Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
No Result
View All Result
Home Pendidikan

Membangun Meritokrasi Pendidikan Indonesia

Abe by Abe
24 Desember 2019
A A
0
Membangun Meritokrasi Pendidikan Indonesia

Meritokrasi Pendidikan Indonesia

0
SHARES
111
VIEWS
Bagi di WhatsappBagi di Facebook
Meritokrasi Pendidikan Indonesia

SeputarMalang.Com  –  SELAMA ini, sistem pendidikan Indonesia dikelola di dalam suatu sistem birokrasi dengan mata rantai yang panjang, mulai dari tingkat kementerian dengan perangkat birokrasinya, provinsi dengan perangkat birokrasinya, kabupaten dengan perangkat birokrasinya, hingga sekolah yang pada kenyataannya juga sudah menjadi sistem birokrasi tersendiri. Pakem yang digenggam erat-erat ini membuat sistem pendidikan kita menjadi terpuruk, bahkan tidaklah berlebihan jika dikatakan sebagai “biang keladi” terjadinya (jika ada) gejala pendangkalan intelektual dalam sistem pendidikan kita.

Sejatinya, pemerintah bukanlah eksekutor pendidikan, namun lebih berperan sebagai regulator, facilitator, reward provider, atau performance applauder (John Gray et al., 2011). Pertanyaannya, adakah sistem selain birokrasi yang dapat lebih berperan dalam mengelola pendidikan?Tentu ada, yaitu sistem profesional.Pendidikan di negara maju umumnya dikelola secara profesional, oleh orang-orang yang profesional, dan dalam mekanisme ketenagaan dan institusi yang profesional pula.Jika ada ungkapan yang mengatakan bahwa pemerintah mengeksekusi pendidikan nasional, itu adalah ungkapan yang menyiratkan bahwa kita telah gagal memahami hakikat pendidikan yang paling hakiki.

Jika bukan pemerintah, lalu siapakah yang menjadi eksekutor pendidikan? Dalam sistem yang profesional misalnya, guru bukanlah bawahan kepala sekolah, karena guru adalah jabatan profesional yang tidak dapat ‘diganggu’ kepala sekolah yang perilakunya mirip seperti seorang birokrat. Fungsi kepala sekolah seharusnya bukan sebagai birokrat, melainkan seorang pemimpin profesional yang memberikan fasilitas dan melayani guru agar dapat mengajar dengan kompetensi profesionalnya yang bermutu. Sehubungan dengan ini, kepala sekolah pun seharusnya bukan bawahan kepala dinas, karena kepala sekolah seharusnya adalah pimpinan yang profesional dan lebih mengetahui keadaan serta permasalahan sekolahnya. Pengembang kurikulum bukanlah bawahan menteri, karena menteri tidak akan pernah memahami detail tentang mana kurikulum yang baik dan mana yang kurang baik, dan seterusnya. Dengan iklim profesional inilah sistem meritokrasi dapat bekerja secara perlahan tetapi pasti menuju perwujudan pendidikan yang bermutu.

Hanya kebijakan berbasis merit yang dapat menjamin transformasi pembelajaran. Analisis ini diilhami teori meritokrasi dalam analisis kebijakan pendidikan.Meritokrasi bukanlah konsep yang baru, sebagaimana telah dibahas tuntas oleh John Gray et al. sejak 40 tahun yang lalu (Karabel dan Halsey, 1977).Meritokrasi adalah sebuah konsep kebijakan pendidikan yang berkembang sejak akhir abad ke-20 di Amerika Serikat, setelah munculnya gerakan yang disebut technological society pada pertengahan abad ke-20 di Eropa.Gerakan ini menolak gejala politisasi dan birokratisasi dalam pengelolaan pendidikan; sekaligus mengajukan alternatif, yaitu keahlian dan profesionalisme, yang seharusnya menjadi penentu kebijakan yang bermutu.

Malaysia terkenal sebagai salah satu negara yang sukses menjadikan pendidikan sebagai barometer untuk memajukan bangsa.Sementara itu, di Indonesia justru terjadi perdebatan yang cukup panjang perihal implementasi pasal 31 ayat (4) UUD 1945.Perdebatan itu mempermasalahkan apakah anggaran pendidikan minimal 20% itu termasuk gaji guru dan pendidikan kedinasan atau tidak.Akhirnya, diputuskan untuk memasukkan kedua mata anggaran yang jumlahnya paling besar tersebut ke dalam 20% anggaran pendidikan. Padahal, tanpa harus melakukan perdebatan apa pun, Malaysia telah menempatkan dirinya sebagai salah satu negara dengan anggaran pendidikan tertinggi di dunia tidak lama setelah terlepas sebagai koloni Inggris. Saat Indonesia masih mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 3,9% dari APBN (Boediono dan McMahon, 1992), Malaysia telah mengukir prestasi yang sungguh mengesankan dengan mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 21%dari APBN, atau lebih dari 5% dari PDB. Keberuntungan seperti ini belum pernah dijumpai di Indonesia selama periode 7 (tujuh) periode kepemimpinan nasionalnya.

Dengan basis anggaran yang besar, Malaysia bukan hanya berhasil membentuk guru yang profesional dan kesejahteraan yang memadai, membangun sarana/prasarana pendidikan yang modern, serta mewujudkan proses pembelajaran yang bermutu, tetapi juga sukses dalam mewujudkan kultur meritokrasi pendidikan. Bagi Malaysia, meritokrasi adalah keniscayaan, sehingga pengelola dan penyelenggara pendidikan harus profesional dan diperankan oleh mereka yang ahli di bidangnya.Iklim meritokrasi juga tampak dalam sistem pengangkatan guru, tenaga kependidikan, pejabat pendidikan, bahkan menteri pendidikan di Malaysia.Hebatnya, hampir semua perdana menteri Malaysia sebelumnya telah menjabat sebagai menteri pendidikan.Dengan demikian, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa meritokrasi dalam pengelolaan pendidikan nasional adalah tiket yang paling cepat dan ampuh untuk meraih keunggulan bangsa.

Untuk mewujudkan meritokrasi dalam pengelolaan pendidikan, Indonesia perlu mengikuti jejak Malaysia.Pada negara-negara maju, pendidikan diperlakukan sebagai sektor teknis dan profesional ketimbang birokratis atau politis, seperti halnya sektor kesehatan, perindustrian, pertanian, pertambangan, minyak dan gas bumi, dan sebagainya. Menteri atau kepala dinas akan lebih mudah membangun sektor pendidikan jika menteri, para pejabat pendidikan negeri, dan kepala-kepala dinasnya benar-benar ahli dan profesional di bidang pendidikan. Meritokrasi dalam pendidikan nasional akan benar-benar terwujud jika pengangkatan menteri pendidikan dilakukan atas pertimbangan faktor keahlian (merit system) ketimbang faktor politis (political appointment).

Meritokrasi dalam pengelolaan pendidikan nasional diperlukan untuk mewujudkan layanan pendidikan yang adil, bermutu, berdaya saing, dan relevan dengan kebutuhan berbagai bidang pembangunan. Rumusan tujuan ini dengan mudah akan dapat dipahami oleh pemimpin yang ahli dan profesional di bidangnya, karena mereka memiliki wawasan dan kearifan yang lebih tinggi untuk memanifestasikan rumusan tersebut ke dalam kebijakan dan program yang bermutu. Hingga diselenggarakannya periode pemerintahan ini, masih cukup banyak kebijakan pendidikan yang dinilai kurang bermutu dan berwawasan, bahkan berisiko gagal dalam menghindari kekeringan intelektual dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Keunggulan produk:

  1. Ditulis oleh Ace Suryadi, seorang akademisi di bidang pendidikan yang telah banyak berkontribusi untuk kemajuan kebijakan pendidikan di Indonesia.
  2. Pembahasan secara komprehensif mengenai sebuah pembaruan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan Indonesia sebagai langkah awal dalam mengarahkan Indonesia yang siap menjadi masyarakat global dan mampu menyongsong pembelajaran abad 21, yakni melalui sistem meritokrasi.
  3. Disampaikan secara mendalam dan mudah dimengerti, sehingga dapat dipahami oleh berbagai pihak, mulai dari pejabat pendidikan hingga masyarakat umum.

 

Kode Buku                : 3083701130

SSB Malang Batu Wajib Merapat! Liga Grassroots 2026 Berhadiah Beasiswa STY Football Academy SSB Malang Batu Wajib Merapat! Liga Grassroots 2026 Berhadiah Beasiswa STY Football Academy SSB Malang Batu Wajib Merapat! Liga Grassroots 2026 Berhadiah Beasiswa STY Football Academy
ADVERTISEMENT

ISBN                           : 9786026847812

Judul Buku                : MEMBANGUN MERITOKRASI PENDIDIKAN INDONESIA

Penulis                        : ACE SURYADI

Jumlah Halaman       : 360 Halaman

Tags: ErlanggaMeritokrasi PendidikanPenerbit Malangresensi buku
SendShareShare
Abe

Abe

Related Posts

Sosialisasi Halal dan Thoyib kepada Sekolah dan Madrasah dibawah Naungan LP Maarif Kabupaten Malang
Berita Kampus

Dorong Sertifikasi Halal di Sekolah dan Madrasah, LPH Unira Malang Gandeng LP Ma’arif Kabupaten Malang

by Kontributor
19 April 2026
61
Dok. Humas SMKN 8 Kota Malang
Berita Sekolah

Prestasi Gemilang! SMKN 8 Kota Malang Raih Juara di LKS Dikmen Jatim ke-XXXIV

by Abe
10 April 2026
172
Dok. Humas SMKN 8 Kota Malang
Berita Sekolah

Prestasi Membanggakan, 16 Siswa SMKN 8 Kota Malang Lolos SNBP PTN

by Kontributor
3 April 2026
65
Fapet UB Kupas Tuntas Peluang Karier Industri Lewat Bedah Buku Legalitas Usaha
Seputar Kampus

Fapet UB Kupas Tuntas Peluang Karier Industri Lewat Bedah Buku Legalitas Usaha

by Kontributor
18 Maret 2026
28
Menko Zulhas Sampaikan Kuliah Umum di Unira Malang
Agenda Kampus

Unira Malang Hadirkan Menko Zulhas dalam Kuliah Umum Ketahanan Pangan

by Abe
24 Februari 2026
29

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pamerkan 28 Karya Upcycle dan Luncurkan Buku, Hotbottles Resmikan Komunitas Garbage Designer Malang

Pamerkan 28 Karya Upcycle dan Luncurkan Buku, Hotbottles Resmikan Komunitas Garbage Designer Malang

28 April 2026
8
Mencari Bibit Srikandi Lapangan Hijau Malang: Turnamen Sepak Bola Putri U12 Piala Tugu Tirta 2026 Sukses Digelar

Mencari Bibit Srikandi Lapangan Hijau Malang: Turnamen Sepak Bola Putri U12 Piala Tugu Tirta 2026 Sukses Digelar

27 April 2026
162
MCC: Beban APBD atau Investasi Masa Depan Malang? Ini Kata Praktisi Ekraf

MCC: Beban APBD atau Investasi Masa Depan Malang? Ini Kata Praktisi Ekraf

26 April 2026
38
Jamin Kepastian Tata Ruang, Bakorwil III Kawal Penegasan Batas Kota Batu dan Kabupaten Mojokerto

Jamin Kepastian Tata Ruang, Bakorwil III Kawal Penegasan Batas Kota Batu dan Kabupaten Mojokerto

26 April 2026
23
Semarak 500 Rampag Barong dan Atraksi Jaranan pada Hari Keris Nasional 2026 di Trenggalek

TosanAji.id Dukung Perayaan Hari Keris Nasional 2026 di Trenggalek

20 April 2026
10

Browse by Category

  • Agenda Even
  • Agenda Kampus
  • Agenda Sekolah
  • ASBF Malang Raya
  • Balaikota
  • Batu
  • Berita Kampus
  • Berita Sekolah
  • Bisnis
  • Blok
  • Blok Premium A
  • Blok Slider
  • Ekonomi
  • Hotel dan Resto
  • Jatim
  • Kab Malang
  • Kawan PMI
  • Kota Malang
  • Lifestyle
  • MCC
  • Nahdlatul Ulama
  • Nasional
  • Objek Wisata
  • Opini
  • Organisasi & Komunitas
  • Pekerja Migran Indonesia
  • Pelayanan Publik
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendopo
  • Perbankan
  • Pilihan Redaksi
  • Properti
  • Seni Budaya
  • Seputar Halokes
  • Seputar Inklusi
  • Seputar Kampus
  • Sosial
  • Sosok
  • Sports
  • Travel
  • Uncategorized
  • Wisata
  • World
Seputar Malang

Situs Informasi dan Berita Seputar Malang Raya

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema

No Result
View All Result
  • Home
  • Kota Malang
  • Kab Malang
  • Pendidikan
  • Opini
  • Tentang

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema