Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
No Result
View All Result
Home Opini

Menyoal Kontroversi Konsep Marketplace Guru

Solusi atau Ancaman bagi Pendidikan Indonesia?

Syahiduz Zaman by Syahiduz Zaman
5 Juni 2023
A A
0
Marketplace Guru

Marketplace Guru

0
SHARES
124
VIEWS
Bagi di WhatsappBagi di Facebook

SeputarMalang.Com – Konsep “Marketplace Guru” yang dicetuskan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim telah menjadi sorotan dan memicu berbagai tanggapan dari berbagai pihak. Konsep ini bertujuan untuk memperbaiki masalah tenaga guru honorer di Indonesia dengan menciptakan platform atau database yang memungkinkan sekolah mencari dan merekrut guru sesuai dengan kebutuhan dan formasi mereka. Namun, pendapat tentang gagasan ini terbagi antara yang mendukung dan yang skeptis.

Marketplace Guru
Marketplace Guru

Salah satu pihak yang mengapresiasi inovasi ini adalah Pengamat Teknologi dan Informatika, Heru Sutadi. Ia mengakui pentingnya langkah untuk memperbaiki situasi tenaga guru honorer di Indonesia, namun ia menilai perlu adanya elaborasi lebih lanjut mengenai konsep ini. Heru Sutadi mengingatkan bahwa profesi guru tidak bisa disamakan dengan jasa atau transaksi jual-beli. Selain itu, Pengamat Pendidikan Doni Koesoema juga menyambut baik gagasan ini, namun ia menekankan perlunya kajian yang lebih mendalam terutama dalam hal seleksi dan kualitas guru.

Namun, ada pula yang skeptis terhadap konsep “Marketplace Guru” ini. Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, berpendapat bahwa platform ini justru akan mempersulit dunia pendidikan di Indonesia, terutama bagi guru di daerah terpencil dengan keterbatasan teknologi dan akses internet. Selain itu, Direktur Eksekutif Center for Education Regulation and Developments Analysis (CERDAS), Indra Charismiadji, menyatakan bahwa gagasan ini tidak memiliki tujuan dan konsep yang jelas serta tidak tepat sebagai solusi masalah guru yang ada saat ini.

Pendapat dan tanggapan terhadap konsep “Marketplace Guru” juga terlihat dalam laman dpr.go.id lainnya. Ketua Komisi X DPR, Syaiful Huda, menyoroti bahwa konsep ini tidak menyelesaikan masalah inti yaitu bagaimana agar tenaga guru honorer bisa segera diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Huda menegaskan pentingnya konsistensi dari pemerintah untuk menuntaskan rekrutmen satu juta guru honorer menjadi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja). Kritik juga datang dari seorang guru honorer bernama Achmed, yang menganggap konsep ini berpotensi memicu nepotisme dan merendahkan martabat profesi guru.

Dalam melihat semua pendapat dan tanggapan tersebut, penting untuk menyadari bahwa implementasi “Marketplace Guru” dapat menghadapi berbagai tantangan dan risiko. Berikut adalah 10 masalah yang mungkin terjadi jika program ini dijalankan:

  1. Nepotisme dalam proses rekrutmen guru, yang dapat merugikan guru-guru yang berkualitas tetapi tidak memiliki hubungan atau koneksi tertentu.
  2. Merendahkan martabat profesi guru dengan menggambarkan mereka sebagai barang jualan dalam sebuah “marketplace”.
  3. Risiko rendahnya kualitas calon guru yang masuk ke dalam database, yang dapat berdampak negatif pada kualitas pendidikan di sekolah.
  4. Distribusi guru yang tidak merata antara daerah perkotaan dan pedesaan, serta antara sekolah negeri dan swasta.
  5. Kesulitan bagi sekolah swasta dalam hal penggajian guru, karena adanya perbedaan dalam sistem pengelolaan keuangan dan kebijakan sekolah swasta.
  6. Kesulitan bagi guru di daerah terpencil dengan keterbatasan teknologi dan akses internet, yang mengurangi kesempatan mereka untuk terlibat dalam platform ini.
  7. Potensi penyalahgunaan data guru, yang dapat membahayakan privasi dan keamanan informasi pribadi para guru.
  8. Kurangnya transparansi dalam proses seleksi dan rekrutmen guru, yang dapat menimbulkan ketidakpuasan dan ketidakpercayaan dari berbagai pihak terkait.
  9. Tidak menyelesaikan masalah utama yaitu bagaimana agar tenaga guru honorer dapat segera diangkat menjadi ASN, yang menjadi harapan banyak guru honorer.
  10. Potensi terjadinya kecurangan dalam proses rekrutmen dan seleksi guru, seperti adanya manipulasi data atau upaya untuk memanfaatkan sistem untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Dalam menjalankan konsep “Marketplace Guru”, pemerintah perlu mempertimbangkan dengan seksama semua masalah dan risiko yang mungkin timbul. Diperlukan kajian yang mendalam dan dialog yang melibatkan berbagai pihak terkait, termasuk para guru, sekolah, dan ahli pendidikan. Selain itu, perlu juga kejelasan mengenai bagaimana konsep ini akan membantu menyelesaikan masalah inti yaitu status guru honorer yang ingin diangkat menjadi ASN.

Harapannya, konsep “Marketplace Guru” dapat menjadi solusi yang efektif dan memberikan manfaat nyata bagi pendidikan di Indonesia. Namun, perlu dipastikan bahwa konsep ini tidak hanya mengatasi masalah rekrutmen guru, tetapi juga memberikan jaminan kualitas, keadilan, dan kesetaraan dalam sistem pendidikan.

Tags: ASNGuru MalangMarketplace Guru
SendShareShare
Syahiduz Zaman

Syahiduz Zaman

Related Posts

Abdillah U. Djawahir, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Raden Rahmat, Malang
Opini

Keris pada Persimpangan Pusaka dan Investasi

by Abdillah
19 April 2026
46
Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist
Opini

Malang Kota Musproh

by Wahyu Eko Setiawan
13 April 2026
88
Vicky Arief Herinadharma - Praktisi Ekonomi Kreatif | Ketua Harian ICCN
MCC

MCC Bukan Beban APBD, Tapi Mesin Masa Depan Kota Kreatif Dunia

by Kontributor
13 April 2026
165
Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist
Opini

14 Tahun SMC dan Jaringan Ghost Writer

by Wahyu Eko Setiawan
6 Maret 2026
47
Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist
Opini

Mbrujul Kota Malang

by Wahyu Eko Setiawan
4 Maret 2026
32

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar

Bakorwil Malang Perkuat Sinergi Pembangunan Kewilayahan Berkelanjutan melalui Green Forestry dan Green Economy

25 Mei 2026
4
Santripreneur Agro, PP An-Nur 1 Bululawang Kab. Malang

Kolaborasi PP An-Nur 1 dan Unira Malang Dorong Inovasi Pertanian Santri

23 Mei 2026
30
Perkuat Program ‘Jatim Cerdas’, Bakorwil Malang Gandeng Kampus ABM Gelar Kompetisi Baris-Berbaris Tingkat Jatim

Perkuat Program ‘Jatim Cerdas’, Bakorwil Malang Gandeng Kampus ABM Gelar Kompetisi Baris-Berbaris Tingkat Jatim

22 Mei 2026
9
Bunda Naik Kelas Membangun Ekosistem Wirausaha Digital Indonesia Dimulai di Kota Malang

Bunda Naik Kelas Membangun Ekosistem Wirausaha Digital Indonesia Dimulai di Kota Malang

15 Mei 2026
38
Pamerkan 28 Karya Upcycle dan Luncurkan Buku, Hotbottles Resmikan Komunitas Garbage Designer Malang

Pamerkan 28 Karya Upcycle dan Luncurkan Buku, Hotbottles Resmikan Komunitas Garbage Designer Malang

28 April 2026
27

Browse by Category

  • Agenda Even
  • Agenda Kampus
  • Agenda Sekolah
  • ASBF Malang Raya
  • Balaikota
  • Batu
  • Berita Kampus
  • Berita Sekolah
  • Bisnis
  • Blok
  • Blok Premium A
  • Blok Slider
  • Ekonomi
  • Hotel dan Resto
  • Jatim
  • Kab Malang
  • Kawan PMI
  • Kota Malang
  • Lifestyle
  • MCC
  • Nahdlatul Ulama
  • Nasional
  • Objek Wisata
  • Opini
  • Organisasi & Komunitas
  • Pekerja Migran Indonesia
  • Pelayanan Publik
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendopo
  • Perbankan
  • Pilihan Redaksi
  • Properti
  • Seni Budaya
  • Seputar Halokes
  • Seputar Inklusi
  • Seputar Kampus
  • Sosial
  • Sosok
  • Sports
  • Travel
  • Uncategorized
  • Wisata
  • World
Seputar Malang

Situs Informasi dan Berita Seputar Malang Raya

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema

No Result
View All Result
  • Home
  • Kota Malang
  • Kab Malang
  • Pendidikan
  • Opini
  • Tentang

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema