Malang, SeputarMalang.Com – Kepala Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang Asep Kusdinar, S.Hut., M.H. mengajak seluruh satuan pendidikan untuk membangun branding sekolah yang positif sekaligus menumbuhkan budaya bermedia sosial yang beretika sebagai bagian dari penguatan karakter dan komunikasi publik di era digital.
Pesan tersebut disampaikan Asep saat membuka Media Talkshow School PR Upgrade: Strategi Branding Sekolah di Era Digital yang diselenggarakan oleh Malang Posco Media bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur di East Java Super Corridor (EJSC) Bakorwil III Malang, Rabu (1/7/2026). Kegiatan ini diikuti puluhan kepala sekolah, guru, tenaga kehumasan, dan pengelola media sosial sekolah dari wilayah Malang Raya.

Dalam sambutannya, Asep menegaskan bahwa transformasi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi sekaligus membentuk persepsi terhadap lembaga pendidikan. Karena itu, sekolah dituntut mampu mengelola komunikasi publik secara profesional melalui berbagai platform digital.
“Di era digital, media sosial telah menjadi wajah pertama sebuah institusi. Apa yang dipublikasikan sekolah akan membentuk persepsi masyarakat. Oleh karena itu, manfaatkan media sosial untuk menyampaikan prestasi, inovasi, program unggulan, serta berbagai praktik baik yang dimiliki sekolah,” ujar Asep.
Menurutnya, branding sekolah bukan sekadar meningkatkan popularitas, tetapi membangun kepercayaan publik melalui komunikasi yang terbuka, jujur, dan konsisten.
“Branding yang baik lahir dari kualitas layanan, prestasi, inovasi, dan komunikasi yang dilakukan secara berkelanjutan. Ketika sekolah mampu menyampaikan informasi yang positif dan bermanfaat, maka kepercayaan masyarakat akan tumbuh dengan sendirinya,” imbuhnya.
Lebih jauh, Asep mengingatkan bahwa pemanfaatan media sosial harus selalu diiringi dengan etika dan tanggung jawab sebagai warga digital.
“Bijaklah dalam menggunakan media sosial. Pastikan setiap informasi yang dibagikan telah terverifikasi, tidak mengandung hoaks, tidak menyebarkan ujaran kebencian, serta tidak memicu perpecahan. Jadikan media sosial sebagai ruang untuk mengedukasi, menginspirasi, dan mempererat persaudaraan,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga adab dalam setiap interaksi di ruang digital.
“Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi adab tidak boleh tertinggal. Etika dalam berkomunikasi harus tetap dijunjung tinggi, baik saat membuat konten maupun ketika memberikan komentar. Mari membiasakan penggunaan bahasa yang santun, menghargai perbedaan pendapat, tidak melakukan perundungan siber, serta selalu mengedepankan nilai-nilai saling menghormati. Jejak digital akan selalu menjadi cerminan karakter kita,” jelasnya.
Asep menilai sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki literasi digital, etika komunikasi, dan karakter yang kuat.
“Guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan teladan dalam memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. Pendidikan karakter harus hadir pula di ruang digital agar peserta didik tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berintegritas, dan berakhlak mulia,” katanya.
Melalui kegiatan ini, Asep berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara pemerintah, media massa, dan dunia pendidikan dalam meningkatkan kapasitas kehumasan sekolah serta memperluas penyebarluasan informasi publik yang positif.
“Kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah, media, dan sekolah harus saling mendukung untuk membangun ekosistem informasi yang sehat. Ketika komunikasi publik berjalan dengan baik, kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan juga akan semakin meningkat,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Dr. Aries Agung Paewai, S.STP., M.M. mendorong setiap sekolah untuk memperkuat strategi branding melalui pengelolaan media sosial yang profesional, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Menurutnya, setiap sekolah memiliki banyak prestasi dan kisah inspiratif yang layak dipublikasikan sehingga dapat memperkuat citra pendidikan Jawa Timur.
Media Talkshow ini menghadirkan praktisi media dan komunikasi sebagai narasumber yang membahas strategi membangun citra sekolah, pengelolaan kehumasan, penyusunan konten digital yang efektif, hingga pemanfaatan media sosial sebagai sarana komunikasi publik. Diharapkan, kegiatan ini mampu meningkatkan kapasitas humas sekolah dalam membangun reputasi lembaga yang kredibel, adaptif, dan dipercaya masyarakat.
“Penguatan kapasitas kehumasan sekolah dan literasi digital merupakan bagian dari upaya membangun sumber daya manusia unggul yang akan menjadi fondasi terwujudnya kawasan Malang Raya Megapolitan serta pengembangan Jawa Timur bagian selatan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Karena itu, budaya komunikasi yang positif, etis, dan bertanggung jawab harus menjadi karakter bersama seluruh ekosistem pendidikan.” tutup Asep.










