SeputarMalang.Com – Catatan Buku 1 Abad Stadion Gajayana, Stadio E’sport Indische adalah nama yang disematkan Pemerintah Hindia Belanda pada Agustus 1926, masa kemerdekaan berubah menjadi Stadion Dalam Kota Malang. Dan menjadi Stadion Gajayana sekitar tahun 1978, hingga sekarang.
Sedari awal, Stadion ini tidak dirancang sebagai arena olahraga semata. Namun, sebagai ruang sosial warga bertemu, berinteraksi dan berdialektika.
Dalam perspektif ekonomi publik, stadion sebagai public goods yang manfaatnya bersifat kolektif dan melampaui nilai komersial semata (Samuelson, 1954).
Karena Stadion Gajayana sebagai infrastruktur publik dapat menjadi multiplier effect sekaligus memperkuat kohesi sosial. Demikian yang menjadi trigger keberadaannya hingga kini.

Sementara itu, NU (Nahdlatul Ulama) selama seratus tahun telah berkembang menjadi entitas jam’iyyah yang bukan hanya mengelola urusan keagamaan, tetapi juga menjaga tatanan sosial, ekonomi, dan kebudayaan umat.
NU membangun tradisi dan pesantren menjadi episentrumnya, sedangkan majelis ilmu dan jaringan sosial menjadi penguat ketersambungan sanad dan tradisi keilmuan.
Sejarah mencatat bahwa NU senantiasa hadir pada momen-momen krusial bangsa, mulai dari perjuangan kemerdekaan hingga penguatan demokrasi dan moderasi beragama.
Dalam teori modal sosial, jaringan kepercayaan dan norma bersama seperti yang dimiliki NU terbukti meningkatkan kapasitas kolektif masyarakat untuk bertahan dan berkembang (Putnam, 1993).
Tahun 2026 menjadi tonggak penting bagi perjalanan Kota Malang dan Indonesia. Dua entitas yang lahir dari konteks sejarah yang berbeda, namun sama-sama mengakar kuat dalam memori kolektif bangsa, memasuki usia satu abad. Adalah Stadion Gajayana dan NU.
Satunya berupa ruang publik fisik, yang lain jam’iyyah sosial-keagamaan. Keduanya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan simpul peradaban yang membentuk tradisi, kontribusi, dan arah masa depan peradaban.
Mujahadah Akbar 100 Tahun NU di Stadion Gajayana
Even hari ini menarik untuk mempertautkan antara Stadion Gajayana dan NU dalam perspektif nostalgia sosial. Svetlana Boym (2001) menegaskan bahwa nostalgia bukan sekadar kerinduan emosional, tetapi mekanisme sosial untuk menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Nostalgia reflektif memungkinkan masyarakat memaknai sejarah sebagai sumber pembelajaran, bukan sekadar romantisasi. Dalam konteks ini, peringatan satu abad bukanlah upaya mengulang masa lalu, melainkan merefleksikannya demi memperkuat peradaban ke depan.
Stadion Gajayana menyimpan nostalgia kolektif warga, tentang semangat kompetisi, kebersamaan, dan identitas lokal.
Namun nostalgia tersebut baru bernilai strategis ketika diterjemahkan menjadi kebijakan publik yang adaptif. Perlunya penguatan ekonomi kreatif berbasis komunitas dengan miqat Stadion Gajayana.
Miqat ini mengorkestrasi ekonomi dan nostalgia: memori kolektif menjadi aset ikonis yang dapat memperkuat daya saing Kota Malang tanpa kehilangan ruh sosialnya.
Lantas bagaimana dengan pertautannya dengan NU? Tradisi-tradisi NU kerap dianggap sebagai warisan masa lalu.
Namun dalam perspektif sosiologi ekonomi, tradisi justru berfungsi sebagai institusi informal yang menjaga keseimbangan antara nilai spiritual dan kebutuhan sosial-ekonomi umat, mulai dari pendidikan, filantropi, hingga ekonomi berbasis solidaritas.
Tema Mujahadah NU, “Memperkokoh Jam’iyyah, Tradisi, Kontribusi, dan Mengembangkan Peradaban” menemukan relevansinya. Jam’iyyah bukan hanya struktur organisasi, melainkan ruang kolektif tempat nilai dan tindakan bertemu.
NU harus menjadi jam’iyyah yang kokoh untuk dapat melahirkan kontribusi nyata bagi peradaban. Dan Stadion Gajayana, sebagai ruang publik, menjalankan fungsi simbolik, mempertemukan warga, membangun solidaritas dan menumbuhkan rasa memiliki.
Dalam teori ekonomi moral yang dikemukakan Karl Polanyi (1944), pasar dan pembangunan seharusnya embedded dalam struktur sosial dan budaya.
Stadion Gajayana dan NU sama-sama membuktikan bahwa pembangunan yang berkelanjutan tidak bisa dilepaskan dari nilai, tradisi, dan institusi sosial.
Ketika nostalgia dikelola secara reflektif, ia menjadi energi sosial yang memperkuat, bukan menghambat modernisasi.
Peringatan satu abad keduanya menjadi momentum dialog lintas generasi. Generasi muda tidak diajak sekadar mengenang, tetapi memahami bahwa sejarah adalah modal peradaban. Stadion Gajayana dapat dikembangkan sebagai pusat interaksi budaya dan ekonomi warga, sementara NU sebagai salah satu pilar keindonesiaan, memperkuat perannya sebagai penjaga nilai, etika sosial, dan keberlanjutan umat.
Satu abad Stadion Gajayana dan NU mengajarkan satu hal penting: peradaban yang kuat lahir dari kemampuan merawat tradisi, memperkokoh jam’iyyah, dan menerjemahkan nostalgia menjadi kontribusi nyata bagi masa depan.
Wal akhir, sejarah tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi bergerak sebagai fondasi peradaban yang hidup. Wallahu’alam Bishawab.
Stadion Gajayana, 8 Februari 2026
* Warga NU Kota Malang, Dosen FEB Universitas Islam Raden Rahmat





