SeputarMalang.Com – Pernahkah kita melihat pemandangan ini di sekolah? Lantai baru saja dipel bersih mengilap. Tapi kain pel yang masih basah dan kotor justru di’geletak’kan di atas tanaman hias di sudut teras.
Niatnya bersih, tapi caranya justru membuat lingkungan terlihat tidak terawat.
Dari pengamatan kami sebagai pendidik, fenomena ini sering terjadi. Alasannya terdengar praktis: “hanya sebentar biar kering”, “mudah dijangkau nanti”, atau “tidak ada tempat menggantungnya”. Padahal, kebiasaan kecil ini menyimpan persoalan besar tentang cara kita memaknai kebersihan.
Banyak orang mengartikan bersih hanya sebagai hilangnya sampah dan debu. Padahal WHO menjelaskan, lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang bersih, hijau, tertata, dan nyaman. Tanaman di halaman sekolah bukan sekadar hiasan. Ia adalah ruang hijau yang menyejukkan mata dan memberi manfaat kesehatan.
Ketika pel diletakkan di atasnya, apa yang terjadi?

Pertama, estetika rusak. Taman yang asri tiba-tiba terganggu oleh kain pel yang kusam dan basah. Lingkungan yang tertata memberi kesan dikelola dengan baik. Sebaliknya, pel yang diletakkan sembarangan memberi kesan jorok.
Kedua, tanaman bisa rusak bahkan mati. Ini lebih berbahaya daripada sapu. Pel itu basah, berat, dan sering mengandung sisa deterjen. Daun menjadi tertekuk dan busuk karena lembap, batang yang rapuh membusuk karena tertindih, dan sisa air kimia bisa merusak media tanam. Tanaman itu makhluk hidup, bukan jemuran pel.
Ketiga, ini soal etika ekologis. Etika lingkungan mengajarkan kita untuk menghormati fungsi setiap bagian lingkungan. UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 67 menegaskan kewajiban setiap orang untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup. Meletakkan pel di atas tanaman bukan pelanggaran hukum, tapi semangat undang-undang itu relevan sebagai landasan etis untuk bertanggung jawab, bahkan lewat keputusan kecil.
Lalu mengapa kebiasaan ini terus terjadi? Dari pengamatan kami, penyebabnya adalah kebiasaan salah kaprah menganggap tanaman sebagai tempat jemuran praktis, fasilitas penyimpanan yang terbatas, kebiasaan yang tidak pernah dikoreksi sehingga dianggap wajar, dan kurangnya kesadaran bahwa pel yang baru dipakai itu kotor.
Solusinya tidak cukup dengan teguran. Perubahan perilaku harus didukung oleh fasilitas dan pembiasaan.
Setidaknya, ada lima langkah sederhana yang bisa dilakukan: Pertama, sediakan gantungan khusus Pel. Buat rak atau gantungan besi sederhana di tempat yang terkena matahari tapi tidak mengganggu. Beri label “Tempat Jemur Pel”.
Kedua, buat aturan sederhana dan visual. Buat kesepakatan: “Setelah pakai, peras dan gantung kembali”. Pasang petunjuk visual.
Ketiga, Biasakan Menggantung, Bukan Meletakkan. Ajarkan bahwa tugas mengepel belum selesai sebelum pel digantung rapi. Tanggung jawab tidak berhenti setelah lantai bersih.
Keempat, Lindungi Tanaman. Perlakukan tanaman sebagai aset sekolah. Beri pembatas kecil atau tanda: “Ini area hijau, bukan tempat jemuran”.
Dan kelima, edukasi lewat Keteladanan. Sebagai Guru PAI, kebersihan adalah sebagian dari iman, tapi memelihara makhluk hidup juga bagian dari akhlak. Ketika guru memberi contoh merapikan pel dengan benar, siswa akan menirunya.
Pada akhirnya, lingkungan yang berkualitas lahir dari tiga hal berikut: fasilitas yang memadai, aturan yang jelas, dan perilaku yang bertanggung jawab.
Fenomena pel di atas tanaman ini bisa menjadi bahan pembelajaran karakter yang sangat baik. Kita bisa mengajarkan bahwa peduli lingkungan tidak selalu harus menanam seribu pohon. Cukup dengan tidak menjadikan tanaman sebagai jemuran pel.
Dari hal kecil itulah budaya bersih, indah, dan berkelanjutan dibangun.










