SeputarMalang.Com – Penyembelihan hewan menjadi ritual yang senantiasa hadir dalam merayakan Idul Adha. Ini tidak lepas dari penamaan ‘Id al-Adha, secara harfiah berarti “Hari Raya Penyembelihan Hewan Kurban”.
Penamaan lainnya, ‘Id al-Fida’, “Hari Raya Penebusan/Pengorbanan”, merujuk pada kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Karenanya populer juga dengan sebutan Idul Kurban.
Dari kisah tersebut, ada momentum spiritual untuk membaca kembali hubungan manusia dengan Allah, sesama, dan dirinya sendiri. Sehingga Idul Kurban tidak berhenti pada dimensi syariat, tetapi juga menyentuh wilayah batin.
Ihwal wilayah batin yang dimaksud adalah tentang laku pengorbanan, pengendalian diri, serta upaya mengendalikan hawa nafsu demi mencapai kemuliaan jiwa.
Dalam spiritualitas Jawa dikenal konsep “lelaku” atau perjalanan batin. Manusia dipandang tidak cukup hanya menjalankan ritual lahiriah, tetapi juga harus menempuh jalan penyucian batin. Karenanya, Idul Kurban dalam perspektif spiritualitas Jawa bukan semata menyembelih hewan, melainkan juga “menyembelih” sifat tamak, angkara, kesombongan, dan egoisme yang bersemayam dalam diri manusia.
Sungguh menarik, jalan spiritual jawa sesungguhnya telah diwariskan secara sangat cerdas oleh para Wali Songo. Alm. Agus Sunyoto dalam buku Atlas Wali Songo menjelaskan bahwa para wali menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya dan spiritualitas yang halus, tanpa merusak tradisi masyarakat Nusantara (Jawa). Mereka “tidak mengusik agama dan kepercayaan mereka, tapi memperkuatnya dengan cara yang islami.”
Di titik inilah, Idul Kurban menemukan relevansinya dengan ajaran tasawuf yang diwariskan para ulama Nusantara. Yang banyak terinsersi kitab Al-Hikam, mahakarya di bidang tasawuf karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari.
Kitab tersebut tidak hanya dibaca sebagai teks keagamaan, tetapi juga menjadi panduan pembentukan jiwa sufi yang mengajarkan keikhlasan, tawakal, dan kesadaran bahwa manusia sejatinya hanyalah hamba.
Tradisi Sufistik
Legasi tradisi Nusantara, Idul Kurban berasimilasi dan berkembang menjadi ruang sosial dan spiritual sekaligus. Ada tradisi berbagi, grebeg. kenduri, hingga gotong royong yang memperlihatkan bahwa kurban bukan hanya hubungan vertikal kepada Allah, tetapi juga implementasi solidaritas horizontal kepada sesama manusia. Nilai inilah yang sebenarnya menjadi inti ajaran tasawuf, tradisi sufistik. Senatiasa mendekat kepada Allah dengan memuliakan manusia dan makhluk lainnya.
Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa amal bukan terletak pada banyaknya tindakan, tetapi pada kualitas kehadiran hati kepada Allah.
Sungguh, subtantsi pesan profetik ini sangat kontekstual dengan Idul Kurban. Sebab di tengah modernitas dan era gadget, kurban sering kali terjebak dalam simbol sosial dan pencitraan semata. Nilai spiritualnya perlahan memudar oleh budaya seremonial dan konsumsi audio-visual media sosial.
Padahal, dalam tradisi sufistik, kurban justru mengajarkan “penghilangan diri.” Semakin seseorang dekat kepada Allah, semakin kecil egonya. Spiritualitas Jawa mengenalnya dengan istilah andhap asor, rendah hati, tidak menonjolkan diri. Dalam konteks ini, Idul Kurban bukan panggung untuk menunjukkan kemampuan memberi, tetapi ruang sunyi untuk melatih keikhlasan dan empati sosial.
Kitab Al-Hikam mengajarkan bahwa tanda hati yang hidup adalah tumbuhnya kasih sayang dan hilangnya keangkuhan. Maka seseorang yang rajin beribadah tetapi masih merendahkan orang lain, sejatinya belum selesai dengan perjalanan spiritualnya.
Dus, dalam konteks Idul Kurban sejatinya pengorbanan terbesar justru sering kali bukan harta, melainkan ego diri sendiri.
Hidup di zaman ketika manusia mudah merasa paling benar, paling saleh, dan paling suci. Media sosial memperlihatkan bagaimana agama sering dipakai untuk kompetisi moral dan penghakiman publik. Di tengah situasi seperti ini, tradisi sufistik menawarkan jalan teduh.
Yaitu, menepi sejenak untuk mengolah batin, dan belajar memahami hidup dengan penuh kebijaksanaan.
Idul Kurban akhirnya mengajarkan satu hal penting. Manusia yang besar bukanlah manusia yang banyak memiliki, tetapi manusia yang mampu melepaskan. Kisah Nabi Ibrahim menjadi teladan karena mampu mengorbankan apa yang paling dicintainya demi ketaatan kepada Allah. Dalam bahasa spiritual Jawa, itulah bentuk “menang tanpa ngasorake”, menang melawan diri sendiri tanpa merendahkan orang lain.
Karena itu, Idul Kurban semestinya tidak hanya dirayakan di masjid dan lapangan, tetapi juga di dalam batin manusia. Sebab hewan kurban hanya disembelih sekali dalam setahun, sementara hawa nafsu harus terus dikendalikan sepanjang hidup.
Sebagai penutup, refleksi Idul Kurban dalam spiritualitas Jawa mengajarkan bahwa lelaku perjalanan menuju Tuhan bukan hanya soal ritual lahiriah, tetapi juga perjuangan menaklukkan ego dan membersihkan hati.
Jalan inilah yang diwariskan para wali dan para sufi sebagai tradisi sufistik yang menghadirkan agama sebagai sumber kasih sayang, keteduhan, dan kebijaksanaan hidup. Dalam tradisi tasawuf, pengorbanan sejati bukan hanya memberi apa yang dimiliki, tetapi melepaskan keterikatan diri dari kesombongan dan hawa nafsu.
Imam Abu Hasan Asy-Syadzili pernah berpesan, “Janganlah langkahmu tertunda karena dosa-dosamu, sebab bisa jadi satu penyesalan yang tulus lebih dekat kepada Allah daripada banyak amal yang membuatmu sombong.”
Dan Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa Idul Kurban sejatinya bukan tentang siapa yang paling banyak berkurban, melainkan siapa yang paling ikhlas membersihkan batinnya di hadapan Allah. Akhirnya, Wallahu a’lam bish-shawab.








