SeputarMalang.Com – Bangsa Vandal berasal dari wilayah Skandinavia, tepatnya di daerah Jerman Timur. Yang kemudian menyebar ke Polandia, hingga pernah menaklukkan Bangsa Romawi. Rekam jejak Bangsa Vandal dalam literatur sejarah diawali dari Raja Godigisel (sekitar 407 M). Bangsa Vandal pada awalnya merupakan kaum Pemburu hebat. Ketangguhan dan ketangkasannya dalam berburu, menjadi identitasnya yang sangat menonjol. Seiring berjalannya waktu, Bangsa Vandal berubah menjadi Bangsa Penjarah. Menyebarkan teror ke berbagai wilayah. Hingga namanya dijadikan sebuah wilayah Vandalusia (sekarang menjadi Andalusia) di Spanyol.

Tercatat Raja terakhir Bangsa Vandal adalah Gelimer (530-534 M). Meskipun beberapa catatan sejarah bisa ditemukan bahwa Bangsa Vandal menyebar hingga ke wilayah Afrika Utara, yang terpusat di Kartago. Bangsa Vandal ini juga menjadi inspirasi utama dalam diksi “Vandalisme” yang ada saat ini. Yang bisa diartikan sebagai perilaku menjarah, merusak dan membuat kekacauan (Chaos). Sama seperti penggambaran Bangsa Vandal, yang selalu identik dengan penjarahan, perusakan dan pembuat kekacauan. Motif utama Bangsa Vandal dan orang-orang yang melakukan Vandalisme, mempunyai kesamaan utama. Yaitu penonjolan eksistensi yang ekstrim. Hal tersebut dilakukan dengan berbagai upaya yang merusak, menjarah dan membuat kekacauan, terutama untuk mendapatkan perhatian akan eksistensinya yang ekstrim.
Pada saat ini, Vandalisme tidak melulu hanya berupa coretan-coretan di dinding. Juga bukan semata-mata aksi merusak fasilitas umum. Dalam bentuk bernegara, Vandalisme bisa berbentuk korupsi, kolusi dan nepotisme. Yang mempunyai motif utama yang sama, yaitu sama-sama untuk menonjolkan eksistensinya yang ekstrim. Eksistensinya yang ditonjolkan ini bisa berupa pamer kekayaan, penyalahgunaan jabatan, bertindak semau-maunya dan mempermainkan hukum sesuai keinginannya sendiri. Yang semuanya itu menghasilkan penjarahan, perusakan, perampokan dan beraneka ragam kekacauan dalam bernegara. Apakah Bangsa Indonesia saat ini sudah berubah menjadi Bangsa Vandal? Saling merusak, menjarah, mencuri dan berbuat aneka perilaku yang melahirkan banyak kekacauan?
Cobalah lihat Bangsa Indonesia saat ini dengan jernih dan obyektif. Mulai dari para pejabatnya yang paling tinggi kedudukannya, hingga rakyat jelata yang paling susah hidupnya, ternyata sama-sama sedang saling merusak, menjarah, merampok dan berbuat kekacauan di mana-mana. Benarkah demikian? Bukan hanya kaum cerdik pandai atau cendikiawannya, tetapi kaum beragama dan orang-orang yang dipandang sebagai tokoh masyarakat, sekarang ini sedang berlomba-lomba mencari kesempatan untuk bisa menjarah, mencuri dan merampok? Mereka juga turut menjadi bagian dari sumber-sumber kekacauan yang ada saat ini. Termasuk orang-orang yang hanya berdiam diri, bukankah mereka juga berarti ikut membiarkan semuanya ini terjadi? Berdiam diri, berarti ikut menyetujui semua kekacauan dan kerusakan ini terjadi. Benarkah demikian?
Lantas, bagaimana kita bisa melawan Bangsa Vandal saat ini? Apa yang harus kita lakukan? Siapa yang harus melakukan? Dan bagaimana melakukan perlawanannya? Tentu saja, yang kita maksudkan di sini bukanlah Bangsa Vandal yang hidup pada abad 4 – 5 Masehi di wilayah Skandinavia. Yang kita maksudkan di sini adalah perilaku Bangsa Vandal yang saat ini sudah sangat jelas terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perilaku Vandalisme yang tidak hanya dilakukan oleh para pejabat, penguasa dan kroninya. Tetapi juga dilakukan oleh rakyat yang berada pada lapisan paling bawah sekalipun. Dengan demikian, apakah Vandalisme akan terus berkembang menjadi kepribadian dan identitas Bangsa Indonesia? Apakah kita akan terus membiarkan perilaku Vandalisme dalam berbagai bidang dan bentuknya, terus terjadi di Indonesia? Sampai NKRI rusak, kacau, terpecah belah dan hancur lebur? Apakah kita hanya akan berdiam diri saja?
Dengan mempelajari sejarah bangsa-bangsa yang telah hilang atau punah ditelan perubahan jaman, kita bersama bisa mengambil hikmah dan pelajarannya. Agar bangsa kita tidak ikut hilang dan punah ditelan gelombang perubahan zaman. Dan jika belajar dengan sungguh-sungguh, ternyata banyak bangsa-bangsa di dunia ini yang telah punah dan terhapus dari peradaban, lebih sering disebabkan oleh kerusakan dan kekacauan di dalam bangsa itu sendiri. Hanya sedikit bangsa-bangsa yang punah dan terhapus di peradaban dunia ini, karena dikalahkan atau ditaklukkan oleh bangsa-bangsa lainnya. Ya, kerusakan itu dimulai dari dalam. Kehancuran itu disebabkan dari dalam bangsa itu sendiri. Apakah Bangsa Indonesia saat ini juga demikian? Rusak dari dalam, hancur dari dalam. Dan kitalah yang menjadi penyebab utamanya?







