Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
No Result
View All Result
Home Opini

Jembatan Sifat Kenabian dalam Menata Realitas Zahir

oleh: Aries Musnandar dan Imam Suprayogo

Kontributor by Kontributor
29 Oktober 2026
A A
0
Dok. SMC Pro

Dok. SMC Pro

0
SHARES
10
VIEWS
Bagi di WhatsappBagi di Facebook

SeputarMalang.Com –  Dalam artikel “Tiga Pilar Best Practices Menuju Umat yang Unggul dan Bermakna” , menekankan pentingnya akurasi data, integritas eksekusi, dan kedaulatan riset dalam urusan duniawi. Namun, sebuah pertanyaan metodologis yang mendasar dan provokatif muncul ke permukaan: Bagaimana cara mengurus wilayah batin (ruhani) manusia agar secara otomatis berdampak pada perbaikan aspek lahiriah (zahir) di sektor ekonomi, politik, hukum, dan teknologi?

Menjawab tantangan terbesar pendidikan Islam ini, kita perlu melihat kembali bagaimana esensi risalah kenabian bekerja. Rasulullah SAW pada hakikatnya tidak terlibat langsung dalam mengurus hal-hal yang bersifat mekanistik-jasmaniah atau urusan teknis-dzahiriyah. Fokus utama risalah kenabian adalah melakukan reformasi total pada wilayah ruhani. Paradigma ini didasarkan pada hukum kausalitas spiritual yang radikal: jika ruhani manusia sudah diurus dan menjadi baik, maka secara otomatis aspek zahir, berupa: tindakan, kebijakan, hingga karya peradaban. Demikian akan ikut menjadi baik.

Membedah Anatomi “Insaan”

Pendidikan Agama Islam (PAI) kontemporer sering kali gagal membumi karena terjebak mengajarkan aturan-aturan lahiriah tanpa menyentuh transformasi batin. Akibatnya, lahir paradoks kesalehan ritual yang tidak berdampak pada integritas publik. Padahal, batin adalah kemudi utama bagi seluruh gerak fisik manusia. Prinsip ini sejalan dengan penegasan Allah SWT dalam QS. As-Syu’ara’ (26): 88-89 bahwa keselamatan manusia hanya ditentukan oleh batin yang bersih (qalbun salim).

Dalam mendudukkan transformasi ini, kita perlu berhati-hati terhadap istilah yang terlanjur populer seperti insan kamil (manusia sempurna). Jika kita menelusuri anatomi teks Al-Qur’an, penyebutan kata “Insaan” sebenarnya lebih tertuju pada aspek fisik, jasmani, atau dimensi dzahir semata. Celakanya, dalam narasi Al-Qur’an, aspek fisik-dzahir bernama insaan ini hampir seluruhnya dilekatkan pada konotasi yang kurang baik; seperti makhluk yang ingkar, kikir, tergesa-gesa, zalim, lagi bodoh (zhaluman jahula). Sifat bawaan fisik manusia ini rentan berkelindan dengan bisikan setan.

Oleh karena itu, menyandingkan kata insaan dengan kamil (sempurna) menjadi tidak sejalan dengan hakikat antropologi Al-Qur’an. Dimensi fisik-jasmani manusia tidak akan pernah mencapai kesempurnaan hakiki; ia adalah wadah yang rapuh. Manusia baru bisa melompat dari level insaan (makhluk fisik yang lemah) menuju level tertinggi sebagai seorang Mukmin yang profetik apabila ruhaninya berhasil diintervensi oleh kurikulum wahyu.

Ketika transformasi wilayah qalbun salim (ruhani) ini berhasil, ia tidak berhenti menjadi konsep teoritis, melainkan mewujud menjadi empat sifat utama kenabian (as-sifat al-arab’ah): Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah. Empat sifat inilah yang bertindak sebagai “jembatan emas” yang menghubungkan kesalehan batin dengan profesionalisme zahir di dunia nyata.

Dua Domain dan Otonomi Duniawi

Dok. SMC Pro
Aries Musnandar (Wakil Direktur Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat Malang) dan Imam Suprayogo (GB UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)

Dari pemahaman tentang kedudukan insaan itulah, Islam membagi dua wilayah aktivitas yang berbeda dan berdiri sendiri. Pertama, Domain Ruhani yang merupakan wilayah mutlak wahyu yang diurus oleh agama dengan muara penyempurnaan akhlak. Kedua, Domain Jasmani (Dunia) yang meliputi sains, teknologi, dan tata kelola fisik.

Pada domain duniawi inilah, kita diingatkan pada sebuah hadis riwayat Imam Muslim yang sangat fundamental: “Antum a’lamu bi umuri dunyakum” (Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian). Hadis ini adalah hulu dari kedaulatan riset dan otonomi akal. Rasulullah SAW memberikan keleluasaan penuh bagi manusia untuk memikirkan, mengeksplorasi, dan memajukan urusan teknis-mekanistik di bumi.

Pemisahan domain yang tegas ini menjelaskan secara objektif mengapa bangsa Barat atau non-Muslim mampu memimpin peradaban modern. Mereka unggul secara jasmani karena mereka serius menggarap hukum kausalitas empiris (sunnatullah fisik) yang memang menjadi wilayah otonom “antum a’lamu bi umuri dunyakum” tersebut.

Shalat: Transformasi dari “Insaan” ke “Mukmin”

Lantas, di mana titik temu yang mengendalikan potensi liar dari dimensi jasmani (insaan) yang mengurusi dunia otonom tersebut? Hubungannya adalah pengendalian moral melalui kurikulum ibadah, khususnya shalat.

Di sinilah letak reorientasi maknanya. Shalat yang dipahami esensinya dan dijalankan secara benar sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Hadis bukanlah kegiatan mekanis untuk mengubah status dari muslim ke mukmin, melainkan sebuah proses transformasi spiritual yang radikal: mengubah manusia dari level Insaan menuju level Mukmin.

Shalat adalah alat latih ruhani untuk mengintervensi tabiat buruk bawaan insaan (yang kikir, tergesa-gesa, dan zalim) agar tunduk di bawah kendali iman. Ketika seorang manusia berhasil naik kelas menjadi seorang Mukmin, maka ruhani yang terdidik itu akan menjelma menjadi kompas moral dan “rem spiritual”.

Manusia yang setiap harinya berkelindan dengan urusan dunia yang keras dan penuh godaan—baik di sektor manufaktur, birokrasi, riset teknologi, hingga politik—akan terjaga. Kedaulatan mereka dalam mengurus dunia tidak akan berubah menjadi sifat destruktif. Secara eksplisit Al-Qur’an menegaskan bahwa shalat yang benar pasti mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Output sosial dari transformasi insaan ke mukmin ini adalah lahirnya prinsip Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah sebagai jembatan penata realitas zahir.

Kesimpulan

Pekerjaan apa saja di dunia zahir ini, baik politik, ekonomi, hukum, pendidikan, maupun sosial. Jika pengelolanya memiliki kualitas ruhani yang memancar dalam sifat Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah, maka hasilnya dipastikan akan luar biasa.

Sinergi ini membuktikan esensi pemikiran integratif: PAI yang berhasil “menghidupkan ruhnya” tidak perlu mendikte aspek teknis-mekanistik dari urusan duniawi. Tugas utamanya adalah fokus mencetak manusia-manusia profetik. Ketika manusia-manusia tersebut telah selesai dengan urusan batinnya, mereka secara otomatis akan mereformasi wajah dunia zahir menjadi peradaban yang penuh berkah.

Tags: MimbarngopiniOpiniOpini Malang
SendShareShare
Kontributor

Kontributor

Related Posts

Ka-Ki: Samsul Arifin, S.Pd.I. (Guru PAI SDN Tenggilisrejo, Gondangwetan, Pasuruan dan Mahasiswa MPAI Pascasarjana UNIRA Malang), Dr. Aries Musnandar (Dosen MPAI Pascasarjana UNIRA Malang)
Opini

Pel di Atas Tanaman: Ketika Niat Bersih Justru Merusak Keindahan

by Kontributor
27 Oktober 2026
47
Ka-Ki: Imam Khambali, Mahasiswa MPAI UNIRA Malang dan Aries Musnandar, Dosen MPAI UNIRA Malang
Opini

Menguatkan Disiplin Anak, Menumbuhkan Akhlak dan Perdamaian

by Kontributor
26 Oktober 2026
29
Dok. SMC Pro
Opini

Melampaui Dikotomi: Pendidikan Islam Adalah Pendidikan Ruhani

by Kontributor
22 Oktober 2026
120
Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist
Opini

AMOR FATI

by Wahyu Eko Setiawan
13 Oktober 2026
13
Dok. SMCPro
Opini

Menyoal Bisnis Militer dan Supremasi Sipil

by Abdillah
5 Oktober 2026
125

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Dok. SMC Pro

Jembatan Sifat Kenabian dalam Menata Realitas Zahir

29 Oktober 2026
10
Ka-Ki: Samsul Arifin, S.Pd.I. (Guru PAI SDN Tenggilisrejo, Gondangwetan, Pasuruan dan Mahasiswa MPAI Pascasarjana UNIRA Malang), Dr. Aries Musnandar (Dosen MPAI Pascasarjana UNIRA Malang)

Pel di Atas Tanaman: Ketika Niat Bersih Justru Merusak Keindahan

27 Oktober 2026
47
Ka-Ki: Imam Khambali, Mahasiswa MPAI UNIRA Malang dan Aries Musnandar, Dosen MPAI UNIRA Malang

Menguatkan Disiplin Anak, Menumbuhkan Akhlak dan Perdamaian

26 Oktober 2026
29
Dok. SMC Pro

Melampaui Dikotomi: Pendidikan Islam Adalah Pendidikan Ruhani

22 Oktober 2026
120
Tim Kerja TosanAji.id bersama Muhammad Ali Yasin di Kantor Yayasan Insan Mutia

OBASINDO Memperkuat Daya Dukung Program Prioritas dan Direktif Presiden RI Dalam Lingkup Kementrian Kebudayaan

13 Oktober 2026
39

Browse by Category

  • Agenda Even
  • Agenda Kampus
  • Agenda Sekolah
  • ASBF Malang Raya
  • Balaikota
  • Batu
  • Berita Kampus
  • Berita Sekolah
  • Bisnis
  • Blok
  • Blok Premium A
  • Blok Slider
  • Ekonomi
  • Hotel dan Resto
  • Jatim
  • Kab Malang
  • Kawan PMI
  • Kota Malang
  • Lifestyle
  • MCC
  • Nahdlatul Ulama
  • Nasional
  • Objek Wisata
  • Opini
  • Organisasi & Komunitas
  • Pekerja Migran Indonesia
  • Pelayanan Publik
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendopo
  • Perbankan
  • Pilihan Redaksi
  • Properti
  • Seni Budaya
  • Seputar Halokes
  • Seputar Inklusi
  • Seputar Kampus
  • Sosial
  • Sosok
  • Sports
  • Travel
  • Uncategorized
  • Wisata
  • World
Seputar Malang

Situs Informasi dan Berita Seputar Malang Raya

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema

No Result
View All Result
  • Home
  • Kota Malang
  • Kab Malang
  • Pendidikan
  • Opini
  • Tentang

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema