Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
No Result
View All Result
Home Opini

Bangsa Vandal

Wahyu Eko Setiawan by Wahyu Eko Setiawan
24 Februari 2026
A A
0
Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist

Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist

0
SHARES
75
VIEWS
Bagi di WhatsappBagi di Facebook

SeputarMalang.Com – Bangsa Vandal berasal dari wilayah Skandinavia, tepatnya di daerah Jerman Timur. Yang kemudian menyebar ke Polandia, hingga pernah menaklukkan Bangsa Romawi. Rekam jejak Bangsa Vandal dalam literatur sejarah diawali dari Raja Godigisel (sekitar 407 M). Bangsa Vandal pada awalnya merupakan kaum Pemburu hebat. Ketangguhan dan ketangkasannya dalam berburu, menjadi identitasnya yang sangat menonjol. Seiring berjalannya waktu, Bangsa Vandal berubah menjadi Bangsa Penjarah. Menyebarkan teror ke berbagai wilayah. Hingga namanya dijadikan sebuah wilayah Vandalusia (sekarang menjadi Andalusia) di Spanyol.

Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist
Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist

Tercatat Raja terakhir Bangsa Vandal adalah Gelimer (530-534 M). Meskipun beberapa catatan sejarah bisa ditemukan bahwa Bangsa Vandal menyebar hingga ke wilayah Afrika Utara, yang terpusat di Kartago. Bangsa Vandal ini juga menjadi inspirasi utama dalam diksi “Vandalisme” yang ada saat ini. Yang bisa diartikan sebagai perilaku menjarah, merusak dan membuat kekacauan (Chaos). Sama seperti penggambaran Bangsa Vandal, yang selalu identik dengan penjarahan, perusakan dan pembuat kekacauan. Motif utama Bangsa Vandal dan orang-orang yang melakukan Vandalisme, mempunyai kesamaan utama. Yaitu penonjolan eksistensi yang ekstrim. Hal tersebut dilakukan dengan berbagai upaya yang merusak, menjarah dan membuat kekacauan, terutama untuk mendapatkan perhatian akan eksistensinya yang ekstrim.

Pada saat ini, Vandalisme tidak melulu hanya berupa coretan-coretan di dinding. Juga bukan semata-mata aksi merusak fasilitas umum. Dalam bentuk bernegara, Vandalisme bisa berbentuk korupsi, kolusi dan nepotisme. Yang mempunyai motif utama yang sama, yaitu sama-sama untuk menonjolkan eksistensinya yang ekstrim. Eksistensinya yang ditonjolkan ini bisa berupa pamer kekayaan, penyalahgunaan jabatan, bertindak semau-maunya dan mempermainkan hukum sesuai keinginannya sendiri. Yang semuanya itu menghasilkan penjarahan, perusakan, perampokan dan beraneka ragam kekacauan dalam bernegara. Apakah Bangsa Indonesia saat ini sudah berubah menjadi Bangsa Vandal? Saling merusak, menjarah, mencuri dan berbuat aneka perilaku yang melahirkan banyak kekacauan?

Cobalah lihat Bangsa Indonesia saat ini dengan jernih dan obyektif. Mulai dari para pejabatnya yang paling tinggi kedudukannya, hingga rakyat jelata yang paling susah hidupnya, ternyata sama-sama sedang saling merusak, menjarah, merampok dan berbuat kekacauan di mana-mana. Benarkah demikian? Bukan hanya kaum cerdik pandai atau cendikiawannya, tetapi kaum beragama dan orang-orang yang dipandang sebagai tokoh masyarakat, sekarang ini sedang berlomba-lomba mencari kesempatan untuk bisa menjarah, mencuri dan merampok? Mereka juga turut menjadi bagian dari sumber-sumber kekacauan yang ada saat ini. Termasuk orang-orang yang hanya berdiam diri, bukankah mereka juga berarti ikut membiarkan semuanya ini terjadi? Berdiam diri, berarti ikut menyetujui semua kekacauan dan kerusakan ini terjadi. Benarkah demikian?

Lantas, bagaimana kita bisa melawan Bangsa Vandal saat ini? Apa yang harus kita lakukan? Siapa yang harus melakukan? Dan bagaimana melakukan perlawanannya? Tentu saja, yang kita maksudkan di sini bukanlah Bangsa Vandal yang hidup pada abad 4 – 5 Masehi di wilayah Skandinavia. Yang kita maksudkan di sini adalah perilaku Bangsa Vandal yang saat ini sudah sangat jelas terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perilaku Vandalisme yang tidak hanya dilakukan oleh para pejabat, penguasa dan kroninya. Tetapi juga dilakukan oleh rakyat yang berada pada lapisan paling bawah sekalipun. Dengan demikian, apakah Vandalisme akan terus berkembang menjadi kepribadian dan identitas Bangsa Indonesia? Apakah kita akan terus membiarkan perilaku Vandalisme dalam berbagai bidang dan bentuknya, terus terjadi di Indonesia? Sampai NKRI rusak, kacau, terpecah belah dan hancur lebur? Apakah kita hanya akan berdiam diri saja?

Dengan mempelajari sejarah bangsa-bangsa yang telah hilang atau punah ditelan perubahan jaman, kita bersama bisa mengambil hikmah dan pelajarannya. Agar bangsa kita tidak ikut hilang dan punah ditelan gelombang perubahan zaman. Dan jika belajar dengan sungguh-sungguh, ternyata banyak bangsa-bangsa di dunia ini yang telah punah dan terhapus dari peradaban, lebih sering disebabkan oleh kerusakan dan kekacauan di dalam bangsa itu sendiri. Hanya sedikit bangsa-bangsa yang punah dan terhapus di peradaban dunia ini, karena dikalahkan atau ditaklukkan oleh bangsa-bangsa lainnya. Ya, kerusakan itu dimulai dari dalam. Kehancuran itu disebabkan dari dalam bangsa itu sendiri. Apakah Bangsa Indonesia saat ini juga demikian? Rusak dari dalam, hancur dari dalam. Dan kitalah yang menjadi penyebab utamanya?

Tags: ngopiniOpiniOpini SeputarMalangSeputar KampusWES
SendShareShare
Wahyu Eko Setiawan

Wahyu Eko Setiawan

Pendiri Sekolah Pancasila Pendiri Sekolah Budaya Tunggulwulung Kepala Biro Riset Komunikasi Publik Javasatu Penulis Buku Biografi Media Massa Strategist & Analist Kontak: 081 333 444 571

Related Posts

Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist
Opini

AMOR FATI

by Wahyu Eko Setiawan
13 Oktober 2026
8
Dok. SMCPro
Opini

Menyoal Bisnis Militer dan Supremasi Sipil

by Abdillah
5 Oktober 2026
119
Dok. SMC Pro
Jatim

Malang Raya Megapolitan: Dari Fragmentasi Menuju Integrasi Kawasan

by Kontributor
4 Agustus 2026
59
Gagasan Malang Raya Megapolitan, dari Ego Wilayah Menuju Tata Kelola Kolaboratif
Opini

Gagasan Malang Raya Megapolitan, dari Ego Wilayah Menuju Tata Kelola Kolaboratif

by Abdillah
23 Juli 2026
61
Dok. Tim SeputarMalang
Opini

Final Antiklimaks – One Way Traffic

by Kontributor
20 Juli 2026
69

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Tim Kerja TosanAji.id bersama Muhammad Ali Yasin di Kantor Yayasan Insan Mutia

OBASINDO Memperkuat Daya Dukung Program Prioritas dan Direktif Presiden RI Dalam Lingkup Kementrian Kebudayaan

13 Oktober 2026
25
Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist

AMOR FATI

13 Oktober 2026
8
Dok. SMCPro

Potensi Desa dan Ketahanan Pangan Jadi Kunci Akselerasi Pembangunan Jawa Timur

9 Oktober 2026
6
Dok. SMCPro

Menyoal Bisnis Militer dan Supremasi Sipil

5 Oktober 2026
119
Dok. Bagana Banser Kab. Malang, Jawa Timur

Krisis Air Bersih, BAGANA Banser Kabupaten Malang Bantu Warga Desa Sidodadi

3 Oktober 2026
25

Browse by Category

  • Agenda Even
  • Agenda Kampus
  • Agenda Sekolah
  • ASBF Malang Raya
  • Balaikota
  • Batu
  • Berita Kampus
  • Berita Sekolah
  • Bisnis
  • Blok
  • Blok Premium A
  • Blok Slider
  • Ekonomi
  • Hotel dan Resto
  • Jatim
  • Kab Malang
  • Kawan PMI
  • Kota Malang
  • Lifestyle
  • MCC
  • Nahdlatul Ulama
  • Nasional
  • Objek Wisata
  • Opini
  • Organisasi & Komunitas
  • Pekerja Migran Indonesia
  • Pelayanan Publik
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendopo
  • Perbankan
  • Pilihan Redaksi
  • Properti
  • Seni Budaya
  • Seputar Halokes
  • Seputar Inklusi
  • Seputar Kampus
  • Sosial
  • Sosok
  • Sports
  • Travel
  • Uncategorized
  • Wisata
  • World
Seputar Malang

Situs Informasi dan Berita Seputar Malang Raya

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema

No Result
View All Result
  • Home
  • Kota Malang
  • Kab Malang
  • Pendidikan
  • Opini
  • Tentang

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema