SeputarMalang.Com – Hari Kreativitas dan Inovasi Dunia (World Creativity and Innovation Day/ WCID) diperingati setiap tanggal 21 April 2026. Tujuan utamanya adalah membangun daya dorong penggunaan kreativitas dan inovasi, untuk memecah berbagai permasalahan serta memberikan solusi untuk membangun kehidupan umat manusia yang lebih baik, berkelanjutan, berkeadilan, inklusif dan memuliakan keseimbangan lingkungan hidup. WCID ini pertama kali dicetuskan oleh Marci Segal di Kanada pada 2001. Kemudian diresmikan oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) pada tahun 2017. Hingga terus dirayakan secara global dengan menghubungkan Kreatifitas dan Inovasi, yang mengarus utamakan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Kenapa tanggal 21 April dipilih sebagai WCID dan dirayakan secara global? Dan apa hubungannya dengan Kota Malang? Menurut Marci Segal, yang mencetuskan WCID dan sebagai seorang spesialis design thinking kreatifitas dan inovasi, 21 April dipilih karena berdekatan dengan Hari Bumi Dunia, yaitu tanggal 22 April, serta Hari Ulang Tahun (HUT) Leonardo da Vinci (15 April). Menurut Marci Segal, WCID wajib mendorong penggunaan kemampuan alami manusia (Talenta) untuk mencipta kreatifitas dan inovasi, demi membangun kehidupan umat manusia yang lebih baik. Sekaligus menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. Memperkuat kreatifitas dan inovasi, dalam konteks keberlanjutan serta pendekatan multidisiplin. Lantas, apa hubungannya dengan Kota Malang?
Kota Malang adalah pabriknya talenta-talenta sumberdaya manusia kreatif yang sangat istimewa. Pengakuan ini bukan isapan jempol. Juga bukan pengakuan local pride yang kosong melompong. Pengakuan ini datang dari UNESCO (PBB), dengan pemberian anugerah kepada Kota Malang sebagai City of Media Art. Pengakuan ini disahkan pada tanggal 30 Oktober 2025. Artinya, dunia sudah mengakui jika Kota Malang adalah bagian dari jejaring UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Dan pengakuan itu, tentu tidak datang dengan tiba-tiba. Pasti tidak ujug-ujug diberikan. Pasti ada latar belakangnya. Pasti ada perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukan. Lantas, siapakah yang selama ini memperjuangkannya? Siapakan yang selama ini bergerak, bekerja dan berkorban demi untuk meraih prestasi level dunia tersebut?
Namun sayangnya, Pemkot Malang saat ini sangat gagap merespon momentum strategis WCID (World Creative and Innovation Day), yang sangat berpeluang mengangkat Kota Malang menjadi Kota Kreatif Dunia 2026. Kegagapan dan kegagalan ini, sudah tampak jelas mulai bulan Mei 2025 lalu. Dengan kemunculan Gerakan #KotaMalangTidakBaikBaikSaja. Yang digerakkan oleh jejeraing pegiat/ pelaku ekonomi kreatif di Kota Malang. Termasuk kegagapan dalam aktivasi momentum Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) yang diselenggarakan pada tanggal 6 – 9 November 2025 yang lalu. Semua kegagapan tersebut, memberikan gambaran yang sangat jelas, bahwa Pemkot Malang tidak mampu mengelola dan mengorkestrasi seluruh energi positif, kreatif, inovatif dan progresif, yang sangat besar dimiliki oleh para insan pelaku ekonomi/ industri kreatif di Kota Malang. Inilah yang menjadikan Pemkot Malang telah sukses merubah Kota Malang menjadi Kota Musproh (Penuh Kesia-Siaan).
Lebih tragis lagi, Pemkot Malang justru semakin memperjelas pola pikir bahwa seluruh potensi sumberdaya manusia kreatif di Kota Malang adalah Beban APBD Kota Malang. Hal ini sangat jelas terlihat dari pola pikir yang memandang gedung Malang Creative City (MCC) adalah Beban APBD Kota Malang atas segala biaya operasional yang dikeluarkan. Ini sungguh pola pikir yang tersesat dan celaka. Kegagapan dan kegagalan Kota Malang menjadi Kota Kreatif dan Inovatif, justru dimulai dari kesesatan pola pikir para pembuat kebijakan di Kota Malang. Pola pikir yang sesat ini, justru semakin dikembangkan dan dipelihara. Seharusnya, aspirasi dan dialog dengan para insan pelaku ekonomi/ industri kreatif ini, semakin dikembangkan dan diperluas. Jadi, bisa menjadi wahana diseminasi dan rekognisi yang powerful. Bukan hanya untuk “Mendidik” para pembuat kebijakan, tetapi juga sekaligus memberikan pencerahan kepada seluruh warga Kota Malang.
Dengan demikian, seharusnya Pemkot Malang semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya kreatifitas dan inovasi dalam semua aspek pembangunan manusia. Termasuk program pembangunan daerah dalam berbagai bidang. Mulai dari ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, kesehatan, hingga pemecahan berbagai permasalahan global yang kita hadapi saat ini. Tapi nyatanya, Pemkot Malang justru paling sibuk pada hal-hal yang bersifat seremonial belaka. Sehingga, berbagai hal yang substansial terlupakan atau bahkan diabaikan. Salah satu buktinya adalah Seremonial Landmark Malang City of Media Art yang sudah dibangun di Alun-Alun Kota Malang. Fatal, dan jelas Muspro bagi warga Kota Malang. Semakin memperkuat citra Kota Malang sebagai Kota Muspro.
Semakin banyak hal-hal yang Muspro di Kota Malang. Termasuk aset Wisata Gantangan Malang Satu Titik, Perumda Tunas, Velodrom, Pasar Burung Splendid, dan lain-lainnya. Akankah Gedung MCC Kota Malang juga akan menjadi tambahan Ke-musproh-an lagi di Kota Malang? Ah, punya banyak aset sumberdaya manusia kreatif, inovatif dan progresif, ditambah punya banyak aset daerah yang terbengkalai, ternyata semuanya itu hanya akan menjadi Muspro pada akhirnya. Salah siapakah ini semuanya? Yang jelas, bukan salah Pak Mbois menaruh burung berkicau kan? Atau salah Michael Jackson yang memakai Baju Khas Kota Malang ya?
Kita senyumin atau kita jogetin saja enaknya?








