Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
No Result
View All Result
Home Opini

Melampaui Dikotomi: Pendidikan Islam Adalah Pendidikan Ruhani

oleh: Dr. Aries Musnandar

Kontributor by Kontributor
22 Oktober 2026
A A
0
Dok. SMC Pro

Dok. SMC Pro

0
SHARES
16
VIEWS
Bagi di WhatsappBagi di Facebook

SeputarMalang.Com – Masih banyak buku pendidikan Islam, bahkan yang terbit tahun 2015, yang masih terjebak pada dikotomi lama: ini pendidikan agama, itu pendidikan umum. Pesantren dianggap lebih Islami karena porsi pelajaran agamanya lebih banyak. Pandangan seperti ini sudah tidak relevan untuk menjawab tantangan pendidikan di era milenial dan Society 5.0.

Keresahan ini didiskusikan dalam sebuah kajian pagi bersama guru Prof. Dr. Imam Suprayogo. Beliau meluruskannya dengan sebuah pertanyaan yang sangat mendasar: sebenarnya agama itu mengurus apa, dan pendidikan umum itu mengurus apa?

Menurut Prof. Imam, agama itu mengurus ruhani. Itulah mengapa agamawan disebut juga rohaniawan atau ruhaniawan. Manusia terdiri dari jasmani dan ruhani, dhohir dan batin. Yang batin itulah wilayah agama. Agama mengurus hati.

Dok. SMC Pro
Dok. SMC Pro

Sedangkan urusan dhohir, urusan kehidupan dunia, Nabi Muhammad SAW sendiri telah memberikan ruang yang sangat luas dengan sabdanya: Antum a’lamu bi umuri dunyākum — kamu lebih tahu tentang urusan duniamu. Membuat tata kota, membangun kampus yang unggul, melahirkan inovasi dan teknologi informasi, itu semua diserahkan kepada kreativitas manusia.

Lalu, apa yang tidak bisa dikerjakan manusia sendiri? Prof. Imam memberi contoh yang menohok: kita semua senang dengan sifat sabar, tapi kita tidak bisa membuat diri kita sendiri menjadi sabar. Kita ingin menjadi ikhlas dan jujur, tapi kita tidak bisa memproduksi keikhlasan dan kejujuran itu dari diri kita sendiri.

Di sinilah berlaku firman Allah: Yas’alūnaka ‘anir-rūh, qulir-rūhu min amri rabbī — ruh itu adalah urusan Tuhanku. Hati yang sakit karena iri, dengki, takabur dan tamak itu tidak bisa disembuhkan dengan motivator, ia butuh intervensi dan didikan langsung dari Allah dan Rasul-Nya.

Caranya bagaimana? Dengan sambung. Kita harus menyambung kepada Muhammad, dan Muhammad-lah yang akan menyambungkan kita kepada Allah. Karena Allah tidak berbentuk, tidak berupa, tidak bersuara dan tidak beralamat, bagaimana kita bisa menyambung? Maka kita diperintahkan untuk berwasilah kepada Muhammad. Satu-satunya yang bisa sampai kepada Allah adalah Muhammad. Bahkan dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, Malaikat Jibril pun berhenti di langit ketujuh, tidak berani masuk. Jibril saja tidak layak masuk, apalagi kita.

Inilah hakikat sholat yang sering kita lupakan. Sholat harus betul-betul nyambung. Jangan sampai ketika lisan mengucap Allahu Akbar, ingatan kita malah lari ke pasar, ke kampus, ke bank, bahkan menghitung sisa tabungan. Itu namanya belum sholat.

Karena ingatan manusia itu sangat lincah, Islam memberi titik fokus yang luar biasa: Baitullah. Ka’bah itu hanyalah tanda bahwa di situlah Baitullah berada. Betapa pentingnya tempat itu, sampai seluruh umat Islam di dunia, dari Indonesia menghadap ke barat, dari Rusia menghadap ke selatan, dari Yaman menghadap ke utara, diperintahkan 5 kali sehari semalam menghadap ke titik yang sama.

Mengapa? Karena di situlah hakikatnya tempat ruh kita pertama kali ditiupkan dan kelak akan kembali. Sholat adalah latihan rutin 5 kali sehari untuk tahu alamat pulang. Dan ketika ingatan kita benar-benar berada di sana, di sanalah Allah mencabut penyakit di dalam dada kita.

Maka pendidikan agama untuk anak milenial hari ini, kata Prof. Imam, bukanlah menambah beban hafalan, tapi mengajak mereka untuk bersambung. Mengikuti Rasul. Yang diikuti bukan cara makannya atau model pakaiannya, itu boleh-boleh saja, tapi yang paling utama adalah meniru sifatnya: Shiddiq (berpegang pada kebenaran), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan kebenaran), dan Fathonah (cerdas).

Jika hatinya sudah dididik oleh Allah dan Rasul, maka semuanya akan beres. Menjadi dokter yang hatinya diurus Allah, akan menjadi dokter yang bagus. Menjadi pejabat yang hatinya diurus Rasul, akan menjadi pejabat yang bagus. Menjadi guru yang hatinya diurus Allah, akan menjadi guru yang bagus. Karena yang dilihat Allah bukan tubuh, baju, kopiah atau sorbannya, tapi hatinya: Innallaha la yandzuru ila suwarikum wa ajsamikum, walakin yandzuru ila qulubikum.

Lalu bagaimana dengan kemajuan dunia? Lihatlah Jepang, Korea, Cina, Rusia, Amerika dan Eropa. Tanpa label agama, mereka maju pesat. Sebelum pandemi, Prof. Imam melihat langsung di Rusia bagaimana mereka membangun jalan alternatif di bawah tanah sedalam 100 meter, bahkan di bawah laut sampai 7 lantai. Itu bisa terjadi karena mereka serius mengamalkan Antum a’lamu bi umuri dunyākum.

Kesimpulannya, dikotomi itu bukan pembagian mata pelajaran, tapi pembagian wilayah kerja. Wilayah agama adalah mengurus hati yang tidak bisa dilakukan manusia sendiri. Wilayah umum adalah mengurus kehidupan dunia yang diserahkan kepada ikhtiar dan kreativitas manusia. Dan kehidupan dunia itu akan menjadi bagus, amanah dan beradab, kalau hatinya sudah dididik oleh Allah dan Rasul.

—————

Penulis: Dosen Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang

Kolaborator Kajian: Prof. Dr. Imam Suprayogo, Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tags: ngopiniOpiniUnira Malang
SendShareShare
Kontributor

Kontributor

Related Posts

Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist
Opini

AMOR FATI

by Wahyu Eko Setiawan
13 Oktober 2026
9
Dok. SMCPro
Opini

Menyoal Bisnis Militer dan Supremasi Sipil

by Abdillah
5 Oktober 2026
119
Dok. SMC Pro
Jatim

Malang Raya Megapolitan: Dari Fragmentasi Menuju Integrasi Kawasan

by Kontributor
4 Agustus 2026
61
Gagasan Malang Raya Megapolitan, dari Ego Wilayah Menuju Tata Kelola Kolaboratif
Opini

Gagasan Malang Raya Megapolitan, dari Ego Wilayah Menuju Tata Kelola Kolaboratif

by Abdillah
23 Juli 2026
61
Dok. Tim SeputarMalang
Opini

Final Antiklimaks – One Way Traffic

by Kontributor
20 Juli 2026
70

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Dok. SMC Pro

Melampaui Dikotomi: Pendidikan Islam Adalah Pendidikan Ruhani

22 Oktober 2026
16
Tim Kerja TosanAji.id bersama Muhammad Ali Yasin di Kantor Yayasan Insan Mutia

OBASINDO Memperkuat Daya Dukung Program Prioritas dan Direktif Presiden RI Dalam Lingkup Kementrian Kebudayaan

13 Oktober 2026
27
Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist

AMOR FATI

13 Oktober 2026
9
Dok. SMCPro

Potensi Desa dan Ketahanan Pangan Jadi Kunci Akselerasi Pembangunan Jawa Timur

9 Oktober 2026
10
Dok. SMCPro

Menyoal Bisnis Militer dan Supremasi Sipil

5 Oktober 2026
119

Browse by Category

  • Agenda Even
  • Agenda Kampus
  • Agenda Sekolah
  • ASBF Malang Raya
  • Balaikota
  • Batu
  • Berita Kampus
  • Berita Sekolah
  • Bisnis
  • Blok
  • Blok Premium A
  • Blok Slider
  • Ekonomi
  • Hotel dan Resto
  • Jatim
  • Kab Malang
  • Kawan PMI
  • Kota Malang
  • Lifestyle
  • MCC
  • Nahdlatul Ulama
  • Nasional
  • Objek Wisata
  • Opini
  • Organisasi & Komunitas
  • Pekerja Migran Indonesia
  • Pelayanan Publik
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendopo
  • Perbankan
  • Pilihan Redaksi
  • Properti
  • Seni Budaya
  • Seputar Halokes
  • Seputar Inklusi
  • Seputar Kampus
  • Sosial
  • Sosok
  • Sports
  • Travel
  • Uncategorized
  • Wisata
  • World
Seputar Malang

Situs Informasi dan Berita Seputar Malang Raya

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema

No Result
View All Result
  • Home
  • Kota Malang
  • Kab Malang
  • Pendidikan
  • Opini
  • Tentang

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema