahami, dan menalar, maka persoalannya bukan sekadar pendidikan—melainkan masa depan peradaban itu sendiri. Lantas, apa peran Perguruan Tinggi saat ini? Dan bagaimana Pers Rilis bisa kita jadikan stimulan untuk membangun nalar kritis dan sehat?
Fenomena Trial by the Public Opinion sudah sangat sering kita lihat. Bahkan semakin menggejala terjadi di mana-mana. Masyarakat (public) begitu mudahnya dipengaruhi, didistraksi/ dipecah belah dan diarahkan pemikirannya berdasarkan asumsi atau opini yang sudah dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu. Dampak negatifnya, pada akhirnya semakin merugikan masyarakat lebih luas. Ketidak percayaan publik terhadap berbagai informasi yang disajikan, menjadi tantangan yang lebih serius bagi semua organisasi dan instansi untuk membangun manajemen reputasinya.
Oleh karena itu, merancang dan mengeksekusi sebuah Pers Rilis, sudah tidak bisa lagi hanya sekedar Standar Operasional Prosedur (SOP) atau rutinitas tugas biasa saja. Karena Pers Rilis yang sudah “dipersenjatai” dengan sebaik-baiknya, justru menjadi media yang sangat strategis dan powerful untuk melawan segala bentuk Trial by the Public Opinion ataupun Trial by The Press. Sehingga, manajemen krisis dan manajemen reputasi, bisa dikembangkan dengan sebaik-baiknya. Bukankah mencegah sangat lebih baik daripada mengobati? Dan, langkah antisipasi melalui Pers Rilis yang komprehensif, di masa depan justru menjadi jaring penyelamatan ketika dinamika krisis datang menerjang.
Tantangannya sekarang adalah bagaimana merumuskan dan mengeksekusi rangkaian Pers Rilis bagi organisasi atau instansi, untuk bisa mempublikasikan Pers Rilis yang mampu menjadi jaring penyelamatan dari berbagai bentuk pola-pola Trial by the Public Opinion atau Trial by the Press? Karena tidak semua data yang ada, bisa diolah menjadi amunisi Pers Rilis yang mampu menangkal praktik-praktik Trial by the Public Opinion. Sisi urgensi dan target jangkauan Pers Rilis yang benar-benar tersegmentasi, juga harus dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya.
Tim SMC Pro saat ini sedang mengembangkan pola-pola publikasi Pers Rilis yang benar-benar berdampak positif. Bukan hanya untuk upaya merespons atau reaksioner ketika menghadapi manajemen krisis. Tetapi juga sebagai upaya menyebarkan Jaring Penyelamatan ketika menghadapi dinamika yang benar-benar mempertaruhkan reputasi organisasi, instansi dan institusi yang sedang diterjang badai gelombang Trial by the Public Opinion. Parameternya bukan hanya sekedar menghitung seberapa banyak frekuensi Pers Rilis disebarkan. Juga bukan hanya sekedar berhitung seberapa banyak kanal media massa yang menyebarkan. Lebih jauh dari itu, juga harus bisa diukur dampak psikologis massa (public) yang ditimbulkan oleh terbitnya sebuah Pers Rilis dari Tim SMC Pro. Serta beberapa parameter yang lebih mendalam lagi lainnya.









