SeputarMalang.Com – Tahun Baru Hijriyah mengajak untuk menengok ke dalam diri. Tahun baru ini bukan sekadar pergantian angka dalam kalender atawa almanak, melainkan momentum perenungan tentang makna hijrah, perubahan, dan pembaruan kehidupan.
Sedikit flasback, Kalender Hijriyah bertitik awal dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.
Secara historikal, hijrah saat itu merupakan peristiwa transformasi besar yang mengubah umat Islam dari komunitas kecil yang tertindas menjadi masyarakat yang mandiri, berdaya, dan mampu membangun tatanan sosial masyarakat madani.

Dari sejarah tersebut, mari mengambil makna hijrah sesungguhnya. Adalah melampaui konteks perpindahan geografis. Hijrah merupakan perpindahan cara berpikir, cara hidup, dan cara memandang masa depan.
Hijrah adalah keberanian meninggalkan keadaan yang buruk menuju keadaan yang lebih baik. Dus, hijrah berkaitan dengan perjuangan, pengorbanan, dan pembaruan diri.
Artinya, hijrah bukan sekadar soal ekspresi simbolik dan manifestasi keberagamaan yang dinampak-nampakkan, melainkan transformasi moral.
Sebagai ekspresi lahiran wa batinan upaya memetieskan narasi hoaks menuju literasi cerdas, mereduksi kemalasan menuju produktivitas, mencuaikan kebencian menuju kasih sayang, menghindari korupsi menuju kejujuran, memencilkan egoisme menuju kepedulian sosial.
Hijrah adalah perjalanan yang tidak pernah selesai. Entitas yang bukan tujuan, melainkan proses. Karena setiap manusia harus selalu berada dalam perjalanan menuju versi dirinya yang lebih baik.
Sebagaimana air yang terus mengalir mencari muara, demikian pula kehidupan manusia yang senantiasa bergerak menuju kesempurnaan yang hanya dimiliki oleh Allah SWT.
Dan sejatinya, manusia dipandang sebagai makhluk yang harus selalu berada dalam perjalanan spiritual untuk menemukan jati diri dan mendekat kepada Sang Khalik.
Eling lan Waspada dan Kesadaran Perubahan
Dalam tradisi spiritual Jawa, prinsip menemukan jati diri ini dapat ditemukan dalam konsep eling lan waspada. Eling berarti kesadaran diri terhadap asal-usul, tujuan hidup, dan hubungan manusia dengan Sang Khalik. Sementara waspada berarti kemampuan membaca perubahan dan tantangan yang ada di sekitar.
Kedua nilai tersebut secara subtantif sejalan dengan prinsip manajemen strategis yang menuntut refleksi internal sekaligus kemampuan membaca lingkungan eksternal.
Karenanya, spiritualitas Jawa dan konsep hijrah (Islam) sama-sama mengajarkan pentingnya keseimbangan antara refleksi batin dan tindakan nyata dalam bentuk kata dan laku.
Di dunia modern, konsep hijrah memiliki relevansi yang kuat dengan teori perubahan, change management. Dalam ilmu manajemen, organisasi yang mampu bertahan bukanlah organisasi yang paling besar, melainkan yang paling adaptif terhadap perubahan lingkungan (Kotter, 1996). Pun demikian dalam konteks manajemen diri, self-management.
Pada era digital saat ini, tantangan perubahan hadir dalam bentuk yang berbeda. Revolusi teknologi, kecerdasan buatan, perubahan pola kerja, dan ketidakpastian ekonomi global menuntut individu maupun organisasi untuk terus beradaptasi.
Pada lingkungan sosial yang terdigitalisasi, tantangan terbesar era kecerdasan buatan dan otomasi bukanlah mengelola perubahan, melainkan mampu menciptakan perubahan itu sendiri.
Dalam konteks ini, spirit hijrah menjadi sungguh relevan. Karena hijrah membudayakan keberanian, meninggalkan pola lama yang tidak lagi efektif menuju cara baru yang lebih produktif dan bermakna.
Namun demikian, manajemen modern juga mengingatkan bahwa perubahan yang berhasil harus dimulai dari kesadaran internal. Dalam The 7 Habits of Highly Effective People, karya Stephen Covey (1989) menegaskan bahwa perubahan yang berkelanjutan berawal dari private victory sebelum menghasilkan public victory.
Gagasan ini selaras dengan sabdaNya dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Pesan langit tersebut menegaskan bahwa perubahan sosial dimulai dari perubahan diri sendiri. Dengan kata lain, hijrah merupakan proses self-management yang menjadi fondasi bagi perubahan yang lebih luas.
Bagi organisasi, institusi bisnis dan non-bisnis, komunitas, maupun individu, Tahun Baru Hijriyah dapat dimaknai sebagai momentum melakukan muhasabah. Sebagaimana institusi bisnis melakukan evaluasi tahunan terhadap capaian dan targetnya.
Momentum tahu baru hijriyah, sabagai vocal point untuk mengevaluasi perjalanan hidup. Apa yang perlu dipertahankan, diperbaiki, atau ditinggalkan. Dalam bahasa manajemen, proses ini dikenal sebagai continuous improvement, perbaikan berkelanjutan (Deming, 1986).
Makna hijrah tidak hanya relevan dalam ranah spiritual, tetapi juga dalam kehidupan profesional dan organisasi modern. Hijrah mengajarkan bahwa perubahan membutuhkan visi, keberanian, disiplin, dan komitmen.
Nilai inti dari hijrah adalah arketipe kehidupan manusia yang senantiasa bergerak menuju kesempurnaan yang hanya dimiliki oleh Allah SWT.
Nilai tersebut menjadi fondasi bagi individu yang tangguh, organisasi yang adaptif, dan masyarakat yang mampu menghadapi tantangan kehidupan masa depan tanpa kehilangan akar moral dan budaya. Akhirnya, Wallahu a’lam bish-shawab.









