Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
  • Beranda
  • Balaikota
  • Pendidikan
  • Opini
  • Hotel dan Resto
  • Tentang
No Result
View All Result
Seputar Malang
No Result
View All Result
Home Balaikota

Lengser Keprabon

Keluhuran Budaya Jawa Perihal Kepemimpinan

Wahyu Eko Setiawan by Wahyu Eko Setiawan
2 Agustus 2023
A A
0
Topeng dan Tahta

Topeng dan Tahta

2
SHARES
109
VIEWS
Bagi di WhatsappBagi di Facebook

SeputarMalang.Com – Keluhuran budaya Jawa mempunyai keyakinan sangat kuat perihal kepemimpinan. Bahwa seorang pemimpin yang telah berhasil naik tahta (jabatan/ kekuasaan) adalah orang-orang yang terpilih atas Takdir Tuhan Yang Maha Kuasa. Sesuai dengan situasi, kondisi dan tantangan jamannya masing-masing. Ada dimensi kekuatan alam semesta yang mendukungnya untuk menjadi Pemimpin. Itulah kenapa sebanyak apa pun harta yang dimiliki oleh seseorang, belum tentu bisa menjadikannya sebagai seorang Pemimpin (Penguasa). Juga sepintar dan sehebat apa pun seseorang, bahkan mempunyai banyak kesaktian diri, jika alam semesta tidak menghendaki, serta Takdir Tuhan Yang Maha Kuasa tidak merestui, maka dia tidak akan pernah terpilih menjadi seorang Pemimpin.

Maka, dalam keluhuran budaya Jawa, kepemimpinan bukan hanya soal perebutan kekuasaan. Dan kekuasaan bukan hanya soal menang-menangan. Ada unsur-unsur etika kebajikan, nilai-nilai keluhuran dan norma-norma kearifan yang mempunyai keagungan serta kesakralan khusus. Sistem demokrasi yang kita anut saat ini, telah banyak meninggalkan segi-segi keluhuran budaya Jawa tersebut. Seolah-olah, dengan sistem demokrasi yang kita anut saat ini, menjadi pemimpin hanya sekedar urusan adu kekuatan, menang-menangan lobi politik dan memberi karpet merah terhadap pemuasan nafsu syahwat berkuasa belaka.

Topeng dan Tahta
Topeng dan Tahta

Celakanya, budaya untuk saling menghormati, mengapresiasi dan menjaga martabat manusia, semakin hilang tergerus arus saling menjatuhkan, merendahkan dan bahkan menghinakan. Akankah hal-hal seperti itu yang akan terus kita lestarikan? Kebejatan dan kesesatan seperti itu yang akan terus menerus kita wariskan pada generasi yang akan datang? Semoga tidak!

Jika kita banyak membaca berbagai sejarah Para Pemimpin, pada zaman apa pun dan era sejarah apa pun, pasti mempunyai pendukung dan penentang. Pasti selalu ada pro dan kontra. Hal itu sangat wajar. Alamiah. Sunatullah. Selalu ada celah dan ruang untuk saling berbeda pemikiran, pandangan, kepentingan dan keyakinan. Tidak ada yang benar-benar sempurna di seluruh alam semesta ini, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Apalagi manusia, yang pasti mempunyai kesalahan, kekurangan dan kekhilafan. Namun justru karena semuanya itu, manusia diberikan akal dan budi pekerti, untuk terus berkembang membangun kehidupan dan peradabannya. Hingga menjadi manusia yang tercerahkan.

Kita banyak menjumpai orang-orang yang bisa lepas landas dengan baik, bahkan sangat fenomenal ketika berusaha naik menjadi pemimpin. Tetapi banyak yang gagal mendarat atau turun dengan mulus, ketika masa kepemimpinannya sudah habis. Banyak yang jatuhnya terjerembat dan tersungkur dalam kehinaan dan nista. Itulah kenapa kita bisa memahami bahwa puncak keberhasilan seorang pemimpin justru terlihat saat dirinya turun tahta. Bagaimana seorang pemimpin mampu menapaki jalan LENGSER KEPRABON? Apakah dengan sebaik-baiknya dan penuh kemuliaan? Yang dikenang sepanjang masa, dan tertulis dengan tinta emas dalam sejarah umat manusia. Ataukah justru turun jatuh dengan terjerembat dan tersungkur dalam kehinaan dan nista?

Pada tahun 2023 ini, di Kota Malang kita akan menyaksikan fenomena Lengser Keprabon dari Kepemimpinan Walikota Malang, yang akan berakhir pada tanggal 24 September 2023. Ya, sekitar 50 hari lagi. Bagaimanakah fenomena Lengser Keprabon yang akan dijalani oleh Walikota Malang dan Wakil Walikota Malang nanti pada tanggal 24 September 2023 nanti? Sangat menarik untuk kita tunggu bersama, sebagai bahan pelajaran, pengetahuan dan sumber inspirasi untuk membangun masa depan. Mengingat, pada periode Walikota Malang sebelumnya (2013 – 2018), fenomena Lengser Keprabon di Kota Malang direnggut oleh Penangkapan Walikota Malang saat itu oleh KPK, yang terseret gelombang Tsunami Politik di Kota Malang. Menjadikan peristiwa tersebut sebagai catatan kelam bagi sejarah Kota Malang.

Mentradisikan Lengser Keprabon di Kota Malang, yang disertai dengan unsur-unsur etika kebajikan, nilai-nilai keluhuran dan norma-norma kearifan yang mempunyai keagungan serta kesakralan khusus, tentu bisa kita mulai bersama-sama. Sebuah inisiatif untuk mentradisikan budaya “Rakyat Mengantar & Rakyat Menjemput” Pemimpinnya (Walikota & Wakil Walikota Malang), yang telah mengabdikan dirinya untuk memimpin dan membangun Kota Malang. Terlepas dari berbagai sudut pro dan kontra, tentu membangun tradisi dan budaya untuk saling berterima kasih, mengapresiasi, menghormati dan menjaga nilai-nilai keyakinan yang berbudi luhur, harus terus kita bangun serta kembangkan bersama-sama. Agar masa depan yang hendak kita bangun bersama-sama, dipenuhi dengan kehormatan, kemuliaan, kebajikan dan kebijaksanaan. Semoga kita bisa membangunnya. Dan ini sangat dibutuhkan kesadaran terdalam di dalam diri kita masing-masing.

Tags: Budaya JawaPemilu 2024Pilkada
SendShare2Share
Wahyu Eko Setiawan

Wahyu Eko Setiawan

Pendiri Sekolah Pancasila Pendiri Sekolah Budaya Tunggulwulung Kepala Biro Riset Komunikasi Publik Javasatu Penulis Buku Biografi Media Massa Strategist & Analist Kontak: 081 333 444 571

Related Posts

Puasa sebagai Aktivasi Nyawiji
Opini

Spiritualitas Jawa, Idul Kurban, dan Tradisi Sufistik

by Abdillah
26 Mei 2026
36
Abdillah U. Djawahir, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Raden Rahmat, Malang
Opini

Keris pada Persimpangan Pusaka dan Investasi

by Abdillah
19 April 2026
48
Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist
Opini

Malang Kota Musproh

by Wahyu Eko Setiawan
13 April 2026
92
Vicky Arief Herinadharma - Praktisi Ekonomi Kreatif | Ketua Harian ICCN
MCC

MCC Bukan Beban APBD, Tapi Mesin Masa Depan Kota Kreatif Dunia

by Kontributor
13 April 2026
170
Wahyu Eko Setiawan, SP.., Media Massa Strategist
Opini

14 Tahun SMC dan Jaringan Ghost Writer

by Wahyu Eko Setiawan
6 Maret 2026
48

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Dok. Bakorwil Malang

Kepala Bakorwil Malang Dampingi Gubernur Jatim Sidak Pasar Klojen

29 Mei 2026
7
Puasa sebagai Aktivasi Nyawiji

Spiritualitas Jawa, Idul Kurban, dan Tradisi Sufistik

26 Mei 2026
36
Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar

Bakorwil Malang Perkuat Sinergi Pembangunan Kewilayahan Berkelanjutan melalui Green Forestry dan Green Economy

25 Mei 2026
20
Santripreneur Agro, PP An-Nur 1 Bululawang Kab. Malang

Kolaborasi PP An-Nur 1 dan Unira Malang Dorong Inovasi Pertanian Santri

23 Mei 2026
32
Perkuat Program ‘Jatim Cerdas’, Bakorwil Malang Gandeng Kampus ABM Gelar Kompetisi Baris-Berbaris Tingkat Jatim

Perkuat Program ‘Jatim Cerdas’, Bakorwil Malang Gandeng Kampus ABM Gelar Kompetisi Baris-Berbaris Tingkat Jatim

22 Mei 2026
9

Browse by Category

  • Agenda Even
  • Agenda Kampus
  • Agenda Sekolah
  • ASBF Malang Raya
  • Balaikota
  • Batu
  • Berita Kampus
  • Berita Sekolah
  • Bisnis
  • Blok
  • Blok Premium A
  • Blok Slider
  • Ekonomi
  • Hotel dan Resto
  • Jatim
  • Kab Malang
  • Kawan PMI
  • Kota Malang
  • Lifestyle
  • MCC
  • Nahdlatul Ulama
  • Nasional
  • Objek Wisata
  • Opini
  • Organisasi & Komunitas
  • Pekerja Migran Indonesia
  • Pelayanan Publik
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendopo
  • Perbankan
  • Pilihan Redaksi
  • Properti
  • Seni Budaya
  • Seputar Halokes
  • Seputar Inklusi
  • Seputar Kampus
  • Sosial
  • Sosok
  • Sports
  • Travel
  • Uncategorized
  • Wisata
  • World
Seputar Malang

Situs Informasi dan Berita Seputar Malang Raya

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema

No Result
View All Result
  • Home
  • Kota Malang
  • Kab Malang
  • Pendidikan
  • Opini
  • Tentang

© 2026 Seputar Malang - Mengawal Bhumi Arema