SeputarMalang.Com – Partai Final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina menjadi pertandingan antiklimaks turnamen sepakbola paling akbar sejagat itu. Spanyol menggunakan formasi ofensif 4-1-3-2 andalannya, tanpa striker dan mengandalkan Lamine Yamal (Barcelona), Dani Olmo (Barcelona) dan dibantu oleh gelandang serang Fabian Ruiz (PSG).
Argentina di bawah Lionel Scaloni menggunakan pola 4-4-2 atau formasi berlian dengan mengandalkan Julian Alvarez (Atletico Madrid), Lionel Messi (Inter Miami), kadang dibantu Nicolaz Gonsalez (Juventus), Alexis Mac Allister (Liverpool), dll. Begitu pertandingan berjalan, Messi didorong agak ke belakang, karena serangan Spanyol benar-benar seperti gelombang.

Pola permainan Spanyol sangat padu dan dahsyat, penguasaan bola nyaris tidak pernah lepas. Begitu satu orang kehilangan bola, teman yang paling dekat berusaha merebut bola. Teman lain di sebelah atau di belakangnya menjaga pemain Argentina atau berusaha memotong bola. Rencana permainan (game plan) Argentina benar-benar tidak berjalan sesuai rencana. Spanyol terlihat sangat mendominasi permainan. Para pemain mampu menguasai bola dengan tiki-taka andalannya, tidak hanya secara horizontal vertikal, atau memindahkan operan pendek dari belakang, lalu ke tengah, lalu berpindah ke depan, dan diakhiri tendangan ke arah gawang.
Statistik pertandingan dengan 20 vs 0 tendangan ke arah gawang telah menjelaskan hal itu semua. Pemain Argentina terlihat sangat frustrasi bahkan sering memancing provokasi pemain Spanyol. Ada 5 kartu kuning untuk Argentina dan 1 kartu merah atau 2 akulumasi kartu kuning untuk Enzo Fernandez (Chelsea) di akhir babak kedua.
Permainan yang sangat tidak berimbang sejak babak pertama benar-benar menjadi one-way traffic, setelah Argentina hanya bermain dengan 10 orang dan penyerang Julian Alvarez (Atletico Madrid) ditarik keluar dan memilih bertahan total. Argentina mampu menahan Spanyol hingga 90 menit waktu normal dan masa perpanjangan waktu babak pertama.
Pada babak kedua, gempuran Spanyol dilakukan sejak pluit wasit dibunyikan. Dalam suatu build-up serangan Spanyol pada menit pertama (106) itu, umpan terobosan ke sisi kanan gawang Emi Martinez (Aston Villa), bola yang nyaris keluar garis, diselamatkan atau disundul ke dalam oleh Nico Williams (Athletic Bilbao), lalu disambar oleh Ferran Torres (Barcelona), 1-0 untuk Spanyol.
Setelah ketinggalan satu gol, Argentina terlihat mulai berani keluar menyerang, memaksakan diri untuk membawa bola ke depan. Messi mulai berusaha membuka lebar lapangan, sehingga terlihat banyak ruang kosong dan terbuka. Akan tetapi, semua sudah terlalu terlambat, apalagi hanya dengan 10 orang pemain dan tidak ada sosok penyerang tulen yang haus gol. Bahkan, berhubung lapangan tengah Argentina sangat terbuka, Ferran Torres terlepas dari penjagaan, melakulan solo-run dan mencetak gol lagi. Akan tetapi, gol itu dianulir hakim garis yang menganggap Torres berada dalam posisi offside.
Pertandingan final antiklimaks yang cenderung one-way traffic itu hanya menghasilkan beberapa tendangan penjuru saja bagi Argentina. Total tendangan yang dilepaskan pemain Argentina hanya tercatat 3 kali. Total tendangan ke arah gawang tidak ada, alias 0. Sekali lagi, pertandingan final Spanyol vs Argentina ini adalah antiklimaks, berbeda dengan perebutan medali perunggu Inggris vs Prancis yang menghasilkan 10 gol, dengan total skor 6-4 dan menghasilkan rekor baru Piala Dunia. Misalnya, Kylian Mbappe (Real Madrid) menciptakan 10 gol atau terbanyak pada Piala Dunia 2026, yang juga mencatatkan rekor 20 gol atau terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia. Bukayo Saka (Arsenal) mencetak hattrick bagi Inggris, Jude Bellingham (Real.Madrid) mencetak 7 gol, dan Ousmane Dembele (PSG) mencetak 6 gol, bersama dengan Erling Haaland (Manchester City).
Selamat kepada Spanyol yang telah menjadi Juara Dunia kedua kalinya, setelah 16 tahun lalu di Afrika Selatan 2010. Pelatih Luis de la Fuente telah membawa Spanyol Juara Eropa 2024 dan Juara Dunia 2026 dengan kombinasi materi pemain muda dan pemain senior berpengalaman. Tiga pemain Spanyol merebut penghargaan pemain terbaik: Kiper Unai Simon (Athletic Bilbao) sebagai Penjaga Gawang Terbaik mendapat hadiah Golden Gloves dengan hanya satu kebobolan, Rodri (Manchester City) mendapat hadiah Golden Ball sebagai Pemain Terbaik, dan Pau Cubarsi (Barcelona) sebagai Pemain Muda Terbaik.
Penulis: BA, Penikmat Sepak Bola dan Kuliner










